
Satu Minggu setelah selesai acara tasyakuran. Kini Fatimah merasa hidupnya sangat-sangat indah dan penuh banyak kasih sayang yang di berikan oleh orang sekitarnya. Terutama sang suami Addry, pria itu memperlakukan Fatimah dengan penuh rasa cinta dan sayang. Kadang tak segan dia yang langsung turun tangan, jika Fatimah ingin sesuatu yang di luar kehendaknya
"Mas, aku sudah kenyang.." menutup mulut tak ingin lagi makan yang masih di sodorkan oleh Addry di depan mulut Fatimah
"Lagi Dek, dikit lagi ya..!"
Fatimah masih tak mau membukakan mulutnya dan gelengan kepalanya semakin kencang. Menolak yang ingin di berikan oleh Addry
Tak taukah mereka berdua, jika badai besar akan di mulai. Mereka merasa jika kini hidup Addry dan Fatimah sudah lepas dari masalah. Ternyata itu hanya khayalan saja
"Dek, Mas mau ke kantor dulu ya.."
"Ya, hari ini kan weekend Mas. Masa iya, kamu masih kerja.." merenggut
Lantas Addry tersenyum melihat Fatimah yang seakan tak mau melepasnya
"Ke kantor bukan berarti untuk kerja Dek.."
"Terus apa coba kalau bukan untuk kerja mending enggak usah kan..!"
"Mas ke kantor, karena ada hal penting yang ingin di periksa. Lagian Mas cuma mau ambil berkasnya aja. Nanti periksa ya di sini.."
"Boleh ya..?" Lama Fatimah menjawab, akhirnya wanita itu menyetujui perkataan Addry tadi
"Tapi ada syaratnya ya..!"
Addry lagi-lagi di buat tersenyum oleh Fatimah. Addry merasa sekarang seperti membujuk anak kecil saja tiap dia ingin berpergian
"Apa..?"
"Aku mau Mas nanti sebelum pulang beli rujak ya untuk ku.." dengan tatapan memohon Fatimah tampilkan untuk Addry, agar suaminya mau menuruti permintaannya ini
"Huh! Mas kira apa tadi.." ledeknya
"Ih Mas! Mau enggak..?"
"Iya-iya mau apa sih yang enggak buat kamu Dek.."
"Ya sudah sana pergi.." seakan seperti pepatasa Addry merasa seperti 'Habis manis sepa di buang' begitulah pikir pria itu
"Baiklah Mas berangkat ya Dek.." di balas anggukan kepala oleh Fatimah
*****
"Bagaimana Tom.."
Addry memang sudah curiga karena proses pembuatan kafe miliknya itu sangat berjalan lambat. Padahal tukang kulinya sangat banyak. Ternyata benar ada sesuatu di balik berjalannya proyek ini
"Ada yang main-main dengan semua ini Tuan.."
"Maksud kamu ada campur tangan dari orang lain..?"
Lantas Tomi dengan cepat menjawabnya dengan anggukan, Addry mengepalkan kedua tangannya dia merasa ada musuh yang terus mengintai dan ingin menjatuhkannya
Bunyi ponsel mengalikan Addry dari masalah sejenak membuat pria itu langsung mengangkat telpon yang tertera nama sang Mama di layar ponselnya
"Iya halo.."
"Assalamualaikum Nak.."
"Waalaikumsalam Ma, ada apa Ma..?"
"Mama mau ke rumah kamu Nak. Bisa enggak kamu jemput..?"
"Maaf Ma, Addry enggak bisa jemput Mama. Addry lagi ada kerjaan di luar.." memberikan penjelasan kepada sang Mama agar beliau tidak tersinggung karena tak bisa menyempitnya
"Oh, ya sudah nanti Mama ke sana ya..!"
"Iya Ma, Fatimah pasti senang kalau Mama main ke rumah.." tersenyum membayangkan bagaimana reaksi wanitanya jika Mamanya datang ke rumah nanti.
Uhh jadi rindu wajah istriku
__ADS_1
"Iyalah menantu Mama pasti senang menyambut Mama.." Addry memutar bola mata dengan malas
"Lagian kamu sih! Istri hamil masih kerja di hari libur.."
