
"Loh, kok kusut gitu mukanya. Begini ya cara menyambut sahabat.."
"Sorry No, kamu sih! Tidak ketuk pintu terlebih dahulu.." ucapnya menyalahkan sahabatnya yang kini baru saja menjatuhkan tubuhnya di atas sofa
"Wih! Garang sekali loh, Az.."
"Apa segitu beratnya pekerjaan, sampai membuatmu begitu berantakan..?"
Wajar kalau Dino penasaran karena begitulah persahabatan mereka. Tak ada rahasia lagi di antara mereka. Apalagi, dirinya yang baru saja pulang dari luar Negeri membuatnya sangat penasaran, apa yang membuat Azmi se berantakan seperti saat ini
"Cerita dong, udah lama juga aku enggak dengar keluh kesah dari loh, Az.."
Terdengar helaan nafas yang baru saja keluar dari pernapasan sahabatnya
"Aku cuma capek saja No, akhir-akhir ini anakku sering nangis tengah malam.." keluhnya membuat Dino paham apa permasalahannya
"Ya, masa Papa muda kayak gitu sih. Namanya juga baru belajar, Az.."
"Ini nih, aku malas cerita ke kamu. Ujung-ujungnya enggak ada juga jalan keluarnya.."
Membuat tawa Dion pecah
"Tapi kamu suka kan cerita kepadaku. Jadi bukan salahku lah.." jawabnya dengan nada cuek, padahal jelas-jelas tadi Dion lah yang memaksa Azmi untuk bercerita. Setelah itu malah menjawabnya membuat Azmi bertambah kesal
"Eh! Jangan marah dulu Bro, aku cuma bercanda kok! Jangan langsung diambil hati dong, Papa muda.."
Azmi hanya memutar bola matanya dengan malas. Meneladani Dino sama saja membuat keributan dalam hatinya
__ADS_1
"Walaupun capek, tapi kegiatan mengasuh bayi itu sangat menyenangkan, bukan..!" lanjutnya dan Azmi menganggukan kepalanya
"Iya sih, pasti begini juga ya. Rasanya Mama dan Papa ku waktu mengurus ku masih kecil he he.."
Azmi kembali teringat akan, masa dimana dirinya masih kecil yang selalu ingin ikut kemana saja Mamanya pergi
"Walaupun letih, tapi benar katamu. Menggendong bayi mungil itu menyenangkan sekaligus menyejukkan mata. Apalagi pas melihat senyum dan tawa dari bibir mungilnya..!"
______
"Halo Bunda..!" ucapnya tanpa teringat akan salam terlebih dahulu yang harus diucapkan
"Iya, ada apa Dry..?" tanya Bunda tak kalah khawatir. Apalagi saat ini sudah pukul dua belas malam sang menantu menelponnya dengan nada begitu gemetar
"Bunda, bisa enggak sama Ayah ke rumah sakit sekarang..?"
"Iya Bun, sekarang kami masih dalam perjalanan menuju rumah sakit.."
"Ma-mas.." rintihan Fatimah keluar begitu saja dari bibirnya. Dirinya begitu sakit merasakan kontraksi yang begitu menyiksanya itu
"Nak..!"
Bunda Lisa begitu khawatir mendengar rintihan anaknya yang menahan sakit
"Baiklah, Bunda sama Ayah nanti menyusul kalian yah.."
"Iya Bunda, terima kasih. Oh iya! Nanti tolong beritahu juga berita ini pada Papa.."
__ADS_1
"Iya-iya.."
Panggilan berakhir, sesuai amanah Addry tadi. Kini Ayah mertuanya sedang sibuk menekan tombol ponselnya untuk menghubungi besannya itu. Sedangkan Bunda Lisa, mencoba menelpon Bibi Sum untuk menanyakan keberadaan cucu pertamanya itu. Apakah ikut ke rumah sakit atau tinggal dirumah?
"Assalamu'alaikum.." ucap bunda Lisa dengan cepat saat panggilan di terima
"Waalaikumsalam, iya ada apa Nya..?"
"BI, cucu saya sama Bibi..?" tanyanya tanpa basa-basi
"Iya Nya, ini neng Shaki sedang tidur Nya..!"
"Baiklah Bi, saya titip dulu ya cucu saya sama Bibi. Soalnya saya sama suami saya, mau menyusul Fatimah di rumah sakit..!"
"Baik Nya, semoga Nyonya Fatimah lancar persalinan nya nanti.."
"Aamiin, ya sudah ya Bi. Assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.."
Usai menelpon, Bunda pun mendekati sang suami
"Bagaimana Yah, apa sudah ada kabar sama besan kita..?"
"Iya Bun, tadi sudah di beritahu..!"
"Baiklah, ayo kita ke rumah sakit Yah.."
__ADS_1
Mereka berdua bergegas menuju rumah sakit, Bunda selalu mengucap saat perjalanan menuju rumah sakit. Hatinya begitu tak tenang bercampur senang karena sebentar lagi, cucu keduanya akan segera terlahir ke dunia ini