Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 90 "Kehilangan Separuh Jiwa "


__ADS_3

"Maaf kalau yang itu, aku enggak bisa menariknya lagi"


Deg !


"Maafkan aku Dek," masih mengiba memohon, sudahlah Addry tak peduli lagi dengan harga dirinya sebagai pria. Dia hanya ingin satu yaitu istrinya itu kembali lagi di pelukannya


"Mas mohon Dek, jika kamu pergi dari hidupnya Mas. Siapa yang nanti selalu menemani Mas," sesekali mengusap air matanya. Jika dilihat sekarang sepertinya Addry sudah menjadi secengeng itu hanya satu wanita yang kini menjadi ibu dari anaknya


"Siapa yang selalu mengurus Mas dan siapa nanti yang selalu mengingatkan Mas yang selalu berbuat salah. Jika nanti kamu pergi,"


"Bagaimana nasib pria ini jika kamu pergi meninggalkan aku Dek. Kamu enggak kasian lihat anak kita nanti ?" ia hanya satu ancaman yang dapat di katakan agar Fatimah tetap disisinya. Biarlah dia dicap sebagai pria egois dan tak tau malu


"Jika nanti dia Ayah dan Bundanya berpisah. Kamu tau kan, jika orang tua tak lengkap akan membuat dia sedih nantinya,"


*Sedih!


Apakah kamu memikirkannya, saat melakukan hal tak senonoh itu kepada mantan istrimu !


Kamu egois Mas, kamu hanya mementingkan kebahagiaanmu dan kamu lupa jika aku disini terluka*


Itulah yang ada di benak Fatimah, ingin rasanya ibu satu anak itu berteriak kencang di depan wajah pria yang selalu menyakiti sekaligus membuatnya bahagia


"Dek, apa yang kamu lihat itu bukan seperti yang ada didalam pikiran kamu, itu se-"


Akhirnya Fatimah mengeluarkan suaranya, karena dia sudah tak sanggup dengan semua yang di ucapkan oleh suaminya. Agar dia mengurungkan niatnya itu


"Sudahlah Mas, percuma jika kamu jelaskan kembali. Aku akan tetap dalam pendirian ku," ucapnya begitu tegas membuat Addry tertegun mendengarnya

__ADS_1


"Walaupun semuanya tidak seperti yang aku bayangkan heh!" Fatimah tertawa tepatnya menertawakan dirinya sendiri yang begitu bodoh


Dia berpikir sejenak


Jika kejadian ini terjadi dahulu, seperti yang dia alami waktu awal-awal menikah. Pasti dia akan selalu sabar dan ikhlas menunggu sang suami melihat kearahnya, entah sampai kapan itu terjadi kepadanya, tapi dia selalu sabar menantinya


"Tak akan merubah segalanya, apa yang telah aku ucapkan. Keputusanku sudah bulat Mas," ucapnya dengan pelan


"Untuk anak kita, aku bisa mengurusnya. Jadi kamu tak perlu khawatir lagi,"


"Aku bisa menjadi Bunda sekaligus Ayah untuk anakku dan kamu tak perlu khawatir lagi soal itu,"


***


Addry benar-benar merasa hilang semangat saat mendengar dan mengingat apa yang masih terngiang-ngiang di telinganya


Bagaimana Fatimah mengusirnya setelah benar-benar dalam pendiriannya


Dibawah guyuran hujan lebat, dia masih berdiri kokoh di depan pintu rumah Fatimah tepat di tengah-tengah halaman depan rumah


Dia tersenyum getir, kembali lagi. Rasanya raga dan jiwanya seakan melayang dibawa pergi oleh Fatimah


"Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu Sayang,"


"Walaupun kamu ingin menjauh, aku akan tetap menunggumu,"


"Sampai kamu kembali lagi ke pelukanku,"

__ADS_1


Addry terpaksa pulang karena dia tak mau mengundang perhatian para tetangga. Jika nanti dia masih berdiri disana. Apa kata orang nantinya


***


"Nak, apa kamu merasa sudah benar dengan keputusan kamu," ujar Bunda dengan nada lembut merangkul bahu anaknya yang bergetar sangat kuat


"Iya Bunda, aku sudah putuskan untuk cerai dari Mas Addry. Karena aku sudah tak sanggup lagi-" Fatimah tak bisa lagi melanjutkan perkataannya


"Nak, coba kamu pikirkan kembali. Tak baik mengambil keputusan dengan emosi yang masih tinggi," kali ini tutur Ayah untuk anaknya


"Tidak Ayah, aku sudah siap dengan konsekuensinya nanti,"


"Bun, Ayah. Aku kembali ke kamar dulu ya, assalamu'alaikum.." ucapnya dengan cepat tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya


Wanita itu dengan cepat-cepat menutup pintu dan menguncinya, agar tak ada lagi yang mengganggunya


Dia menangis sejadi-jadinya, sebenarnya dia tak tega melihat suaminya mengiba tadi


"Maafkan aku Mas, mungkin batas inilah jodoh kita," air mata itu jatuh tak terhingga dari kelopak matanya


"Aku harap semoga nanti kamu bahagia dengan semua ini,"


"Iya aku yakin, kamu pasti bahagia dengan mbak Bianca,"


"Cuma aku yang akan sangat lama menyembuhkan luka ini," dia tersenyum getir


Fatimah hanya dapat berdoa didalam hatinya, berharap semoga Sang Khaliq merestui apa yang telah dia ucapkan tadi siang. Dia berharap semoga ini adalah langkah yang benar

__ADS_1


Mumpung hari Senin, ayo dong kasih Author Vote dan hadiah dari kalian. Tanpa kalian Author bisa apa 😞


Ayo² yang mau berbagi kasih semangat buat Author ya ❤️


__ADS_2