Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 67


__ADS_3

"Hem.."


Saat mendengar deheman seseorang membuat Fatimah berbalik arah untuk melihat siapa orang itu dan ...


Kedua pasang tangan kekar lebih dahulu ketimbang Fatimah, hingga kini orang itu telah mendekapnya dari belakang membuat Fatimah tersenyum. Dia sudah tau siapa ini, dilihat dari dia memeluknya dan parfum khas milik pria yang kini dia cintai dan sayangi


"Wangi sekali Dek buat Mas tenang aja. Pakai sampo apa sih, ganti ya..?" Mengendus-endus rambut Fatimah yang masih berbalut dengan handuk kecil


"Masa sih Mas, aku enggak pernah ganti itu masih sampo lama kok.."


" Tapi beneran Dek ini wangi sekali.." kini ci***** Addry telah berpindah membuat si empu terdiam menahan sesuatu


"Ma..as"


" Ikuti saja Dek, enggak boleh nolak dosa.."


"Tapi a..aku baru se..le..sai mandi.."


"Ya enggak apa-apa Dek, nanti mandi lagi.."


Hingga akhirnya Fatimah memilih pasrah saja mengikuti permainan sang suami. Menolakan dosa, walaupun sebenarnya Fatimah belum menginginkannya


...🥀🥀🥀🥀🥀...


"Mas bangun mau Maghrib .." baru saja selesai mandi beserta mandi junub


" Eghhhhh.." masih betah di kasur dengan berbalut selimut


"Bangun dulu Mas.."


"Kamu sudah selesai mandi Dek..?" Fatimah menganggukkan kepala menanggapi pertanyaan Addry


"Ya sudah Mas mandi dulu ya. Tunggu jangan duluan shalat.." ucapnya diambang pintu kamar mandi, sedangkan Fatimah langsung menuju lemari pakaian untuk dia pakai. Setelah selesai dia pun mengganti seprai kasur sembari menunggu sang suami yang belum juga keluar dari kamar mandi


"Lama sekali Mas..?"


Fatimah melihat jam didinding dan dia hitung kalau sang suami mandi hampir memakan waktu setengah jam lebih


"Biasa Dek Mas kan mandi junub dulu. Habis kamu buat berkeringat tadi.." sungguh kini muka wanita itu bersemu merah mendengar perkataan Addry yang spontan


Tak berlama-lama mereka langsung melaksanakan shalat karena melihat waktu magrib sebentar lagi habis. Menit berlalu hingga mereka pun memutuskan untuk makan karena perut mereka sudah demo minta di isi. Mungkin karena kegiatan tadi yang menguras banyak tenaga


"Mas Fati mau nanya..?" sambil memakan nasi


"Tanyakan saja Dek.."


"Kenapa muka Mas kusut saat pulang dari kantor..?"


Enggak mungkin Mas bilang Mas lagi kesal dengan seseorang yang sepertinya tertarik juga dengan kamu Dek


"Enggak ada apa-apa Dek, cuma mikirin kerjaan yang banyak menumpuk..!" Fatimah manggut-manggut


"Jangan terlalu dipikirkan Mas nanti malah berakibat dengan kesehatan kamu.." nasihatnya


"Iya sayang, tapi kamu tenang aja Dek. Mas ada obatnya kok..!" menaik turunkan alisnya menggoda sang istri


"Apa.."


"Ya kamulah, lihat setelah melakukan itu tadi. Mas jadi bugar kayak gini.." muka Fatimah memanas saat mendengar perkataan Addry. Seketika membuat dia teringat apa yang telah mereka lakukan sebelumnya


"Dek Mas duluan ke atas ya. Mau ke ruang kerja dulu.."

__ADS_1


"Iya Mas.." Wanita itu memilih membantu Bibi Sum terlebih dahulu sebelum naik ke atas


"Enggak usah Non, mending Non naik keatas saja. Pasti Tuan sedang menunggu.."


"Mas Addry sedang ada kerjaan BI.."


"Baiklah, Fati buat minuman saja untuk Mas Addry.." Bibi Fatimah hanya menganggukkan kepalanya saja sebagai jawaban


"Bi, Fati keatas ya..!"


"Iya Non.."


Fatimah berjalan menaiki satu persatu anak tangga. Sembari bersenandung


"Assalamualaikum.." ucap Fatimah sambil mengetuk pintu


"Waalaikumsalam.."


"Ini Mas ada minuman dan cemilan untuk Mas.."


