
Tok....
Tok....
"Permisi, Tuan.."
"Kenapa pintunya tak terkunci ya !" tanya Tomi
"Entahlah Pak dari tadi Tuan enggak turun-turun ke bawah. Padahal ini sudah jam delapan," jelas BI Sum yang baru dini hari tadi sampai di rumah Addry sejak dari kampungnya
Tomi hanya menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Bi Sum
Krek....
Pintu terbuka, Tomi sendiri yang masuk di dalam sana hanya menampilkan warna gelap saja
Bagaimana tidak Addry mematikan lampu dan menutup semua akses, agar dia selalu dalam kegelapan untuk sementara waktu. Menyesali semua perbuatannya yang baru saja dia petik kemarin
"Tuan," panggil Tomi sedikit berbisik takut menganggu sang atasannya
Pria itu mendekati ranjang dengan memakai senter ponsel agar tak salah jalan
Kini sampailah dia di ranjang king size itu, Tomi dapat melihat, jika Tuannya masih tidur, tapi yang membuatnya curiga. Tidak biasanya atasannya itu bangun sesiang ini. Apalagi ini hari Senin dan sebentar lagi ada meeting
"Astaghfirullah lazim," ucap Tomi kaget
"Ada apa Pak," tanya Bibi tak kalah kaget, mendekati Tomi walaupun dia tak tau apa yang membuat asisten Tuannya mengucap itu
__ADS_1
"Bi, badan Tuan Addry sangat panas. Cepat panggil Dokter pribadi," perintah Tomi langsung di turutinya oleh Bibi
Tomi langsung mendekati jendela dan membuka semua gordennya dan cahaya matahari pun langsung masuk memenuhi segala sisi ruang di kamar
"Harghhh" erangan dari Addry merasa terusik oleh cahaya dan hembusan angin pagi
"Tuan, apakah masih ada yang sakit. Sebentar lagi Dokter akan datang memeriksa diri anda," jelas Tomi mendekati Addry
***
"Bagaimana Dok," tanya Tomi melihat sang dokter telah keluar dari kamar itu
"Tuan Addry mengalami demam tinggi itulah membuatnya menggigil dan sepertinya beliau dari kemarin tak makan, makanya memicu kesehatannya menurun,"
"Oh iya Tuan, obat untuk Tuan Addry sudah saya taruh di nakas meja di dalam,"
"Semuanya sudah saya beri keterangan,"
"Terima kasih Dok,"
"Baiklah Tuan,"
***
Setelah dokter itu menjauh, Tomi terdiam di tempat. Dia tau sudah delapan tahun dia menemani Addry merintis karirnya. Jadi dia tau, tidak biasanya Addry mudah demam
Pasti ada kesalahan yang dapat membuat, tubuh gagah itu lemah. Jika hanya telat makan, rasanya tidak masuk akal bagi Tomi
__ADS_1
"Pak, ini bubur sudah saya buatkan untuk Tuan.."
Tomi menerima pemberian dari Bibi Sum
"Terima kasih Bi,"
Pria itu masuk kedalam kamar atasannya agar atasannya bisa makan supaya dapat meminum obat tadi
"Tuan," menggoyangkan sedikit bahu Addry
"Makan dulu Tuan,"
Addry bangun dengan begitu lemah dan dibantu oleh Tomi, pria itu hanya bisa duduk dan bersandar di sandaran ranjang dengan pandangan ke depan
Tomi pun dengan sabaran menyuapkan demi suapan untuk Addry makan, setelah itu memberikan obatnya. Setelah dijamin aman, dia memilih berangkat langsung ke kantor. Karena dia tau jika Tuannya harus mengistirahatkan dulu tubuhnya yang masih demam tinggi itu
Tomi tak menaruh curiga, pikirnya Fatimah masih di rumah sakit. Padahal malah sebaliknya, kedua majikannya itu sudah memutuskan ikatan mereka
***
Addry kembali meneteskan air matanya, entah kenapa setelah kata talak itu terucap. Hidupnya menjadi tak karuan
Setelah di tinggal oleh Tomi, dia memilih bangkit dan menutup kembali gordennya dan kembali masuk ke dalam selimut. Dia memilih kegelapan untuk mewakili apa yang terjadi dalam hidupnya
Shakinah Barack. Satu nama yang akan menjadi korban dari perceraian ini nanti
"Ini semua salahku, jadi harus kujalani. Tak boleh di sesali Dry," ucapnya menguatkan diri sendiri
__ADS_1
"Hamba berharap Tuhan, semoga di balik semua ini ada hikmah yang akan indah pada waktunya,"
"Ayah berharap kamu tidak akan sedih dengan semua keadaan ini. Putri kecil Ayah yang malang,"