
"Yang kok belum juga ya kamu kontraksinya..!" ucap pria itu mendekati sang istri yang begitu tenang duduk di ayunan dekat kolam renang
Wanita itu hanya menoleh sebentar, tersenyum membalas ucapan suaminya yang tak sabaran menunggu kelahiran anak kedua mereka
"Mas enggak ada kerjaan lain ya! Dari kemarin nanya-nanya itu saja! Enggak bosan Mas hehe.." jawabnya sembari terkekeh melihat wajah suaminya
"Emangnya kamu bosan Yang kalau Mas nanya itu meluluh..?" tanpa menjawab pertanyaan sang istri
"Enggak sih! Cuma sedikit risih saja! Siapa sih yang enggak sabaran nunggu si baby ini..!" seulas senyuman saat mengelus perutnya yang kian membesar itu
Ternyata, waktu sangat cepat berlalu. Tak terasa kandungan Fatimah telah memasuki bulan ke sembilan. Dirinya begitu bahagia, telah di beri kesehatan oleh Yang Kuasa, sampai saat ini tak ada yang mengkhawatirkan untuk dirinya dan juga anak dalam kandungannya itu
Apalagi sekarang, putri sulung mereka kini telah berusia 12 bulan. Berarti sudah satu tahun mereka mengakui biduknya rumah tangga yang selalu dalam keharmonisan
"Mas, jika nanti anak kita perempuan lagi. Kamu enggak akan kecewakan, kan..?"
Entah kenapa, dia sangat ingin tau. Apakah suaminya akan menerima dengan tangan terbuka untuk anaknya yang masih dalam kandungan kini
"Astaghfirullah Yang, kok nanya gitu sih. Kamu kira Mas sekejam itu. Sampai-sampai, tak mau menerimanya jika anak kedua kita kembali perempuan..?"
__ADS_1
"Dangkal sekali pemikiran kamu ke aku, Yang..!"
"Eh, jangan marah Mas. Aku bukan menuduh kamu gitu kok, cuma iseng saja nanya kayak gitu..!"
"Jangan marah dong, maafin aku ya Mas. Jika pertanyaan aku membuatmu tersinggung..!" mengelus rahang tegas sang suami yang kini di hadapannya itu
Addry mengangguk paham "Makanya lain kali, jangan seperti Yang. Bagaimana jika yang kamu tanyai bukan diriku. Bisa marah orang itu..!" ujarnya memberi nasihat pada istri cantiknya itu
"Mas.."
"Iya Yang..!" jawab Addry yang saat ini sedang duduk di sofa dalam kamar mereka dengan memangku laptop
"Masih kerja..?"
"Mas, jika kamu masih banyak kerjaan dan sangat sulit untuk bekerja dari rumah. Mas boleh kok pergi ngantor, kasian Mas Tomi. Jika selalu dirinya yang menanganin kantor seorang diri..!"
Fatimah tau, jika suaminya itu memilih kerja dari rumah karena dirinya. Bahkan, Addry sering sekali menitipkan putri sulungnya itu pada Bunda dan Ayahnya karena dulu dia sudah mencoba bekerja sembari mengasuh anaknya dan itu semua membuat suaminya kelelahan sekaligus kewalahan
Fatimah begitu sedih, apalagi sekarang melihat perkembangan anaknya yang hanya menyusu dengan dirinya berkisar umur tujuh bulan, setelah kandungan keduanya kian besar. Fatimah harus rela melepas Shakinah yang masih kecil untuk tidak lagi meminum ASI-nya
__ADS_1
Sungguh malang nasib bayi itu!
Shakinah yang masih kecil harus rela di asuh dengan nenek dan kakeknya!
Memang tak ada satupun yang membuat anak itu kekurangan, cuma hanya asi saja yang tak tercukupi
_______
Suara tawa sangat riang di dengar. Siapa saja yang mendengarnya pasti ikut tersentuh mendengar tawa bayi kecil itu. Seorang wanita paru baya dengan jilbab panjang yang menjadi ciri khasnya
Dia tak bosan-bosannya menggoda sang cucu pertama, bahkan membuat perut sakit melihat tertawa yang begitu lebar itu
"Wah, kakek sampai iri mendengarnya. Apalagi sampai enggak di sambut kayak begini..!" ucap sang kakek yang baru saja sampai. Bahkan saat dia mengucapkan salam, kedua orang yang dia cintai dan sayangi itu malah bercanda tawa di ruang tamu
Ah pantas saja, tak ada yang menjawab salam darinya! Ternyata asik bercanda tawa di ruang tamu
"Ah! Waalaikumsalam Yah, maaf enggak dengar salam darimu..!"
"Enggak apa-apa Bun, oh cucu kakek..!"
__ADS_1
"Eh! Cuci tangan dulu Yah. Habis dari luar banyak kuman loh..!"
"Aduh, akibat umur ini. Sampai lupa..!" kakek pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke dapur sesuai perintah sang istri tercinta tadi