"Sini Dek.." Addry mengambil nampan dari tangan Fatimah dan menaruhnya di meja dekat sofa. Melihat sikap perhatian suaminya membuat Fatimah tersenyum


"Dek, Mas kan pernah bilang jangan terlalu capek.." menggiring tubuh sang istri untuk duduk di sofa besar yang ada di ruang kerjanya


"Ini enggak berat kok Mas. Masa aku hanya berdiam diri saja Mas itu sangat membosankan.." Memberikan tatapan sedih membuat Addry merasa bersalah karena terlalu mengekangnya, tapi bagaimana dia tak ingin sang istri dan calon anaknya kenapa-kenapa


"Baiklah kami boleh melakukan apa saja Dek, tapi jangan keseringan ya dan jauhi yang terlalu berat ya.." ucapnya dengan penuh posesif


"Iya-iya Mas, Fati janji enggak akan melakukan yang berat-berat.."


"Nah gitu..!"


"Minum dulu Mas sebelum melanjutkan pekerjaan.." Addry langsung meminumnya menuruti perkataan istri


"Mas kok hapal betul itu buatan Fati..?"


"Iyalah Dek, harus itu.."


"Sudah, Mas lanjuti kerjaannya.."


"Kamu mau balik ke kamar Dek.."


"Kenapa Mas..?"


"Ya Allah Dek, kamu ini kebiasaan deh. Selalu bertanya.." mengusap tangan Fatimah


"Ya Fati hanya ingin memastikan saja Mas.."


"Bagaimana tadi.."


"Fati disini saja kok. Nunggu Mas sampai selesai.." mengambil ponselnya yang ada di saku sweater yang membalut dasternya tadi


"Baiklah Mas ngerjain berkas dulu ya.."


Fatimah membuka ponselnya, dia sudah lama tak membuka sosial media. Saat membukanya dia melihat status WA Dinda kemarin yang makan di restoran Ving yang merupakan restoran termahal dengan isengnya dia pun mengomentari postingan tersebut


Send to Dinda


"Sama siapa..."


Ting! Bunyi ponsel Dinda menandakan bahwa ada pesan masuk. Membuat sang empu yang sedang maskeran menghentikan kegiatannya. Belum sempat membuka hanya melihat di layar ponsel saja

__ADS_1


Apa sih Fatimah, salah kirim mungkin ya..! Batinnya karena belum membuka langsung aplikasi WA tersebut


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


"He he iya Fat, waktu itu aku di traktir sama Pak Azmi.." balasnya


"Wih udah dekat beneran nih ya..!" senyum-senyum membalas chat Dinda


"Udah di bilangin belum Fatiiii 😤"


"Aku doain semoga jadian ya. Kalau bisa langsung nikah aja Din.."


"Dasar.."


"Eh! Iya bagaimana keadaan kamu Fat. Apa sudah enak..?" Dinda lupa semenjak Fatimah keluar dari rumah sakit dia tak pernah menanyakan kabar sang sahabat begitu juga Fatimah, wanita itu juga lupa mengabari Dinda


"Alhamdulillah sekarang enggak lagi Din. Kata Dokter jangan terlalu capek.."


"Makanya diam aja tu di rumah.."


"Iya ini sampai berakibat tak di suruh kemana-mana Din.."


"Huh rasain tu..😜"


"Awas aja aku doain juga nanti kamu ngerasain apa yang aku rasa.."


"Tapi aku kan belum menikah, bagaimana coba😮.."


Ih! Dinda dasar suka ngeledek terus..


"Iya kan kataku nanti huhhhh"


"Eh! Fat maaf ya, kita akhiri dulu chatting. Karena besok aku ada kerjaan yang tak bisa di tinggal.."


"Oke Din, assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Kini jarum jam sudah menunjuk pukul delapan malam. Berarti


shalat Isya belum mereka jalani


"Mas kita shalat dulu ya!"


"Nanti lanjuti kerjaannya.."


Mereka berdua kembali ke kamar mereka untuk menunaikan kewajiban sebagai umat Islam


"Dek, Mas kembali keruang kerja lagi ya.." setelah mengganti baju kokoh menjadi piyama


"Aku ikut.."


"Enggak usah Dek, kamu mending tidur saja.."


"Enggak ah! Aku mau nemenin kamu Mas. Malas aku sendiri terus.." ucapnya dengan cemberut


"Ya udah, ayo istri Mas yang manja.."


"Loh, kenapa harus bawa bantal segala Dek..?"

__ADS_1


"Biar aku nyaman nemenin kamu Mas.." Addry hanya geleng-geleng kepala melihat Fatimah membawa bantal leher bantal guling dan bantal yang berbentuk love. Entahlah untuk apa sebanyak itu bantal yang dia bawa


__ADS_2