
“Hai, assalamu'alaikum..” sapa Fatimah kepada Dinda yang sibuk dengan ponsel sembari tersenyum-senyum
Bahkan kehadiran Fatimah saja dia tak sadar. Walau tadi wanita itu menguapkan salam, tak membuat kesadaran Dinda ada didalam tubuhnya
“Baiklah kalau begitu aku balik saja daripada disini tidak di anggap..!” ucapnya dengan sedikit keras dan beranjak dari duduknya
“Eh! Mau kemana Fati, baru sampai kok mau pulang saja..!”
Dinda langsung berdiri dan menuntun Fatimah untuk duduk kembali. Wajah Fatimah agak cemberut karena kejadian barusan
“Aduh maaf deh! Tadi aku habis balas chat dari Mas Azmi. Maaf ya Fat, pleace..”
Dinda memohon dengan mengatup kedua telapak tangannya dan membuat puppy eyes, agar Fatimah luluh dengannya
“Sudah-sudah, mending langsung saja kamu katakan. Kenapa secepat itu kamu menikah Din..?” ucapnya dengan nada khawatir
“Apa kamu enggak mau mikir-mikir dulu..?”
Sungguh Fatimah merasa khawatir dengan sahabatnya itu karena dia takut. Kejadian yang menimpanya dulu takut terulang dengan sahabatnya ini, tapi jika dilihat Azmi tak seburuk itu
Dilihat dari tata karma dan prilakunya yang begitu sopan itu dapat menunjukkan kalau dia adalah pria baik, tapi tidak salahnya kan. Jika dia merasa khawatir, apalagi Dinda hanya anak yatim piatu. Cuma dia dan keluarganya lah yang Dinda miliki di dunia ini
“Fati, kamu percaya kan sama aku! Aku yakin kalau Mas Azmi tak akan berbuat hal-hal yang buruk kepada ku..” ucapnya dengan menggenggam tangan Fatimah, dia tau apa yang membuat sahabatnya itu khawatir
__ADS_1
“Tapi-”
“Baiklah, kuharap kamu tidak akan pernah mengalami apa yang pernah ku alami Din..”
Menghelah nafas dengan kasar, akhirnya Fatimah merestui perkataan dari Dinda. Dia berdoa semoga Dinda selalu bahagia dengan pilihannya itu
“Terima kasih Fati, kamu memang sahabatku yang paling terbaik pokoknya..” ucapnya dan langsung menghampiri Fatimah dan menubrub langsung tubuh itu. Memeluknya dengan erat
“Apa semuanya sudah kalian rencanakan untuk keperluan nanti..!”
“Iya Fati, semuanya sudah Mas Azmi selesaikan. Tinggal kami menikah saja, entahlah kapan pria itu merencanakan semuanya..!” ucapnya dengan terkekeh mengingat kejadian dimana Azmi melamarnya dan langsung menentukan tanggal pernikahan mereka yang begitu cepat
“Haduh, ini nih kalau baru mau jadi pengantin baru. Bunga-bunganya baru mau mekar..” ledeknya membuat tawa Dinda langsung pecah mendengarnya
Fatimah menggaruk-garuk jarinya. Dia merasa malu jika mengatakan kalau dia juga tak jauh beda dengan Dinda karena Addry juga mengajaknya untuk menikah cepat juga
“Hei, kenapa malah bengong sih Fati! Aku bertanya bagaimana hem..?” ucapnya dengan menaik turunkan alisnya kearah Fatimah
“Sama seperti dirimu..!” ucapnya dengan lirih, tapi masih dapat di dengar oleh Dinda
“Apa..!”
*
__ADS_1
*
*
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..” jawab orang didalam
“Eh! Nak Addry, masuk Nak..!” ajak Bunda mengajak Addry untuk masuk kedalam rumah dan menyuruhnya untuk duduk di sofa yang terletak di ruang tamu
“Fatimah sama Shaki. Ada Bun..?” ucapnya tanpa basa-basi membuat Bunda geleng-geleng kepala melihat Addry yang seperti orang kebelet saja
Harus cepat dinikahkan ini pikir Bunda Lisa. Takut nanti mereka melakukan hal yang tidak-tidak. Ya walaupun mereka sudah dewasa, tapi justru begitulah. Apalagi status mereka dulu pernah membina rumah tangga, jadi dapat dipastikan nanti ada yang khilaf
“Fatimahnya tadi izin keluar Nak kalau Shaki masih ada di dalam kamar Fatimah habis minum susu yang Fatimah tinggalakan tadi..!” jelas Bunda
“Oh, Ayah mana Bun..?” Tanya Addry kembali, jujur rumah Bunda terasa sangat sepi. Mungkin semua orang banyak diluar rumah pikirnya
“Oh, ada kok di ruang kerja Nak..”
Pembicaraan mereka terhenti saat seorang ART membawa minuman dingin dan sedikit cemilan untuk pendampingnya sesuai dengan hari yang begitu cerah dan panas
Jangan lupa like, komen dan vote nya ya manteman 😍
__ADS_1