Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 76


__ADS_3

Seorang wanita cantik yang duduk di dekat jendela kamarnya. Dia memandang kearah luar. Wanita itu memikirkan bagaimana caranya untuk tau apa salah pada dirinya sampai membuat sang suami begitu marah kepadanya


Sudah dua hari, setelah selesai mengenang tujuh hari sang mertua yang telah berpulang ke pangkuan Sang Illahi dan sudah dua hari ini Addry pulang dalam keadaan mabuk berat


"Hem, apa salah diriku. Sampai kamu marah dan benci segitunya kepada ku Mas.."


"Rasanya rumah tangga kita jauh dari kata harmonis Mas.."


Fatimah tersenyum mengingat bagaimana sampai dia bisa merasakan kebahagian dalam berumah tangga. Ya walaupun cuma sebentar mengecap manisnya di dalam keluarga kecil yang mereka bangun


*******


"Tuan..."


"Hem, ada apa Tom..?" memegang botol alkohol


"Apakah anda baik-baik saja..?" ucapnya dengan hati-hati


"Seperti yang kau lihat.." menampilkan senyuman sinis


Tuan, semoga tak ada kata terlambat untuk dirimu Tuan. Aku kasihan pada Nyonya Fatimah. Pasti dia sakit akibat ulah anda, tapi sungguh mulia hatinya sampai kini masih bertahan disisi Tuan


"Kenapa kau memandangku seperti itu Tom..?" berjalan sambil sempoyongan


"Apakah aku salah..?" memandang kearah luar jendela, sembari menitikan air mata


Salah Tuan sangat salah karena dirimu tak mau mendengar apa yang terjadi sebenarnya. ucap batin Tomi berteriak, karena geram kepada Tuannya yang tak mau mencari kebenaran dan tak juga mau berterus terang kepada sang istri. Addry hanya percaya apa yang dia lihat saja. Padahal apa yang dilihat belum tentu benar ya kan!


"Aku marah Tom, aku marah kepada diriku sendiri.."


"Aku pengecut, aku tak bisa berterus terang kepada Fatimah .."


"A-aku hanya menangis dan bingung oleh sikap ku.."


Addry langsung menumpahkan keluh kesahnya kepada Tomi, hingga membuat hatinya lega setelah berbagi cerita kepada sang asisten


......................


"Yang, nanti jangan pulang dulu ya..!"


"Kenapa Mas..?" ucap Dinda bingung


Kini mereka sedang berada di kantin kantor Firma. Sepasang kekasih itu semakin hari semakin mesra saja. Hingga membuat siapa saja yang melihat pasti ikut ke baperan


"Yang jangan begini dong malu..!" mengambil tisu dan mengelap sisa makanan yang ada di sudut bibirnya


"Ya bagaimana lagi Mas, habisnya aku lapar banget..." berbicara sambil mengunyah membuat Azmi tertawa melihat pipi sang pacar mengembung


"Emang kamu belum sarapan tadi pagi..?"


"Belum.." ucapnya dengan cuek


"Astaghfirullah..." Azmi langsung menepuk jidatnya saat mendengar jawaban Dinda yang begitu cueknya. Padahal akan berpengaruh pada kesehatan jika terlambat makan


"Kenapa begitu, sekarang jangan ulangi ya! Nanti kamu sakit kalau sering begitu..!"


"Iya-iya Mas.."


"Bu.." teriak Azmi


"Iya Pak..?"

__ADS_1


"Saya pesan nasi goreng, satu piring lagi ya.." kening Dinda berkerut mendengar sang kekasih yang memesan makanan lagi


"Baik Pak, mohon tunggu sebentar.." di angguki oleh Azmi


"Kamu masih lapar Mas..?" tanya Dinda setelah ibu kantin pergi


"Bukan Mas, tapi pacar Mas yang masih lapar.." mencubit pipi Dinda membuat semburat merah di pipi itu nampak


"Mas.."


"Apa sih Yang..?"


"Malu tau.."


"Kenapa harus malu kan memang begitu cara pacaran. Iya kan..?"


"Iya memang Mas, tapi kita ini sudah tua Mas. Malu lah sama yang muda.." bisiknya


"Belum tua Yang, tapi dewasa. Ingat dewasa..." tekannya


"Iya-iya terserah kamu Mas.."


Dinda langsung memakan nasi goreng yang telah di taruh oleh Ibu kantin tadi


"Makan yang banyak ya🥰.."


......................


Jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Addry belum juga pulang. Seorang wanita tertidur di sofa dekat televisi yang masih menyala


Fatimah merasa kesepian, apalagi sang Bibi kini sedang pulang kampung karena sanak kerabatnya sedang ada yang melahirkan, jadi Bibi Sum meminta cuti kerja


Brum.....


Tok....


Tok....


Fatimah berjalan ke depan pintu yang sejak tadi menggedor pintu sangat kuat


"Iya sebentar lagi.."


"Mas..." ucapnya kaget melihat Addry yang tak sadarkan diri dalam papahan Tomi


"Mas Tom, ini kenapa Mas Addry bisa sampai begini..!" memegang lengan Addry


"Entahlah Nyonya tadi saya ada urusan di luar untuk meninjau proyek yang ada. Jadi Tuan sendiri di perusahaan..."


"Hingga saya kembali melihat beliau yang tertidur di lantai. Sebenarnya saya mau membawa ke rumah sakit, tapi beliau tak mau di bawa ke sana.." jelasnya


"Baiklah Mas, tolong saya bawa Mas ke kamar.."


"Baik Nyonya..!"


Mereka bertiga telah berada di kamar dan Addry sudah tertidur di atas ranjang. Tomi pun pamit undur diri karena tugasnya telah selesai. Tinggal Fatimah lah yang berkewajiban untuk itu


"Mas-mas, kamu kenapa harus begini sih!"


"Kalau ada masalah itu cerita Mas, biar plong hatinya.." masih sibuk melepaskan sepatu dan kaos kakinya


Fatimah mengelap seluruh tubuh sang suami dan mengganti bajunya menjadi piyama tidur. Walaupun agak kesusahan karena tubuh kekar yang dimiliki oleh Addry

__ADS_1


"Lihat Nak, Ayah kamu tampan ya!" mengusap wajah suaminya yang memperlihatkan bulu mata yang lentik, alis tebal, rahang tegas dan bibir yang berisi


"Bunda berharap semoga nanti kamu mirip Ayah ya..!" menitikan air matanya


"Jangan benci Ayah yah Nak. Pasti ada masalah yang membuat Ayah begini.."


Jam sudah menunjuk pukul dua tengah malam. Addry terbangun dari tidurnya memegang kepalanya yang terasa sangat sakit


Dia melihat kesamping menampilkan sang istri yang sepertinya kesusahan tidur karena perut yang semakin besar itu


Pria itu keluar dari kamar karena merasa tenggorokannya seperti panas mungkin karena akibat dari minuman alkohol yang dikonsumsinya tadi


Addry langsung meminum air putih itu dengan tandas tak tersisa. Setelah merasa agak enakan dia pun mau kembali ke kamarnya untuk kembali tidur


"Apa ada yang enggak enak..?" tanyanya yang baru saja keluar dari kamar mandi dan bertepatan Addry yang baru masuk


"Mas, aku tanya loh! Apa ada yang enggak enak biar aku buatkan sup hangat atau jahe.." tawarnya dengan lembut mendekati Addry yang kini sedang berdiri di balkon kamar


"Mas jangan gini dong! Aku mau kamu jujur apa salah pada diriku. Hingga kamu begitu marah dan benci padaku.."


Memegang lengan suaminya membuat Addry refleks mendorong Fatimah membuat wanita itu terdorong kebelakang dan terbentur di dekat meja


"Ma-mas..."


"Dek..!" ucap Addry panik mendekat kearah Fatimah yang sudah terduduk di lantai


"Sa-sakit..!"


Fatimah meringis merasakan perutnya yang begitu sakit. Bahkan sangat sakit dari biasanya


"Ma-maafkan Mas Dek.." air matanya jatuh melihat kondisi sang istri yang meringis memegang perutnya


"Ma-mas perut aku sakit sekali..!"


"Iya-iya Dek, kita ke rumah sakit ya.."


Addry terkaget saat dirinya yang baru saja mau mengangkat tubuh Fatimah. Pria itu langsung melihat tangannya saat terasa ada air. Ternyata ...


Darah!


Deg!


"Dek...." Addry menangis apalagi melihat kesadaran Fatimah yang kini mulai melemah


"Tidak ti-tidak jangan tinggalkan Mas, Dek. Mas minta maaf..."


Kini tinggal air mata lah yang menjadi penyesalan dari semua sikap dinginnya kepada sang istri


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya🙏


Author sangat sangat berharap kalian mau menyumbangkannya


Vote


Like


Komentarnya


Terimakasih 🤗


Happy reading ❤️🥀

__ADS_1


Maaf jika masih ada yang salah dalam kepenulisan🙏. Maklum ini karya pertamanya Author 😅


__ADS_2