
Malam kian larut, tapi Fatimah tak juga bisa tidur. Dia masih saja berdiri di balkon kamarnya. Setelah anaknya tidur tadi, dia tidurkan terlebih dahulu di kasur miliknya
"Mas Addry kenapa sih enggak aktif-aktif nomornya..!"
Rupanya Fatimah masih memikirkan Addry di samping karena meninggalkannya Bianca. Dia juga merasa khawatir kepada Addry takut, pria itu kenapa-napa di luar sana
Karena malam bertambah larut dan juga tubuhnya yang sangat terasa lelah. Akhirnya, Fatimah memilih kembali ke kamarnya. Agar dapat dengan cepat mengistirahatkan dirinya yang sangat lelah, lelah karena banyak pikiran dan juga lelah tenaga
"Bunda akan mewujudkan kembali keluarga kita yang hampir pecah bela ini Nak.." ucapnya memandang wajah mungil yang begitu tenang itu
Fatimah juga merasa, jika semua cobaan, ujian dan musibah silih berganti didalam kehidupannya. Mungkin ini semua petunjuk dari yang Maha Kuasa untuk dia meraih kebahagian yang seutuhnya dan kini dia sudah sangat-sangat memantapkan pendiriannya
*
*
*
Cahaya matahari begitu menusuk kulit, seorang pria tampan masih saja betah tidur dengan selimut yang membalut tubuhnya, tapi kenyamanan itu harus sirna karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya
Tok...
__ADS_1
Dia masih memilih mendiamkan orang yang mengetuk pintu itu, pikirnya jika tak di ladani pasti akan pergi dengan sendirinya, tapi kenyataannya salah. Suara ketukan itu bertambah keras hingga dengan perasaan malas. Dia berjalan gontai untuk membuka pintunya
Tok....
"Ada apa sih..!" ucapnya dengan keadaan rambut acak-acakan dengan muka bantalnya
"Astaghfirullah lazim.."
Pria itu terlonjak kaget melihat penampakan yang membuatnya syok seketika
"Ada apa sih, kayak lihat hantu saja.." ucapnya dengan membuka matanya
Lain hal jika di kantor, aura dan pesonanya begitu berwibawa dan sangat tampan. Jauh dari keadaannya seperti sekarang ini
"Pulang, pulang kemana!" tanyanya pada diri sendiri membuat Tomi memukul jidatnya saat mendengar kata konyol bosnya itu
"Astaghfirullah lazim Pak, belum tua banget udah pikun saja..!"
"Hei, sialan kau ya..!" teriaknya
"Ah! Maaf Pak.." merasa bersalah karena lancang kepada atasannya
__ADS_1
"Makanya Pak kalau udah siang begini bangun.." lagi-lagi Tomi mengulangi kalimat yang membuat Addry kesal
"Ini semua karena kamu yang membangunkan, aku padahal aku masih tidur. Dasar!"
"Baiklah-baiklah, jadwal penerbangan kita di undur pak.."
Akhirnya, Addry tau maksud dari kata pulang tadi. Ya hari ini mereka akan pulang kembali ke kota karena pekerjaan mereka selesai dengan cepat dan Addry tak jadi menepati janjinya yang mengatakan akan menunggu dua belas hari lagi
Nyatanya dia tak kuat akan hal itu. Dia sudah merasa tak sabaran untuk mendengar perkataan "iya" yang langsung keluar dari mulutnya Fatimah
Toh dia sudah satu Minggu di sini, jadi itu sesuai dengan janjinya Fatimah kepadanya. Nanti malam dia akan datang ke rumah wanita yang menjadi ibu dari anaknya itu
Biarlah Fatimah kaget akan kedatangannya. Sekalian dia mau memberikan surprise kepada wanita yang di cintai nya itu
"Ini semua akibat kelelahan karena pekerjaan tadi malam.." keluhnya
"Ya sudah aku mau mandi dulu.."
Pintu tertutup tanpa menunggu jawaban dari Tomi membuat pria itu diam melongo melihat pintu yang berwarna hitam itu tertutup dengan gerakan yang begitu indah. Bagaimana tidak suaranya menggelegar di dalam gendang telinganya
Didalam kamar, Addry begitu bahagia dengan bersiul di langsung masuk ke kamar mandi karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan wanita yang begitu dia cintai. Dia merasakan kalau kini dia kembali seperti awal mula dia mengenal cinta
__ADS_1