
Hari-hari berlalu dan hari ini merupakan hari weekend. Bagi yang sudah berkeluarga, hari ini akan mereka manfaatkan untuk keluarga mereka, tapi tidak berlaku untuk Dinda. Gadis itu hanya bisa diam di rumah, tak tau apa yang mau dia lakukan untuk hari ini. Jika rebahan, sungguh dia bukan orang yang suka rebahan, apalagi untuk sehari-hari ini. Gadis itu tidak memiliki teman hanya satu sahabat saja yang dia punya yaitu Fatimah
“Apa yang harus kulakukan hari ini ya..!”
“Dinda, Dinda kamu ini selalu bingung jika sudah menyangkut hari libur. Orang-orang di luar sana sangat senang menyambutnya, kamu hah..”
“Biasanya Fatimah yang selalu menemaniku tapi kini telah berubah…”
“Oh Tuhan, kapan Engkau memberiku pendamping hidup yang bisa menerima ku dengan apa adanya..”
...----------------...
“Dek, hari ini kamu maunya kemana hem..” memeluk Fatimah dari belakang
“Kamu sudah bangun Mas..?”
“Iya, kamu ini enggak ajak-ajak Mas bangun..” mencium pipi sebelah kirinya Fatimah
“Habisnya Mas sih, habis subuh langsung tidur..”
“Di bangunin susah juga. Ya udah Fati tinggal saja..” lanjutnya
“Jadi gini nih akibatnya. Mas cari-cari kamu kemana-mana. Eh! Malah di sini nyiram tanaman..” masih dengan setianya memeluk Fatimah dengan penuh cinta dan kasih sayang. Fatimah hanya tersenyum saja sebagai jawabannya
“Sayang banget Dek sama tanamannya. Suami sendiri di anggurin..” menyindir
“Ya Allah Mas, cemburuan sekali..”
“Habisnya kamu sih..” Fatimah hanya geleng-geleng kepala dengan tingkah yang kekanak-kanakan sang suami
“Mas tolong lepas dulu..” mengkodekannya lewat mata dan melihat lingkaran tangan suaminya. Addry tau apa yang di maksud oleh Fatimah, tapi dia tak mau melepaskannya juga. Fatimah tak bisa memilih jalan lain. Hingga, akhirnya mereka berdua menyiram tanaman dengan berdua
“Dek, hari ini kita mau kemana..?”
“Tersrah Mas saja..”
“Kamu kenapa lesu sekali Dek..?” menghampiri sang istri yang sedang berbaring di ranjang
“Enggak tau Mas, perut Fati rasanya agak kurang enak saja sih..”
“Ya kalau gitu kita ke rumah sakit aja Dek. Biar tau apa penyebabnya..”
“Enggak ah Mas! Istirahat dengan cukup mungkin sembuh nanti..”
“Tap Dek-”
“Mas..” Addry hanya menghela nafas saja. Dia sudah tau maksud istrinya itu
“Baiklah, kita hari ini di rumah saja ya. Lain kali saja kita liburannya..” langsung di balas oleh anggukan oleh Fatimah
"Mas..” kini kepala Fatimah telah tidur di lengannya Addry yang kini juga ikut berbaring
“Iya Dek, apa..” melihat bola mata yang berwarna hitam pekat yang bisa membuatnya terhipnotis dan begitu juga dengan Fatimah yang melihat bola mata yang berwarna kecoklatan sangat indah
Cup!
Addry mencium kening Fatimah dengan penuh cinta
“Apa? omong saja Dek..” ucapnya kepada wanita yang kini menutup mata. Mungkin menikmati kecup*n yang di berikan oleh Addry tadi
__ADS_1
“Tapi Mas jangan marah ya..” kening Addry langsung berkerut. Marah untuk apa, sedangkan istrinya tak pernah buat masalah. Itulah yang di pikir oleh Addry
“Kenapa Mas harus marah DEk, sedangkan kamu enggak pernah buat masalah..” mengusap pipi putih yang mulus itu
“Ini masalah Mbak Bianca Mas..”
Deg!
Hati Addry tercubit saat mendengar nama yang sudah lama, ia lupakan. Kini malah di ungkit kembali
“Iya kenapa dengannya Dek..” ucapnya dengan tenang, agar Fatimah tak akan melihat kegelisahannya Addry
“Mbak Bianca sudah lama enggak kelihatan Mas..?”
“Semenjak kamu bercerai dengannya..” lanjutnya saat melihat Addry yang diam saja
“Apakah aku salah Mas..?”