"Ya mau bagaimana lagi Ma.."
"Nanti kalau usia kandungannya sudah besar. Kamu harus cuti kerja.."
"Iya-iya Ma.."
"Mama sudah hubungi Fatimah belum Ma..?" Lanjutnya
"Tadi Mama sudah huhungi, tapi enggak di angkat.."
"Mungkin lagi enggak di pegangnya kali Ma.."
"Ya sudah Mama mau berangkat nemui mantu Mama dulu, assalamualaikum.."
"Iya Ma, hati-hati. Waalaikumsalam.." panggilan berakhir
Addry kembali fokus memeriksa semua data ternyata kembali di temukan ada penggelapan dana. Kini Addry berjanji akan segera menangkap orang itu, dia yakin jika orang ini pasti orang yang ada di balik kerugiannya di kantornya kemaren itu
...🥀🥀🥀🥀🥀...
Kedua insan yang baru-baru ini menjadi sepasang kekasih. Tak pernah luput dari senyum yang ceria, apalagi hari ini merupakan hari weekend. Mereka memanfaatkannya untuk menghabiskan waktu untuk jalan-jalan dan menikmati cayaha terbenamnya matahari
"Kita mau ke mana Mas..?" Tanya Dinda yang baru saja masuk ke dalam mobil
"Ke mana saja, asal bisa membuat hati mu senang.." dengan tersenyum mempesona siapa saja yang melihatnya
Jujur sebenarnya Azmi belum sepenuhnya yakin jika dia sudah mencintai Dinda, tapi pria itu merasa jika di dekat Dinda dia merasa nyaman. Entahlah pikirnya mungkin berjalannya waktu, dia bisa jatuh cinta juga dengan Dinda
"Oke kita ke restoran dulu ya, pasti belum makan kan..?"
Tunjuk ya setelah selesai memasang seatbell sedangkan Dinda hanya menjawabnya dengan cengengesan. Menandakan jika yang di katakan oleh Azmi itu benar
Mereka berdua pun meluncur menuju restoran yang sering mereka jumpai akhir-akhir ini
"Mau pesan Din..?"
"Aku makan pasta aja deh sama minuman Thai Tae..."
"Oke.."
Setelah pelayan tersebut pergi, Azmi bertanya kepada Dinda
"Kamu yakin mau makan pasta Din kan katanya belum makan..?"
"Kenapa enggak beli yang agak mengenyangkan lagi, nasi kek.."
Inilah yang Dinda suka, walau tidak ada panggilan sayang, tapi Azmi selalu perhatian kepadanya dari urusan makan dan lain-lain
"Enggak Mas, aku lagi pengen aja makan pasta.." jawabnya dengan lembut, Azmi pria itu hanya geleng-geleng kepala saja
*****
Fatimah turun ke bawah menuju lemari pendingin
"Masya Allah, ternyata sudah habis.." ucapnya dengan kecewa melihat isi di dalamnya tak ada lagi yang diinginkannya
"Cari apa Non..?" tanya Bibi Sum saat melihat muka Nyonya nya seperti kecewa
"Fati ingin makan es krim Bi, ternyata sudah habis.."
"Bibi belikan ya Non.."
"Enggak usah Bi. Biar Fati saja.."
"Nanti Non nya capek, biar Bibi saja ya..!"
Entahlah Bibi Sum merasa akan ada sesuatu yang menimpah keluarga ini, tapi perasaan khawatir itu langsung di buang jauh-jauh oleh sang Bibi. Karena Fatimah masih kukuh dengan pendiriannya Bibi Sum tak bisa lagi memaksanya. Dia hanya berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa nantinya
__ADS_1
"Eh, mang Diman..?" Bibi Sum terkejut saat melihat mang Diman yang sibuk memasak air untuk membuat kopi untuknya
"Kenapa Bi, terkejut sekali..?"
"Mang Diman enggak menemani Nona Fatimah pergi..?"
"Enggak Bi emangnya neng Fati kemana Bi..?"
