Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 139


__ADS_3

Hari-hari berlalu, tak terasa sudah delapan bulan pernikahannya Addry dan Fatimah jalani. Begitu juga Dinda dan Azmi yang hampir delapan bulan menjalani bahtera rumah tangga


Ada suka dan ada pula duka yang menghampiri mereka, tapi kedua keluarga itu menjalaninya dengan sangat baik. Apalagi Addry dan Fatimah yang sudah sangat mengerti, mereka selalu belajar dari masalah lalu yang membuat mereka hampir berakhir berpisah


Seperti hari ini, seorang wanita yang sangat cantik. Dirinya sampai tak menyadari jika saat ini ada yang sedang memperhatikan setiap pergerakannya dari belakang


Senyumnya terbit begitu saja, saat melihat sang istri yang sangat santai melakukan senam hamil, ah jika dilihat-lihat kenapa!


Apa perasaan ku saja ya, kenapa semakin hari dan semakin membesar perutnya membuat dirinya bertambah cantik dan seksi saja. ucap Batinnya


"Mas!"


"Sudah lama ya duduk di sana..?" ucapnya yang ingin berdiri


"Tunggu! Biar Mas saja yang ke sana..!" Addry langsung menjegal istrinya untuk berdiri


"Ini!" memberikan botol minuman kepada Fatimah


"Terima kasih Mas.." sambil menerimanya dan tersenyum


Addry pun hanya menganggukan kepala saja. Kemudian itu dirinya langsung mengangkat tubuh Fatimah


"Mas, jangan begini! Bagaimana nanti kita bisa jatuh..!" Fatimah sangat kaget dengan perbuatan dari suaminya dengan sangat baik dia pun hanya memegang perutnya yang bertambah besar itu


"Sudah kamu diam saja, biar Mas menggendong kamu ya! Pegangan saja..!"

__ADS_1


"Iya! Tapi aku takut jatuh Mas..!"


Tak lama kemudian keduanya pun sampai di sofa ruang tamu. Addry menjatuhkan tubuh istrinya dengan sangat pelan seakan seperti kaca saja, takut retak


"Sini..!" ucap perintahnya menyuruh Fatimah menempatkan kedua kakinya di atas paha suaminya itu


Fatimah menggeleng, dia merasa tak enak pada Addry. Apalagi selancang itu


Membuat Addry begitu gemas dengan istrinya yang selalu tak enakkan kepada siapa saja


Addry memijit kaki istrinya dengan penuh kelembutan, tadi Fatimah sempat menolak, tapi malah di hiraukan nya saja


"Dek, enggak ada masalah kan sama baby kita di sana..!"


"Kapan kita adakan acara tujuh bulan nya Dek..!" tanyanya


"Entahlah Mas, mungkin dua Minggu lagi masuk tujuh bulan.."


"Benarkah..?"


*****


"Mas, kamu enggak kerja..?" tanyanya dengan kening berkerut melihat penampilan suaminya yang hanya memakai kaos putih dengan celana pendek berwarna hitam


"Kerja kok Yang.."

__ADS_1


"Terus kenapa masih di sini? Kenapa juga masih pakai baju biasa? Tumben sekali Mas..!"


Masya Allah, kenapa semakin ke sini. Istriku semakin cerewet saja. Aku rasa ini bukan Horman kehamilan, tapi sepertinya memang sifat itu sudah melekat pada dirinya. Iya kurasa begitu! Batinnya berseru mengumpat sang istri yang masih saja berbicara


"Mas, kamu dengar aku sedang bicara Mas..!"


"Hah! Iya Mas dengar kok Yang. Sudah jangan marah-marah dong. Kasian anak kita di dalam.." ucapnya dengan lembut sembari berjongkok mengelus perut istrinya yang sangat besar itu


"Habisnya kamu selalu saja, jika aku ngomong seperti orang enggak dengar!"


"Aku dengar Yang.."


"Lihat calon Baby G, ibumu selalu saja mengomel.."


"Oh iya Yang, hari ini kita jadikan ke Dokter..!"


Ah! Berarti inilah suami belum berangkat kerja karena hari ini adalah hari jadwal dia USG. Dinda hampir saja dia lupa


"Jadi! Mas belum berangkat kerja karena mau pergi ke dokter ya..?" Azmi pun menganggukkan kepalanya


"Ah! Terima kasih Mas. Untung kamu ingat, aku hampir saja lupa dengan janjian itu..!"


Makanya Yang jangan suka ngomel terus, jadi lupa kan..!. Lain di hati lain juga di mulut


"Iyalah, Mas kan udah enggak sabar ingin melihat baby boy kita di sini..!" ujarnya mencium perut Dinda

__ADS_1


__ADS_2