“Eh! Bukan itu Dek. Mas enggak ada lagi perasaan untuknya..”
Addry tau kini Fatimah merasa bahwa dia hanya sebagai penghalang saja. Makanya Addry menjelaskan semua. Berawal dari sifat yang di miliki oleh Bianca yang tak pernah mau kalah apapun itu, memiliki sifat yang obsesinya terlalu tinggi dan bisa melakukan apa saja, walaupun itu menyangkut dengan nyawa.
Sungguh kini Addry menyesal, kenapa dia dulu sebegitu cintanya dengan wanita itu sampa-sampai tutup mata dan tutup telinga, saat orang-orang tak merestui mereka
“Sudah Dek, jangan terlalu di pikirkan..”
“Kasian sama Baby nya kita kalau kamu sering banyak pikiran..” sembari mengelus perut sang istri
“Tapi Mas-”
“Sudah Mas enggak mau dengar-dengar nama itulagi. Pokoknya kamu harus fokus saja sama dengan Baby nya kita. INGAT itu Dek..” Addry sengaja menekan kalimat ingat, agar Fatimah tau jika dia tak mau ada penolakan
“Paham kan Dek..”
🥀
Trtttttt
Trttttttt
Handphone nya Dinda bergetar, gadis itu langsung saja mengambil handphone nya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya itu. Seketika mata gadis itu langsung melotot saat melihat nama ‘Mas Azmi’ terterah di layar ponsel
Mas Azmi, kenapa dia menelpon ku..!
“Iya, halo ..”
“Assalamualaikum..” ucap seseorang di
seberang sana
“Waallaikumsalam..”
“Ada ap-”
“Ada ya-” ucap mereka dengan serempak. Sehingga menimbulkan Susana hening untuk keduanya, Azmi akhirnya memilih duluan membuka pembicaraan. Karena dia tau kalau Dinda tak akan mungkin dulu. Maklum wanita itulah dalam pikirannya
“Maaf buat suasana jadi canggung..”
“Ah! Enggak apa-apa Pak..”
__ADS_1
“Kamu sedang apa Din..?”
“Oh ini lagi tanam bunga Pak..”
“Oh gitu ya..”
“Iya..”
Datar bener jawabnya
“Aku enggak ganggu kamu Din..?”
Ya ganggulah Pak. Lihat sekarang ponsel ku hitam akibat tanah semua kan!
“Enggak juga kok Pak..” lain di mulut lain di hati. Ucapan Dinda yang tak sinkron
“Mungkin ganggu kamu ya. Ya sudah saya tutup ya! Assalamualaikum..”
“Wa-” Dinda langsung mengerutu bercampur kesal saat mau menjawab salam, tapi ke duluan sama bunyi sambungan yang terputus
🥀
“Mas..”
“Iya Dek, ada apa..?”
“Kayaknya enak deh kalau makan soto..”
“Kamu mau makan soto Dek..?”
“Iya Mas, sebentar Mas minta tolong dulu sama Mang Udin dulu ya..!”
“Mas..” langsung di cegat oleh Fatimah yang kini memegang lengan kekar itu
“Iya Dek, ada apalagi..?” dengan penuh kesabaran dan kelembutan Addry memperlakukan Fatimah
“Tapi aku pengennya masakan kamu sendiri Mas..” melihat Addry dengan puppy eyes nya, sehingga tak mampu seorang Addry menolak permintaan tersebut
“Hufttt…”
“Baiklah tunggu Mas sebentar ya. Mas ke bawah masaknya dulu..”
“Enggak pengennya ikut, Fati mau lihat Mas masak..”
Manja sekali istri ku ini. Pengen rasanya langsung di terkam kamunya Dek, kalau nggak ingat sama kemaunnya sang Baby..
Kini sepasang suami istri itu telah berada di dapur untuk memasak keinginan yang di mau oleh Fatimah tadi
“Tapi Dek, Mas enggak bisa masaknya..”
“Bohong kamu Mas..”
“Buktinya kamu bisa masak, malah enak sekali..”
“Iya Dek, tapi Mask an hanya bisa masak makanan yang muda di masak saja..”
“Kalau untuk masak soto, Mas belum tahu bagaimana caranya..”
“Pokoknya Fati hanya mau makan itu saja..”
__ADS_1
“Ya sudah..”
Akhirnya pria tampan tersebut, memasak hanya melalui panduan youtube. Sungguh ini sangat susah, tapi kembali lagi. Demi sang buah hati dan sang istri. Addry memasaknya walaupun itu susah baginya