
Hari ini merupakan hari Minggu. Dinda bingung mau kemana. Tidak mungkin jika dia ngajak Fatimah jalan-jalan, sekarang kan sahabatnya itu merupakan ibu rumah tangga. Jadi tak mungkin baginya
"Huh huh...." nafas Dinda naik turun
Ya hari ini, setelah selesai shalat subuh tadi. Dinda lebih memilih joging dan kini dia sedang istirahat sebentar. Kebetulan tempatnya istirahat adalah taman anak-anak. Jadi Dinda sempat terlena melihat anak-anak kecil yang bermain dan tertawa tanpa beban. Tak lama kemudian dia pun ingat kepada orang tuanya
"Masya Allah, selama ini ya aku disini. Wah wah!" ucapnya tak percaya sudah setengah jam dia ngelamun melihat anak-anak kecil bermain, saking asiknya
Akhirnya Dinda melanjutkan larinya menuju rumahnya. Sesampai di sana di istirahat sebentar untuk merendahkan keringat yang membasahi badannya tadi
Di Paris
"Félicitations monsieur, votre amoureux a maintenant beaucoup progressé.." (Selamat tuan, kekasih anda kini sudah banyak menimbulkan perkembangannya). Ucap Dokter yang menangani Bianca. Kini dia menjabat tangan Pram, menyampaikan kabar gembira kepada keluarga pasiennya
"Vraiment docteur ?.." (Benarkah Dok?) Ucap Pram merasa tak percaya bercampur gembira saat mendengar kabar yang sudah lama dia nanti-nanti
"oui monsieur c'est un miracle. peut-être que mme bianca a une raison de lui remonter le moral..." (Iya tuan ini merupakan suatu keajaiban. Mungkin nyonya Bianca memiliki suatu alasan yang dapat menjadi semangatnya). Jelas sang Dokter
"ok docteur, merci alors. je suis désolé.." (Baiklah dok, terimakasih kalau begitu. Saya permisi). Pram berjalan menuju ruang rawatnya Bianca. Di sana dia sudah dapat melihat apa yang dikerjakan oleh sang kekasihnya
"Hai..."
Bianca sudah tau siapa yang menyapanya itu. Dia langsung mendongakkan kepalanya ya
"Eh, honey..." jawabnya dengan nada manja, Pram menghampiri Bianca yang kini tersenyum manis kepadanya
"Kenapa..?" tanya Pram bingung karena melihat ekspresi kekasihnya kini telah berubah
"Suntuk...!"
"Ya sudah, kita jalan dulu yuk..!" ajak Pram, Bianca langsung menganggukkan kepalanya
Kini mereka telah jalan-jalan di taman rumah sakit yang luas. Akhirnya Bianca sudah bisa menghirup udara segar yang telah lama tak ia temui. Akibat terlalu lama mendekam di dalam ruang perawat untuknya
Akhirnya!
🍃
"Mas!.."
"Iya yang, kenapa sih panggil mas. Padahal kan mas disini..." masih sibuk
"Ih! Geli tau..."
"Geli apa..?"
"Mas sengaja ya, ha ha ha..."
"Mas, Fati mau kencing..." dan benar saja Addry langsung memberhentikan perbuatannya yang setia menggelitiknya tadi
Fatimah langsung tersenyum samar, karena alasannya tadi. Bisa memberhentikan perbuatan nakal sang suami
"Katanya mau kencing..?" tanya Addry saat melihat istrinya yang sudah memegang handle pintu
__ADS_1
"Enggak jadi mas, Fati mau buat susu dulu.."
"Mas mau Fati buatkan kopi atau teh..?"
"Teh saja dek.."
"Baik mas.."
"Masak apa BI..." tanya Fatimah, sebenarnya dia malu karena bangunnya kesiangan. Ya walaupun disini dia merupakan majikan. Tapi tetap saja menurutnya tak enak
"Eh! Nona bibi masak bubur kacang hijau.." masih sibuk mengaduk bubur
"Wah! Enak itu.." mengambil tempat wadah penyimpanan susu hamil untuknya
"Sini non, biar Bibi saja yang membuatnya.." berdiri didepan Fatimah untuk mengambil ahli
"Enggak usah BI, mending Bibi kerjakan saja yang bibi buat tadi.."
