Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 12


__ADS_3

“Karena Fati masih fokus dalam mengurusi kuliahnya Fati ma. Fati ingin mengejar biar bisa dalam beberapa bulan ini bisa wisuda..”


“Sudah ma, mama ini kayak pengacara aja. Ingin sampai ke akar akarnya..” Ucap papa Hendra, mengakhiri percakapannya. Ia kasian melihat menantunya seperti terintimidasi


Merasa hari sudah petang, Papa Hendra dan Mama Mirna pun pamit undur diri


“Mama sama Papa, pulang dulu ya sayang. Nanti kapan-kapan kami main lagi kesini.. kamu juga dong main ke rumah mama ya sama Addry..” ucap Mama Mirna memeluk Fatimah dengan penuh kasih sayang


“Iya ma, nanti kalau mas Addry nya nggak sibuk. Kami berdua akan main ke situ..” saat sedang berpamitan, ada sebuah mobil yang hampir saja memasuki perkarangan rumah. Tapi setelah melihat pemandangan tersebut. Mobil itu pun melaju pergi meninggalkan rumah Fatimah dan Addry


*****


“Mas, kenapa sih kita harus pergi. Kapan sih kamu kenalkan aku sama mama dan papa kamu? Kenapa harus menghindar? Apa kamu nggak cinta sama aku?” ucap Bianca dengan emosi. Adrry pun bingung ingin menjelaskannya, kalau Bianca sedang marah pasti akan susah membujuk wanitanya itu. Benar saja tak lama kemudian, Bianca pun mengamuk


“Sayang dengar dulu penjelasan ku ini..”


“Nggak mau, mending kamu pergi dari sini. Aku mau sendiri dulu..” Bianca pun berteriak dengan kencang sambil mendorong tubuh Addry agar pergi dari apartemen mereka


Dughhh (bunyi pintu di tutup dengan kencang)


“ Ah! Ini semua Karena perempuan sialan itu. Aghhhh ” Addry pun frustasi. Jadi ia memutuskan untuk pergi ke club' sahabatnya untuk menenangkan pikiran yang membuat kepalanya seakan ingin pecah


*****


“Hei bro, tumben lo main sini lagi…” Ucap Rifki


“Gue lagi frustasi Rif..” ucap Addry sambil meneguk minuman yang memabukkan itu. Addry sangat terpukul melihat Bianca yang mengamuk dan tidak mau di damping olehnya


“Segitunya loh pusing bro!..” Rifki meledek sang sahabat yang sangat mencintai Bianca. Sampai sampai tutup mata dan telinga. Saat orang orang mengatakan hal buruk Bianca kepadanya


Saat sudah merasa lebih mabuk Addry memutuskan untuk pulang. Ia langsung menghampiri mobilnya dan berjalan dalam keadaan sempoyongan saat mengambil kunci mobil di kantong celananya. Rifki pun sangat khawatir melihat

__ADS_1


keadaan sahabatnya itu. Hingga ia memutuskan untuk mengantar Addry dulu ke rumahnya dengan selamat


Mobil pun memasuki perkarangan rumah yang bernuansa Eropa tersebut


Tok tok….


Fatimah langsung membukakan pintunya. Hari ini memang Fatimah tidur di sofa di ruangan tamu. Entah kenapa ia sangat ingin tidur di sofa saja


Ceklekk…


Pintu pun terbuka lebar menampilkan Addry dalam keadaan berantakan lantas saja Fatimah terkejut melihatnya. Sedangkan Rifki terpaku melihat gadis yang di depannya, seakan akan pesona Fatimah langsung mengikatnya. Tapi sayang, hanya suaminya lah yang tak pernah melihatnya saja merasa enggan apalagi kalau sampai terpesona dan cinta itu lebih jauh mungkin…


“Maaf mas! Mas Addry nya kenapa sampai bisa begini..” ucap Fatimah mengagetkan Rifki yang melamun tadi


“Ah! Iya maaf mbak. Kalau boleh saya masuk terlebih dahulu. Agar Addry nya bisa beristirahat?” Rifki pun agak segan melihat wanita muslimah  di depannya ini


“Ehh.. Maaf mas, mari masuk..” Fatimah pun langsung mempersilahkan Rifki untuk masuk kedalam rumah


“Sebentar mbak kalau saya boleh tau, mbak ini siapanya Addry ya..?”


