
Kaos putih dengan di balut jaket kulit hitam dan celana Levis hitam membuat penampilan Addry kembali seperti anak bujangan saja. Dia berjalan menuju meja rias dengan menyisir rambutnya. Hari ini dia tak akan memakai minyak rambut, dia membiarkan rambutnya bebas bergerak sendiri sehingga menampilkan yang manly padanya
Setelah puas dengan hasilnya, pria itu keluar dari kamar penginapannya. Dia tak sabar lagi untuk menemui Tomi
"Ayo!"
Lagi-lagi Tomi kembali bengong melihat penampilan bosnya yang menurutnya begitu keren dan sangat laki sekali. Bak anak muda saja. Padahal umur sudah kepala tiga
"Tom!" teriaknya sangat kesal, Tomi selalu saja membuatnya seakan naik darah karena asistennya itu sering sekali bengong melihat dirinya
"Astaga Pak..!" Tomi terlonjak kaget mendengar suara bariton yang sangat keras
"Maaf Pak, mari kita jalan..!" ucapnya mempersilahkan Addry masuk ke dalam mobil dan begitu juga dirinya duduk di samping supir
Sepanjang perjalanan menuju bandara. Mereka hanya terdiam membisu, hingga sampailah mereka di bandara. Tomi dengan gerakan cepat membukakan pintu mobil untuk memudahkan bosnya
______
"Eh, Fat kalau boleh tau..?"
"Iya tanyakan saja Din, kamu kayak sama siapa saja sih. Pakai izin lagi!" ucapnya dan menyeruput jus buah yang tadi sempat mereka pesan
__ADS_1
"He he, aku enggak enak aja Fat. Soalnya tentang pribadi kamu ini..!"
"Hem! Enggak apa-apa Din, tanyakan saja. Selagi diriku bisa menjawab aku jawab kok.." sambil mengulas senyum manis kearah sahabatnya
"Baiklah, aku mau bertanya. Bagaimana, apakah kamu sudah menentukan apa yang membuatmu yakin?"
Rasanya Fatimah sudah tau apa maksud dan arah dari perkataan sahabatnya ini
"Iya.."
"Benarkah..?" jawabnya dengan muka berbinar-binar, semoga saja sahabatnya itu kembali rujuk pikirnya karena Dinda tau jika Fatimah itu masih sangat mencintai Addry terbukti dari awal-awal menikah, sahabatnya itu di perlakukan tidak secara kemanusiaan, tapi karena tak ingin mengecewakan Bunda dan Ayah
Fatimah memilih bertahan meskipun di madu, sehingga tumbuhnya benih-benih cinta pun tak dapat dia elakkan. Dinda tau dari perubahan fisik sahabatnya, memang sebenarnya Fatimah tak pernah menceritakan prihal rumah tangganya, tapi sebagai sahabat yang sudah tau seluk beluk sifat Fatimah dari sanalah dia sudah dapat menyimpulkannya
"Apa kamu yakin Fat?" tanyanya untuk memastikan
"Iya aku yakin dan sangat yakin. Semoga pilihanku ini benar dan di ridhoi oleh Allah.." jawabnya tanpa ragu membuat seulas senyum terbit di wajah pria tampan itu
Lap..
Lampu pun mati secara tiba-tiba. Sehingga membuat Fatimah tak bisa melihat keadaan sekitar, dia lupa bahwa ponselnya tadi tertinggal di mobil.
__ADS_1
Ah! Dasar pelupa
Lagi mendesak begini. Dia lupa membawa ponselnya karena Dinda sangat tak sabaran mengajaknya ke kafe baru buka itu
"Din, apakah kamu bawa ponsel..?" tanyanya dengan mata terbuka, tapi tak bisa melihat sama sekali karena kafe yang mereka pilih memiliki tertutup, jadi cahaya di luar tak bisa masuk ke dalam ruangan kafe tersebut
"Din, jawab dong. Jangan gini.." ucapnya dengan gemetar sambil meraba-raba apa saja yang ada di meja
Fatimah berfikir kalau situasi ini tidak benar. Hingga gerakannya terhenti saat ada suara berat yang begitu dia rindukan
"Apakah benar tak ada keraguan lagi kan..?"
Deg..!
Jantung Fatimah berdegup kencang. Dia tau siapa pemilik suara berat ini. Pemiliknya salah orang yang saat ini cintanya masih sangat melekat di dalam hati Fatimah
"Beneran..?" bisik nya
Ayo-ayo dong bagi hadiah dan vote buat Author daripada nanti Vote nya hangus kan mubazir ☺️
Jadi mending di sedekah buat Author saja deh 🤫
__ADS_1
Ah! Iya jangan lupa mampir like, komen dan hadiahnya di karya baru author yang berjudul "Pesona Si Gadis Desa"
Happy Reading 🌻