Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 152 Akhir Cerita


__ADS_3

"Bunda, jangan cepat-cepat begitu jalannya. Nanti jatuh.." ucap Ayah memperingatkan sang istri yang begitu cepat berjalan hampir mirip berlari


"Iya Yah.."


"Biasa Ndra kalau wanita pasti begitu.." ucap Papa


Sampai di ruangan persalinan, ternyata telah di tutup. Ketiganya tau, jika anak dan menantu mereka telah mulai


Tak bisa melakukan apa-apa, akhirnya ketiga orang itu memilih menunggu saja di depan pintu ruang persalinan tersebut


_____


"Mas.."


"Iya Yang, kamu pasti bisa. Jangan mengeluh yah, mending kamu istighfar Yang.."


"He'em.."


"Sus, mari kita mulai..."


Dokter dan suster mulai kegiatan mereka untuk segera mengeluarkan sang bayi yang masih ada didalam perutnya Fatimah


"Kuat sayang.."


Hampir satu jam lebih, mereka menunggu. Akhirnya yang di tunggu-tunggu telah ada di dunia. Suaranya membuat semuanya tersenyum bahagia


Sesuai semua tahapan seusai persalinan, kini Fatimah telah di pindahkan ke ruangan VVIP dimana kamar anaknya juga ada di dalam berdekatan dengan sang ibu


"Duh, Masya Allah. Cantiknya cucu Oma.."


"Eh, Dry sudah belum kamu adzan 'kan Baby nya..?"


"Sudah Pa.."


"Eh! Ngomong-ngomong, siapa nama untuk cucu Bunda ini..?" tanya Bunda tanpa mengahlihkan pandangannya


Addry dan Fatimah saking pandang karena keduanya belum sempat mempersiapkan nama untuk anak mereka. Jujur saja, keduanya tidak tau apa jenis anaknya waktu masih dalam kandungan, mereka menolak untuk di USG karena keduanya sepakat untuk membuat kejutan saja dikemudian hari


"Jangan bilang kalau kalian tak tau apa nama untuk anak kalian.." ucap Ayah membuat keduanya tersenyum malu


"Apakah boleh jika Ayah saja yang memberinya..?"


Fatimah melihat wajah suaminya, apakah nanti Addry mau menerima usulan Ayah atau tidak


"Iya Ayah, silahkan. Nanti biar aku tambah dikit-dikit aja .."


Ayah mengangguk menyetujui perkataan sang menantu

__ADS_1


"Kirana.."


"Bagaimana apakah bagus..?" keempat orang itu mengangguk mantap mendengar usulannya


"Baiklah, nama putri kita Kirana Putri Barack .."


"Iya itu lebih bagus.."


"Dry, adzan nih dulu Kirana nya..!" titah Papa dan Addry paham dengan cepat dia melaksanakan sesuai perintah sang Papa


_________


"Mas, ayo bangun udah subuh nih. Cepat dong kamu shalat, biar kita bisa pagi ke rumah sakitnya cepat..!" seru sang istri dengan cerewet membuat pria itu dengan terpaksa bangun


Azmi memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan sesudah itu dia langsung melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim


"Masak apa sih Yang. !" memeluk erat tubuh Dinda dari belakang


"Ini, aku mau masak nasi goreng biasa Mas. Enggak apa-apa 'kan untuk sarapan pagi ini saja sebelum berangkat ke rumah sakit..!"


"Iya, apa saja yang di masak oleh istriku pasti sangat enak di lidah.." ucap memuji keahlian Dinda


"Mas.."


"Ya..?" masih dengan memeluk tubuh wanitanya


"Mas tau enggak-"


"Mas itu sebenarnya lebih cocok jadi pengombal daripada pengacara..!" ujarnya terkekeh dengan perkataannya sendiri


"Wah! Udah pandai ya! Meledek sekarang.." mencubit hidung Dinda dengan gemas


"Mas..!"


_______


Kini Bibi Sum, Mang Diman dan Shakinah telah berada di depan gerbang rumah sakit. Dimana Fatimah di rawat


Ketiganya dengan cepat melangkah untuk segera menemui anak yang tadi malam dilahirkan oleh majikan mereka


"Assalamu'alaikum..!"


"Waalaikumsalam.." jawab kelima orang yang berada di dalam ruangan tersebut


"Eh! Cucu Nenek udah sampai..!" ucap bunda Lisa mengambil cepat Shakinah yang masih tidur di dalam gendongannya Bibi Sum tadi


"Bagaimana Nyonya keadaannya sekarang..?"

__ADS_1


"Alhamdulillah, Bi sekarang lumayan enakkan.."


"Duh, Masya Allah. Cantiknya anak Nyonya dan Tuan..!" seru Bibi saat melihat bayi yang ada dalam dekapan Fatimah


Mereka tersenyum mendengarnya, begitu juga Mang Diman


"Kalau boleh tau, siapa nama nona muda. Nya..?"


"Kirana Putri Barack, Bi.." jawab Addry dan Bibi langsung mengangguk paham


Saat sedang asyik-asyiknya berbincang, mereka kembali kedatangan tamu spesial


"Assalamu'alaikum.."


"Waalaikumsalam.."


"Fati, kamu apa kabar. Maaf ya tadi malam belum bisa ke sini. Kasian sama Galang yang masih kecil kalau di bawa ke sini malam-malam.." ucapnya dengan cepat, setelah selesai bersalaman dengan orang tuanya Fatimah dan Addry, serta tak lupa Bibi Sum dan Mang Diman


"Iya" jawab Fatimah dengan malas mendengar Emak-Emak rempong saat ngomong


"Mana nih ponakan ku, Fat.."


"Itu..!" tunjuk Fatimah


Azmi dan Dinda menuju tempat dimana Kirana di tidurkan, hati Dinda tersenyum melihat wajah polos anaknya Fatimah yang begitu damai itu


"Masya Allah, Fat. Anak kamu cantik banget..!" pekiknya membuat Galang yang tertidur tadi bangun seketika saat mendengar suara melengking ibu nya, begitu juga Shakinah yang saat ini sedang di tenangkan oleh Fatimah sendiri


"Aduh maafkan Ibu ya Nak.." ucapnya meminta maaf pada anaknya


"Eh! Siapa namanya Mas Addry..?"


"Kirana Putri Barack, Din.."


"Wah! Namanya cantik sekali, sama kayak orangnya..!"


"Nak, jika sudah besar nanti. Kamu mau ya sama Galang. Anaknya Bibi..!" ucapnya dengan enteng membuat semua orang melotot tak percaya


"Dinda..!" pekik Fatimah


"Apaan sih Fat.."


"Kamu Ini, kemarin Shakinah yang kamu jodohkan sama Galang. Kini malah Kirana. Bagaimana sih..!"


"Hehe, maaf Fat. Aku cuma mau ngomong aja kok, tapi jujur saja kalau aku sih. Terserah anakku nanti mau yang mana haha.."


"Yang..!" tegur Azmi pada sang istri

__ADS_1


"Diam dulu Mas.."


Akhirnya, setelah ada percekcokan sedikit antara Fatimah dan Dinda kini telah reda. Mereka semua begitu gembira dengan kelahiran anak keduanya Fatimah dan Addry. Begitu juga Dinda yang masih berharap semoga suatu saat nanti, salah satu anaknya Fatimah nanti bisa menjadi menantunya


__ADS_2