Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 64


__ADS_3

"Bagaimana Dok keadaan istri saya..?"


Dokter tersenyum melihat Addry yang begitu khawatir kepada istrinya


"Alhamdulillah Pak, Ibu Fatimah tidak terjadi apa-apa.."


"Tapi kenapa istri saya sampai segitunya kesakitan tadi .."


"Itu seperti di akibatkan oleh kegiatan yang tiada henti Pak dan juga Ibu Fatimah baru kehamilan pertama. jadi wajar jika begitu Pak.."


"Tapi saran saya Ibu Fatimah jangan terlalu lelah. Karena masih mempengaruhi kandungan beliau.."


"Iya Dok, terima kasih Dok. apakah saya boleh menemui istri saya..?" Dokter hanya menganggukkan kepalanya saja


"Mas..." ucap Fatimah saat melihat pintu terbuka dan disana ada suaminya


"Alhamdulillah kamu enggak apa-apa Dek..." Fatimah tersenyum kecil


"Maafkan Mas ya..!"


"Loh kenapa Mas minta maaf..?"


"Ini semua kesalahannya Mas.."


"Coba Mas selalu jaga kamu, pasti enggak kayak gini.." menggenggam tangan Fatimah


"Jangan menyalakan dirimu Mas. Kamu selalu jadi suami yang siaga kok Mas..!"


"Selalu Dek..!" keduanya saling melempar senyuman, tapi senyum itu tak lama karena ada suara yang membuat mereka langsung menoleh ke arah pintu


"Din kamu masih di sini..?" melihat Dinda yang kini berjalan menghampirinya dengan di ikuti oleh Azmi


"Bagaimana Fat..?" ucapnya tanpa menjawab pertanyaan Fatimah


"Alhamdulillah enggak apa-apa kok, tadi pagi memang agak sedikit kram.."


"Kenapa enggak langsung ke rumah sakit tadi Fat, kalau memang kram..!" ucap Dinda melihat ke arah Addry yang sibuk mengupas apel


"Tadi sempat sembuh, tapi ini kembali lagi. jadi begini deh..!" Fatimah tau pasti sahabatnya ini berpikir, karena suaminya tak menolongnya. padahalkan tadi Addry sempat menawarkan pergi ke rumah sakit, tapi di tolak langsung oleh Fatimah. Ucap Fatimah di iringi tertawa


"Dek, makan ini dulu...!" Addry menyodorkan potongan apel yang dia potong tadi. Dinda dan Azmi telah pergi setelah habis Isya tadi


"Makasih Mas.." memakan potongan tersebut langsung dari tangan suami


"Dek..."


"Iya Mas..?"


"Teman kamu yang Dinda itu dekat ya dengan pria tadi..?" Addry sengaja tak menyebut nama Azmi


"Oh Mas Azmi..!" Addry diam tanpa menjawab, dia masih sibuk memotong dan mengupas buah lain untuk Fatimah


"Dinda kerja di Firma nya Mas Azmi dan sepertinya mereka sedang pendekatan deh kayaknya.." melihat sang suami tak bereaksi, Fatimah langsung memegang tangan Addry sembari melempar senyum


"Mas kenapa, cemburu...?"


"Enggak, ini di makan Dek.." kali ini menyodorkan buah anggur dan Fatimah menerimanya


"Mas, ngomong..!"


"Iya Dek.."


Fatimah tersenyum saat mendengar pengakuan sang suami

__ADS_1


"Kami cuma teman Mas, walaupun begitu aku jarang bertemu dia. Mungkin cuma beberapa kali.."


"Beneran Dek..?"


"Iya Mas, lagian kalau pergi aku kan selalu meminta izin dulu sama kamu.."


Iya, kenapa rasa cemburuku terlalu tinggi. Lagian tak mungkin istriku macam-macam, tapi tak salahkan aku laki-laki dan aku tau bahwa pria itu menyukai istriku. Dapat dilihat dari cara dia memandang istriku. Batinnya Addry


"Oh iya Mas, apakah kita boleh pulang..?" sungguh Fatimah merasa ingin muntah saat mencium bau obat yang menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya


"Kenapa Dek, kamu enggak betah di sini..?" melihat wajah Fatimah seperti menahan sesuatu


"Iya.."


"Baiklah Mas, nemuin Dokternya dulu ya..!" dibalas anggukan kepala oleh Fatimah dan Addry berjalan langsung menuju ruang Dokter yang merawat sang istri tadi. Setelah bertanya dulu dengan suster yang bertugas


"Iya Pak ada yang bisa saya bantu..?" ucap sang Dokter dengan ramah


"Ini Dok, saya mau bertanya.."