"Tapi tadi saya enggak lihat neng Fati lewat.."
"Nona katanya mau ke mini market untuk beli es krim.."
"Aduh berarti Nona Fati bawah mobil sendiri.."
"Mang Diman pasti lagi tidur kali enggak lihat.." lelaki itu hanya tersenyum sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal
Di Mini Market
Fatimah tersenyum saat bisa mendapatkan es krim yang dia mau. Tinggal saatnya dia bawa ke kasir untuk membayar belanjaannya. Setelah selesai, wanita itu langsung melajukan mobil untuk segera pulang ke rumah. Dia tak sabar untuk menikmati belanjaannya tadi
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Bibi Sum bernapas lega saat melihat Nyonya pulang dengan selamat. Tadi dia merasa khawatir, apalagi tadi Tuannya yaitu Addry menelpon Bibi Sum dan menanyakan kemana Fatimah pergi karena tadi saking senangnya. Fatimah sampai lupa membawa ponsel miliknya
"Kenapa Bi..?"
"Tadi Non, Tuan menelpon saya dan menanyakan Non kemana karena tadi Tuan telpon tapi Non enggak angkat.."
"Astaghfirullah, Fati lupa Bi, ponselnya enggak Fati bawa dan tadi enggak sempat lagi minta izin usah kebelet ingin makan ini.." membawa piring yang sudah berisi es ke meja makan
"Ayo Bi, makan es krim dulu sama Fati.."
" Iya Non saja yang makan kan yang ngidam Non bukan Bibi.." ucap Bibi Sum bercanda
"Bibi ke belakang dulu ya Non.."
Kini waktu sudah malam, tapi suaminya belum juga pulang. Menambah ke khawatiran Fatimah. Setelah selesai shalat isya, Fatimah turun ke bawah. Dia memilih menunggu Addry di ruang tamu saja. Agar memudahkannya menyambut suaminya nanti
"Non mau Bibi buatkan teh hangat..?"
"Enggak usah Bi, Fati hanya ingin menunggu Mas Addry saja.."
"Bibi mending istirahat saja deh..!" Fatimah kasian melihat Bibi Sum yang seharian bekerja terus
"Sudah Bi, Fati juga akan beristirahat sebentar lagi kalau Mas Addry belum pulang juga.."
Akhirnya Bibi Sum memilih istirahat sebenarnya dia juga merasa tidak enak badan hari ini
Benar saja tak lama kemudian suara deru mobil pun berbunyi memasuki perkarangan rumah. Membuat Fatimah melebarkan senyuman manisnya, dia dengan tak sabaran pun berlari kecil untuk menyambut Addry
Pintu pun terbuka dan
Plak
Kedua tamparan pun di wajahnya. Perih, pedih dan terasa panas itulah yang terasa oleh Fatimah. Seketika air matanya pun jatuh dia tak tau apa penyebabnya. Sehingga membuat Addry menampar dirinya
"Ma-as.." dengan terbata-bata dan deraian air mata, Fatimah memandang Addry dengan tangan masih memegang pipinya yang terasah panas itu
Kilatan marah dan tatapan tajam pun Addry perlihatkan kepada Fatimah membuat sang wanita ketakutan sekaligus bingung dengan keadaan, apalagi melihat melihat Tomi sang asisten suaminya itu memandang dia dengan tatapan iba
"Ma-as Fati sebenarnya salah apa ..?"
"KAU DASAR WANITA TAK TAU DIRI..."
Hari ini Author agak panjang buat ceritanya karena mungkin Author libur lagi. Hari weekend 🤭, tapi Author harap kalian tinggalkan cinta kalian ya untuk Author
Author tunggu Like, Vote and coment kalian.
Terimakasih yang sudah menyumbang ya dengan penuh cinta untuk mendukung karya Author..🥰🥺 Author terjatuh deh. Maaf ya jika Author lebay. Tapi enggak apa-apa kan lebay dikit-dikit 🤣
__ADS_1
Salam hangat dari Author Sya❤️
Oh ya follow Author juga ya. Duh banyak bener maunya Author hehe😜👋