"Biar Fati saja bi. Ini nggak berat kok.." memberi penjelasan agar bibi Sum tak merasa enak hati kepadanya dengan berat hati. Akhirnya Bibi Sum pun melanjutkan pekerjaannya
"BI, Fati naik keatas lagi ya.."sambil membawa nampan yang sudah ada susu hamil dan teh kesukaan suaminya
"Iya Non..."
Kini Fatimah berjalan menaiki anak tangga ya walaupun susah karena kehamilannya kini sudah 5 bulanan dan perutnya sangat besar dibandingkan kebanyakan ibu-ibu hamil pada umumnya
"Mas!.." Fatimah bingung saat melihat suaminya yang telah berganti pakaian menggunakan kaos putih dan celana pendek berwarna hitam
"Kenapa dek, tampan ya. Ya iyalah mas sudah tau kalau mas ini memang tampan dari dulu..." dengan penuh percaya diri
"Mari mas kita minum ini dulu.."
"Emangnya mas mau kemana...?" tanya Fatimah
"Mas mau mindahin barang-barang kita kebawah dek.."
"Lah! Kenapa mas..?" Fatimah bingung emangnya mereka mau kemana itulah dalam pikirannya saat ini. Addry langsung tersenyum saat melihat wajah bingung istrinya ini
"Mas mau kita pindah kamar dek.."
"Kenapa mas, nggak betah lagi ya di kamar ini..?" sekali lagi bertanya
"Enggaklah, tapi mas khawatir sama kamu dan anak kita dek. Lihat kamu pasti susah kan naik tangga dengan membawa ini.." mendekat mengelus perut sang istri
"Iya sih mas, tapi kan ini memang sudah kodratnya wanita mas..."
"Iya dek, mas tau. Tapi mas nggak mau membuatmu tambah kesusahan. Apalagi kamu selalu melayani dengan sangat baik dan mas nggak mau tambah membuat mu susah.." Fatimah merasa terharu mendengarnya
"Subhanallah, suamiku. Sungguh kamu sangat perhatian deh. " tersenyum manis
"Dan istriku juga. Sangat baik dan Sholehah. Makin cantik saja kalau senyum.."
🍃
__ADS_1
Saat ingin pulang ke rumahnya. Dinda langsung melotot melihat Azmi yang baru saja pulang dari masjid
"Aduh! Ada mas Azmi lagi..."
"Eh, kenapa dia ada masjid ini kan jauh dari rumahnya..." tanyanya dengan diri sendiri. Ya walaupun masjid ini agak lumayan jauh juga dari rumahnya
"Enggak mungkin kan, mau nemuin aku. He he, sok kepedean kamu Din..."
"Hai pak, Assalamualaikum.."
Azmi yang saat ini mau membukakan pintu langsung melihat kearah belakang untuk mengetahui siapa yang menyapanya ini
"Eh! Kamu Din..." Terkejut, melihat penampilan Dinda yang sudah basah dengan keringat
"Orang itu jawab salam dulu pak.."
"Ah! Iya assalamualaikum..."
Dinda hanya menggelengkan kepalanya, karena Azmi mengucap salam kembali
"Waalaikumsalam pak.."
"Eh ngomong-ngomong, bapak kenapa shalatnya disini..?"
"Emang ada larangannya gitu..?" kembali bertanya
"Ah! Bapak kenapa ngeselin sih.." ucapnya dengan kesal lantas saat melihat wajah kesal bercampur cemberut yang ditampakkan oleh Dinda membuat Azmi yang masih bersedih kembali tertawa lepas
Ah tampannya! Tapi hanya bisa mengagumi saja heh
"Kamu habis joging Din?"
"Iya pak, cari keringat dulu. Apalagi diwaktu libur ini.."
"Oh..."
"Ya sudah ayo, aku antar..."
"Enggak deh pak, sudah dekat ini.." tunjuk ya
"Sudah jangan bantah ayo!"
Akhirnya, Dinda tak bisa lagi menolaknya karena. Azmi langsung menarik bajunya agar Dinda masuk ke mobilnya
🍃
"Mang Diman...!" Panggil Addry sangat kencang. Hingga membuat Mang Diman langsung berlari menghampiri majikannya
"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu..?"
"Eh! Bapak kayak pelayan hotel saja.." candanya karena mang Diman saat ini sangat-sangat segan kepadanya
"Jangan kaku gitu mang..."
__ADS_1
"Ya sudah, mang Diman bisa nggak bantu saya..?"