"Baiklah silahkan Pak.."


"Apakah istri saya sudah di bolehkan untuk pulang..?"


"Sebentar Pak.." ucap Dokter memeriksa catatan yang ada di buku kecilnya yang seperti di lihat mungkin catatan pasiennya


"Ibu Fatimah ya Pak..?" Addry mengangguk


"Iya boleh Pak, tidak ada hal yang serius dengan Ibu Fatimah.."


"Tapi satu saran saya.." Addry mendengar tutur kata sang Dokter, mulai dari jangan kelelahan dan jangan banyak pikiran, itulah yang di pinta oleh Dokter tadi


"Baiklah Dok, kalau begitu saya permisi.."


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


🥀🥀🥀🥀🥀


"Bagaimana Mas..?" kepada sang suami yang baru saja sampai


"Semangat sekali Dek, ingin keluar..!" ledeknya kepada Fatimah


"Iya Mas, Fati enggak kuat dengan baunya obat.." menutup hidungnya


"Iya sudah ayo.." ucap Addry setelah memastikan tidak ada yang tertinggal lagi


"Iya ayo..."


🥀🥀🥀🥀🥀


"Mas turunin Fatimah, Mas pasti capek gendong Fatimah terus.." bagaimana tidak Addry terus menggendongnya dari rumah sakit tadi sampai ke parkiran mobil dan sekarang menggendongnya kembali untuk memasuki rumah


"Sudah Dek, diam saja. Mas kuat kok.."


"Assalamualaikum BI.." ucap Fatimah kepada Bibi Sum yang membuka pintu


"Waalaikumsalam.."


"Nona kenapa..?" Bibi Sum terkejut melihat sang majikan dengan muka yang sedikit pucat


"Enggak apa-apa kok Bi.." kali ini Addry yang menjawabnya. Hingga mereka sampai di depan pintu kamarnya Addry dan Fatimah, Bibi Sum membuka langsung pintu tersebut

__ADS_1


"Terima kasih BI..."


Addry keluar dari kamarnya, dia menghampiri sang Bibi yang masih menunggu di depan pintu


"Sudah BI enggak usah khawatir. Fatimah baik-baik saja.." Addry tau apa yang membuat Bibi Sum masih di sini


"Syukurlah Tuan, tapi jika saya boleh tau. Kenapa muka Nona Fatimah pucat..?" dengan hati-hati Bibi Sum berucap kata


"Cuma kecapean aja Bi.."


"Sudah Bibi istirahat saja. Sudah malam Bi.."


"Soal Fatimah jangan di jadikan beban ya Bi .."


"Ya sudah saya kembali ke kamar lagi ya Bi.."


"Bibi juga tidurlah nanti sakit.."


Inilah yang membuat Bibi Sum betah bekerja di sini, karena majikanya menghargainya seperti tak menganggapnya seperti pembantu


...----------------...


"Mas bangun, subuh..." Fatimah menggoyangkan tubuh Addry


"Eghhhhh..." lenguhan Addry


"Subuh ya Dek.." ucapnya dengan suara khas seperti orang yang baru bangun tidur


"Iya Mas, ayo kita bersih-bersih dulu..." mereka berdua masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajiban mereka


🥀🥀🥀🥀🥀


"Mas ini bajunya udah Fati siapkan.." menunjuk baju di atas ranjang mereka


"Terima kasih istriku.." menuju walk on closed


"Sini biar Fati pasangkan.." Addry membungkuk badan agar sang istri tidak susah memasangnya


Addry memperhatikan wajah Fatimah yang kini mata indah itu masih fokus memasang dasi untuknya. Bulu mata lentik dengan bola mata hitam ditambah dengan rambut yang panjang sampai ke pinggang


"Dek.."


"Iya Mas.." mengalikan penglihatannya ke arah sang suami


"Nanti kalau selesai lahiran rambutnya potong ya..!"


"Kenapa Mas..?"


"Iya biar kamu enggak kesusahan nanti.."


"Ishh kamu ini selalu bahas itu, nanti Mas. Insyaallah.."


"Nah selesai..." kini dasi pasang Fatimah telah rapi


Cup


"Terima kasih..."


"Mas sarapan dulu kan..?"


"Iya Dek.."


"Ya sudah, Fati mandi dulu ya..!"

__ADS_1


Wanita itu membawa handuk dan berjalan menuju kamar mandi, sedangkan Addry sibuk melihat iPad nya memeriksa perkembangan perusahaannya


__ADS_2