“Saya istrinya mas Adrry..” Rifki pun terkejut mendengar jawaban dari Fatimah. Memang Addry dan Fatimah menikah secara hukum dan agama. Tapi mereka tidak mempublikasikan pernikahan mereka. Jadi wajar saja kalau orang lain tidak tau


“Oh begitu ya…” Rifki pun memilih mengakhiri percakapan tersebut


“Saya juga kurang tau mbak apa yang sedang ia alami..” lanjutnya. Rifki tidak ingin mengatakannya ia ingin menjaga hati gadis yang di depannya ini agar tak sakit hati apabila ia mengatakan kalau Addry sedang ada masalah dengan istrinya. Pasti akan sangat hancur hati gadis tersebut. Jadi ia lebih memilih  berbohong saja


“Ya sudah mbak, kalau begitu saya permisi dulu..”


“Iya mas terima kasih banyak atas bantuannya mas..” Rifki hanya membalasnya dengan tersenyum kearah Fatimah dan ia langsung memasuki mobilnya. Mobil pun melaju meninggalkan rumah Fatimah dan Addry. Fatimah pun langsung naik ke kamar suaminya untuk melihat keadaan suaminya


Kenapa kamu bisa begini mas? Apa yang membuatmu begitu kacau? Apa karena ku mas?Hati Fatimah berkecamuk

__ADS_1


Fatimah masuk ke kamar  suaminya lagi, setelah membawa baskom yang berisi air dan handuk kecil. Ia pun langsung melepaskan sepatu dan kemeja suaminya. Setelah itu, Fatimah langsung membersikan badan Addry yang sangat menyengat oleh minuman keras itu


Sesudah mengelap badan suaminya, Fatimah berjalan menuju lemari dan membawa baju tidur Addry. Setelah selesai memakai bajunya.  Fatimah langsung keluar. Ia bukanya tidak mau mengganti celana suaminya. Tapi ia tidak mau kena amuk lagi oleh Addry. Dulu pernah, saat baru baru menikah dengan Addry.


Suaminya pulang dalam keadaan yang sama persis seperti yang ia lihat sekarang. Karena tak tega melihatnya, Fatimah pun langsung membersikan tubuh suaminya dan mengganti pakaiannya. Tapi setelah paginya ia langsung kena amukan dari suaminya. Karena menurut Addry, Fatimah telah lancang mengganti bajunya apalagi melihat tubuhnya. Sungguh ironis nasib Fatimah kala itu. Padahal itu merupakan kewajiban istri menurutnya


“Hufftt..” Fatimah menghela nafasnya. Ia sangat bingung kapan, suaminya itu akan mencintainya. Ia berfikir ia pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia. Kalau ia dicintai suaminya


Ya Allah, hamba mohon. Jangan Engkau buat hati hamba mencintai hambahMu melebihi cintaku kepadaMu.. Aamiinn


*****


Seperti biasa Fatimah sudah memasak di dapur. Setelah selesai shalat subuh tadi. Hari ini ia akan memasak makanan suaminya. Siapa tau suaminya mau makan lagi bersama dengannya. Setelah menata makanan di atas meja. Fatimah berjalan menuju kamarnya.  Ia akan mandi terlebih dahulu sebelum membangunkan suaminya


Tok tok…


“Mas…”


“Iya..”


“Mari ke dapur mas, makan dulu. Masakannya sudah Fati siapkan..”


“Iya sebentar lagi…” Fatimah sangat senang, biasanya Addry tak akan pernah menjawab percakapannya. Kecuali deheman saja. Suaminya itu irit sekali berbicara kalau dengannya


Jangan lupa Vote Like and coment kalian.


Karena itu sangat berarti bagi Author🥺


Terimakasih karena selalu menunggu novelnya. Ya walaupun masih banyak kekurangannya. Ini karya pertamanya Author. Semoga kalian suka dan selalu dilindungi di mana pun ya!


Sekali lagi aku ucapkan terimakasih 🤗🥰

__ADS_1


Salam manis dari author. Bye bye


__ADS_2