
Setelah pulang dari melayat tadi. Fatimah memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Setelah itu baru dia mengambil anaknya dari Bunda
"Sini Bunda, Shaki nya.."
"Bagaimana tadi Nak..?" dengan memberikan cucunya kepada anaknya
"Alhamdulillah lancar Bun.." ucapnya dengan lesu
"Kenapa..?"
"Apa Bun..?"
Fatimah bingung akan pertanyaan dari bundanya
"Apa yang membuatmu sedih begini Hem..!"
Bunda dengan sigap langsung memeluk tubuh anaknya
"Bun, hiks... hiks.. Dia pulang kepangkuan Illah seperti mimpi rasanya.."
Dadanya merasa sesak
"Sebentar, sini Shaki nya. Bunda tidurkan dulu di kamarmu ya. Tunggu Bunda..!"
Setelah Bunda pergi, Fatimah kembali meneteskan air matanya. Saat mendengar cerita dari salah satu perawat yang khusus merawat Bianca
Perawat wanita itu mengucapkan segala ketakutan yang begitu tinggi dimiliki oleh Bianca. Sehingga, saat mereka lalai. Bianca malah memilih jalan pintas
"Coba cerita semuanya kepada Bunda, Nak.." ucap bunda dengan lembut
"Bun, kata perawat yang merawatnya. Ternyata Mbak Bianca selama di rawat. Di-dia selalu menderita karena rasa penyesalannya yang begitu dalam dan dia juga sering mendengar suara tangisan bayi. Apalagi jika malam.."
Fatimah tak bisa melanjutkan perkataannya, dia tak sanggup. Fatimah memang wanita yang begitu lemah. Apalagi dalam hal begini. Walaupun dulu Bianca selalu bersikap kurang ajar bahkan bersikap kasar dalam perkataan. Tak membuat Fatimah dendam dibuatnya
"Sudah-sudah. Kamu ikhlas ya Nak. Sekarang sebagai kewajiban mu. Kamu doakan dia selalu di setiap shalatmu ya..!"
__ADS_1
"Pasti Bun.."
"Addry, apakah dia sudah tau nak..?" tanya Bunda dengan tiba-tiba
"Tadi sebenarnya sudah aku telpon Bun, tapi tak juga di angkat dan sekarang malah di luar jangkauan.." jelasnya membuat bunda hanya bisa mengangguk saja
____
"Pak, apakah benar bapak tak mau pulang..?" ucap Tomi kembali memastikan, takut dia salah dengar tadi
"Sesuai janjiku Tom, aku akan pulang setelah tepat waktunya.."
"Baiklah Pak, jika itu sudah menjadi keputusan bulat darimu.."
"Saya pamit,"
"Hem.."
Setelah Tomi meninggalkannya, kini Addry berjalan mendekat kearah jendela. Pikirnya melayang entah kemana
"Maafkan aku Bi, aku belum bisa pulang dan mengantar mu ketempat terakhir peristirahatan mu, tapi doaku selalu menyertaimu.."
Addry merasa tak percaya dengan semuanya ini, tapi ini memang sudah suratan dari sang Illahi dan manusia tak bisa menawarnya
Tak lama terdengar suara adzan berkumandang. Menandakan kalau sekarang sudah masuk waktu shalat ashar
Pria tampan tadi dengan langkah cepat. Dia langsung bergegas menghampiri masjid yang begitu dekat dengan lokasi kafenya
Habis melaksanakan shalat ashar, hatinya kini mulai kembali tenang tidak seperti tadi yang tak karuan
______
Tok...
Tok...
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Neng. Makanannya sudah siap.." ucap Bibi setelah mengetuk pintu terlebih dahulu
"Iya Bi, sebentar lagi aku turun kok.."
Benar saja, Fatimah turun dengan seorang diri karena Shakinah telah kembali tertidur
"Makan yang banyak Nak.." ucap Ayah dan Bunda
"Iya Ayah dan Bunda. Terima kasih.."
Selesai makan, kini mereka telah duduk di ruang tamu
"Hem.." Ayah pun berdehem agar suasana tidak hening seperti sekarang ini. Itu saja pikirnya
"Nak, jangan jadi pikiran ya. Nanti kamu malah sakit.." ucap Bunda dengan nada khawatir yang tersirat di dalamnya
"Iya Bun.."
"Bagaimana hubungan mu dan Addry, Nak..?"
"Entahlah Bunda, Ayah.."
"Kok ngomong begitu..?"
"Aku bertambah merasa bersalah, jika kami-"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Nak. Maaf, mungkin juga dengan terjadinya musibah begini karena Allah ingin mendekatkan kalian berdua kembali.." dan ayah hanya mengangguk
"Jangan selalu berpikir dengan mengandalkan masa lalu, tapi andalan lah masa depanmu ya.."
"Bunda dan Ayah berharap semoga dengan kepulangan Addry. Kami akan mendapatkan kabar gembira.." kali ini Ayah yang berbicara
"Apakah sudah ada titik terangnya Nak..?"
"Sebenernya, aku sudah bisa menentukannya Bun, tapi aku akan menunggu Mas Addry pulang dulu.."
__ADS_1
"Ah, Bunda penasaran Nak. Apa yang kamu pilih. Omong dong sama Bunda.." desaknya
"Enggak ah! Nanti ya Bunda Setelah Mas Addry pulang..!"