
Gundukan tanah yang masih basah dengan bunga-bunga yang bertaburan di atasnya. Satu persatu para pelayat pulang dari sana. Kini tinggallah satu pria saja yang masih menunggu di sana
Dia menangis melihat gundukan tanah tersebut dengan duduk sembari memegang batu nisan itu
Pram, pria itu begitu sedih melihat wanita yang dulu pernah menjadi wanita yang begitu dia sayangi, tapi kini telah pergi menghadap Illahi terlebih dahulu tanpa membingkai untuk sembuh dari penyakitnya dan menjadi manusia yang bisa bertaubat di jalanNya
Pria itu saat mendapat kabar Tomi asistennya Addry yang mengatakan jika Bianca kini telah meninggal dunia. Lantas dia langsung mengurus segala keperluan yang dibutukan saat penerbangan nanti
Dia kembali ke tanah air seorang diri karena sang istri kini sedang hamil muda dan tak memungkin untuknya berpergian. Apalagi kondisi kandungannya begitu lemah
__ADS_1
Sebenarnya, Pram tak mau pergi seorang diri karena dia merasa tak tega untuk meninggalkan sang istri yang begitu pucat, tapi karena paksaan sang istri menyuruhnya untuk pulang
Akhirnya, dia pun mengikuti kemauan sang istri, ditambah dia juga sangat ingin mengucapkan kata perpisahan untuk terakhir kalinya kepada Bianca
"Assalamu'alaikum! Hai Bi, he he maaf ya. Aku main ke sini setelah kau tak ada di dunia ini. Maafkan aku yang tak pernah menyempatkan waktu hanya untuk sekedar menjenguk dirimu.."
"Aku kira kau akan segera mendapatkan jodohmu di sini. Setelah kau pamit ingin pulang ke tanah kelahiranmu ke padaku dulu, tapi ternyata kau malah membuatkan aku kejutan yang begitu mendalam bagiku.." tetesan demi tetesan air mata mengalir mengiringi setiap kata yang terucap darinya
Pram berhenti sejenak, seakan dadanya begitu sesak untuk melanjutkan kalimat yang akan dia katakan. Air mata tak lepas mengiringinya
__ADS_1
"Semoga amal ibadah dan kebaikan semasa hidup yang telah kau lakukan akan menjadi pelindungmu di sana. Aku disini hanya bisa berdoa di setiap shalatku. Maafkan aku Bi, berbahagialah kamu disana. Selamat tinggal wanita yang begitu ku cintai sampai sekarang.." ucapnya , ya walaupun tak seperti dulu
Setelah lama duduk disana. Akhirnya, Pram pun pamit pulang dari sana. Lama-lama di sana dia merasa sangat sedih karena tak akan ada habis-habisnya dosa yang selalu terbayang-bayang di dalam benak dan otaknya
Tak lama Pram meninggalkan makam itu, tiga orang dewasa pun berjalan mendekat makam yang masih basah itu
Fatimah merasa tak percaya saat melihat gundukan tanah yang masih basah di hadapannya ini dengan nama yang begitu jelas tertulis disana adalah nama mantan madunya dulu Fatimah hanya berdoa di dalam hati, dia juga ikut terpukul dengan berpulangnya Bianca
Saat mendengar kabarnya pun, kaki Fatimah serasa tak memiliki tulang. Dia tak percaya dengan yang dia dengar dari Dinda, tapi setelah melihat ini. Dia seratus persen percaya akan perkataan sang sahabat tadi
__ADS_1
"Semoga Mbak tenang di alam sana dan mendapatkan tempat yang begitu indah di SisiNya. Kami disini akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu Mbak.." ucapnya dengan pelan dan menaburkan bunga-bunga yang telah dia bawa tadi