Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 89 "Teman Baru"


__ADS_3

...🌻 Happy Reading 🌻...


Fatimah duduk di kursi yang telah di sediakan oleh pihak taman yang letaknya tepat dibelakang masjid. Fatimah meneteskan air matanya melihat ke depan


Rasa tak percaya akan yang dia ucapkan tadi. Fatimah berpikir semudah itu kah dirinya mengucapkan kata keramat yang sangat di takuti oleh setiap orang yang berumah tangga


*Mas, apakah begitu mudahnya dirimu berpaling dariku. Hanya sebentar dirimu ku tinggalkan membuat engkau melakukan hal yang tidak senonoh dengan orang lain tepatnya mantan istrimu


Jika kau tak ingin lagi denganku. Seharusnya katakan baik-baik, pasti aku terima. Ku harap kamu bahagia Mas, walaupun disini aku terluka*


Fatimah menangis sangat kencang meluapkan emosinya yang meledak-ledak di dalam hatinya. Untung saja suasana di sana masih sepi karena belum masuk waktu shalat


"Sudah nangisnya," ucap seseorang yang berada di belakangnya. Fatimah tidak kenal dengan suara ini


Mata Fatimah membulat, dia tak percaya akan bertemu kembali dengan pria yang ada di depannya ini


"Ini ambil untuk lap ingus," ledeknya


"Tidak, terima kasih" tolaknya tidak menerima tisu yang telah di sodorkan oleh sang pria


"Apakah dalam Islam boleh menolak pemberian seseorang jika itu baik untuk dirinya sendiri !" sindirnya


Kemudian pria tampan itu duduk tepat di sebelah Fatimah membuat Fatimah bergeser menjauh. Meskipun mereka sudah agak jauh jaraknya


"Masih enggak mau ya! Pegal nih tangan pegang tisu," dengan berat hati wanita berjilbab itupun mengambil tisu yang masih di pegang oleh pria tadi


"Terima kasih," ucapnya begitu cepat


Senyum pria tadi langsung menebar, mendengar ucapan terima kasih bari wanita yang sudah lama di kagumi nya


"Enggak shalat ?" tanyanya kepada Fatimah yang masih sibuk mengelap ingus


"Lagi enggak bisa, anda kenapa tak shalat ?"


"Hey! Tuan Wiliam ?" panggil Fatimah karena Wiliam tak menjawab pertanyaannya malah asik melihat pemandangan yang ada di depan

__ADS_1


"Aku non Muslim," ucapnya dengan santai


"Ah! Maaf," Fatimah merasa tak enak hati kepada Wiliam. Benar dia tak tau jika pria yang ada di depannya ini adalah non Muslim


"Ha ha, lucu sekali. Kenapa harus minta maaf segala kan memang kenyataannya,"


Tak terasa jam pun cepat berlalu. Ternyata bertemu dengan Wiliam tak seburuk yang Fatimah bayangkan. Mereka bercanda tawa, tapi masih ingat akan batasan masing-masing. Seperti halnya duduk, Fatimah di ujung kanan dan Wiliam di ujung kiri


"Sudah sore Tuan, saya pulang dulu ya !"


Fatimah beranjak dari tempat duduk, tapi di hentikan oleh Wiliam membuatnya terpaksa berhenti untuk mendengar apa yang akan di katakan oleh pria tampan itu kepadanya


"Ada apa Tuan ?" ucapnya mengerutkan alisnya melihat Wiliam seperti orang bingung


"Begini !"


"Tolang jangan panggil saya dengan sebutan Tuan dong, berasa kayak orang tua tau !" ucapnya


"Kita itu seumuran Mah, jadi panggil senyaman nya saja ya !" ucapnya memelas agar Fatimah mengikuti apa yang dia minta tadi


"Emangnya umur mu berapa ?"


"Nanti, malah tua an aku !" lanjutnya


"Umurku 22 tahun"


Melihat Fatimah yang sedang memikirkan sesuatu panggilan untuknya membuat Wiliam begitu senang


"Baiklah, aku panggil Wiliam aja ya !" tapi setelah mendengar, cuma nama saja yang di ucapkan Fatimah membuatnya langsung cemberut


"Enggak ada manis-manisnya gitu !" menggoda Fatimah dengan menaik turunkan alisnya


"Ya sudah deh, tapi aku boleh enggak minta nomor hp ?"


"Maaf Will, kalau yang itu saya enggak bisa kasih," tolaknya secara halus, karena Fatimah tak mau menyimpan ataupun memberikan nomornya kepada siapapun kecuali suaminya

__ADS_1


*


*


*


Fatimah seakan lupa dengan masalahnya tadi, karena pembawaan yang Wiliam yang begitu ceria membuatnya juga ikut merasa senang


"Assalamu'alaikum," salamnya sebelum masuk


"Waalaikumsalam," jawab yang di dalam


Fatimah melangkahkan kakinya dan dapat dilihat siapa saja yang ada di dalam ruangan tamu


"Mas Addry," kagetnya saat melihat suaminya ada di sini


"Baiklah Ayah dan Bunda pergi dulu ya !" pamit Ayah mengajak Bunda yang sepertinya enggan untuk beranjak dari duduknya


Setelah Ayah dan Bunda Lisa pergi, Addry memberanikan diri untuk berbicara kepada istrinya


"Dek !" panggil Addry kepada Fatimah yang masih mematung di dekat pintu


"Mas minta maaf Dek, Mas bisa jelasin kok,"


"Enggak usah Mas, semuanya sudah jelas " jawabnya begitu tegas


"Mas mohon Dek, jangan cerai dari Mas ya" berlutut di depan Fatimah memohon supaya Fatimah bisa memikirkan kembali apa yang di ucapkan ya tadi siang


"Maaf kalau yang itu, aku enggak bisa menariknya lagi"


Deg !


Terima kasih untuk kalian yang sudah nyempetin membaca karya ku yang masih acak kadul ini😁. Jangan lupa Like, Vote and coment nya ya. Agar lebih memacu semangat aku dalam mengupdate ceritanya πŸ™


Salam ❀️

__ADS_1


__ADS_2