
"Ma-as..."
Hati Fatimah merasa sedih. Dia tak tau apa-apa, Fatimah bingung. Niat hati merasa senang ingin menyambut dengan senyuman manis, tapi malah tamparan yang sangat keras yang dia dapat
Addry jangan di tanya, jika dia tak merasa bersalah setelah melakukan hal yang sangat melukai hati istrinya, tapi setelah teringat sesuatu, rasa bersalah itu langsung dia buang jauh-jauh karena ada hal yang sangat membuatnya sakit. Jika mengingatnya membuat dia mati rasa
"Tuan, saya rasa Anda jangan terlalu gegabah dulu.." ucap Tomi menenangkan Addry yang masih di Liputi oleh amarah
" Jangan ikut capur Tom.." ucapnya dengan tegas
Pandangannya masih mengarah kepada Fatimah. Dimana wanita itu menatapnya dengan mata berkaca-kaca sambil memegang pipi yang masih terasa panas
Tomi tidak bisa apa-apa. Dia langsung diam saat mendengar perintah sang atasan yang begitu tegas, tapi dia akan memantau agar Tuannya tidak akan melakukan hal buruk yang akan merugikan atasannya dan takut jika nanti Nyonya Fatimah yang jadi lampiasannya
"DAN KAU sekarang cepat ikut aku.." menarik tangan Fatimah
"Tom mana kunci mobil..?" Ucapnya dengan setengah berteriak dengan gerakan cepat Tomi langsung memberikan kunci mobil yang di minta oleh Addry tadi
Sebenarnya Addry dapat merasakan, jika tangan istrinya yang ada dalam genggamannya itu bergetar menandakan kalau wanitanya itu sedang ketakutan
Ya Allah apalagi ini. Hamba bingung dengan kondisi ini, apalagi lihat sikap suami hamba yang sangat marah ini
Addry langsung menarik tangan Fatimah dengan sangat kasar dan langsung membuka pintu mobil. Addry pun tak segan menyuruh Fatimah masuk, hingga membuat kepala Fatimah terbentur membuat wanita itu meringis menahannya
"Mas aku takut lihat kamu kayak gini.." ucapnya setelah Addry juga ikut masuk ke dalam mobil
Dulu memang sifat Addry dingin dan kejam kepadanya, tapi pria itu tak pernah main tangan kepadanya hanya mulut yang pedas saja yang selalu di tampilkannya
__ADS_1
"Ma-as aku mohon jangan ken-cang baw-ah mobilnya.."ucapnya dengan menutup mata takut melihat ke depan. Karena Addry yang membawa mobil dengan kecepatan penuh
Pria itu hanya menoleh sebentar tanpa berniat mengurangi kecepatan mobilnya
Kini mereka telah sampai di parkiran rumah sakit. Fatimah membuka matanya seraya mengucap Alhamdulillah masih di lindungi. Dia sedih karena Addry hanya diam saja tanpa berniat membuka pintu mobil, biasa suaminya itu selalu memperlakukannya dengan manis seperti ratunya
"CEPAT KELUAR.." dengan gerakan cepat wanita itu langsung membuka pintu mobil. Dia dapat melihat dengan jelas bahwa sang suami kini memandangnya dengan tatapan kecewa dan benci bersamaan
"Ma-as kalau Fati boleh tau. Siapa yang sakit..?" Dengan suara yang hampir tercekat, Fatimah harus bertanya dia harus tau ada apa dengan semua ini
Tanpa menjawab pertanyaan Fatimah, Addry malah pergi begitu saja dengan langkah lebar
Mas, aku bingung dengan semua ini. Kenapa kamu berubah, seharusnya kamu beritahu aku, tapi kamu malah memilih pergi
Tak henti-hentinya air mata Fatimah jatuh. Entah apa itu faktor kehamilan yang membuatnya jadi cengeng atau sedih melihat sang suaminya begini tanpa ada penjelasan terlebih dahulu. Kalau ada masalah harus di perundingan dengan kepala dingin itulah pikir Fatimah
Hatinya sakit!
Kecewa
Sedih
Semuanya bercampur aduk
Fatimah bertambah bingung saat dia telah sampai di depan ruangan yang bertulisan 'OPERASI' dan di sana juga ada sang Papa mertua
"Assalamualaikum Pa.."
__ADS_1
"Waalaikumsalam.." ucap Papa dengan sangat pelan, lantas Fatimah meraih langsung tangan sang mertua dan menciumnya
"Pa ini-"
"Mama kecelakaan Nak.."
"Memangnya apa yang terjadi Pa..?"
"Entahlah, tapi Dokter belum juga keluar dari dalam sana.." ucapnya dengan pandangan sendu mengarah pintu tersebut. Di mana wanita yang di cintai ya kini sedang berjuang
"Memangnya sudah berapa lama Pa, Mama di dalam sana..?" Fatimah merasa tak sanggup mendengarnya. Dia takut akan terjadi apa-apa nanti dengan Mama Mirna
"Mungkin sudah satu jam an Nak.."
Fatimah langsung menutup mulut
Ya Allah semoga Mama Mirna tidak ada hal-hal yang buruk menimpanya..
Fatimah melihat ke arah suaminya, dimana Addry duduk di seberangnya dengan keadaan kacau. Fatimah tau pasti Addry marah tadi karena hal ini. Makanya dia tak dapat mengontrol emosinya. Pikir Fatimah
Setelah lama menunggu akhirnya, pintu pun terbuka. Mereka bertiga pun langsung menghampiri sang dokter untuk bertanya bagaimana keadaan sang wanita yang mereka sayangi
"Bagaimana Dok, keadaan istri saya..?" ucap sang Papa mertua
"Iya Dok, bagaimana keadaan Mama saya Dok..?" Fatimah hanya mengangguk saja
"Maaf Pak, kami tidak bis-"
__ADS_1
"TIDAK..!" Addry langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan. Di mana sang Mama kini sudah di tutup dengan kain putih