
“Mas mandi duluan saja ya..!”
“Terus kamu Dek..?”
“Nanti setelah Mas selesai mandi..”
“Kita mandi bareng saja Dek, biar enggak makan waktu..”
“Enggak ah! Nanti lain-lain lagi..” kini duduk di balkon kamar
“Lain-lain gimana Dek, lagian juga sebentar lagi Zuhur loh Dek!”
“Ya Mas nya jangan mandi lama. Biar enggak makan waktu..”
“Sudah jangan nolak perintah suami Dek..” langsung menggendong tubuh Fatimah dengan alah bridal style
“Astaghfirulla Allazim, Mas turunin Fatimah dong. Nanti jatuh..”
“Sudah kamu diam saja, enggak akan jatuh kok. Mas kan kuat..”
Akhirnya kini mereka berdua telah keluar dari kamar mandi. Fatimah agak kedinginan ya walaupun hari sudah siang. Jari-jari berkeriput menandakan bahwa dia sudah lama mandi
“Dek, sini biar Mas tolongin..” ucapnya kepada Fatimah yang kini sudah mengambil pakaian untuk dia pakai dan Addry juga
“Fati bisa kok Mas..”
“Ini baju Mas..” menyerahkan kepada sang suami baju kokoh yang sudah lengkap
“Hem terima kasih istriku..”
“Iya suamiku, sama-sama..” dengan tersenyum sangat manis ke arah Addry
“Dek jangan manis-manis gitu. Rasanya Mas mau lagi tau..!” Fatimah hanya terkekeh seraya geleng-geleng kepala saja
Allahu Akbar…….
Allahu Akbar…….
Selesai juga mereka berdua shalat. Kini Fatimah sedang membereskan peralatan mereka gunakan shalat tadi dengan di bantu oleh sang suami
“Dek mau enggak kalau hari ini kita makan siangnya di restoran..?”
“Boleh Mas..” sambil melipat sajadah
“Perut kamu enggak sakit lagi kan..?”
“Alhamdulillah ..”
“Ah! Syukurlah kalau begitu..”
“Tapi lain kali, jika sakit jangan enggak mau di ajak ke rumah sakit lagi ya..!”
“Iya-iya suamiku..”
...🥀🥀🥀...
“Eh Pak lepas dong..”
“Ah! Iya maaf Din..” melepas pegangannya di kera baju Dinda
“Bapak kenapa sih main tari-tarik aja..” merapikan kembali dengan mulut yang tak berhenti mendumel, membuat Azmi tak henti-hentinya tersenyum
“Apa Pak..” jawabnya dengan ketus
“Wih! Jangan marah-marah dong Din. Nanti enggak cantik lagi tau..”
Cantik! Buktinya kamu enggak cinta sama aku Mas. Ya walaupun hati enggak bisa di paksa..
“Sudah Pak, ayo kalau mau jalan Pak. Nanti keburu siang..”
“Ini juga sebentar lagi siang Din..”
“Iya apa..?” ucap Dinda tak percaya
“Iya lah, nih kalau enggak percaya..” menampilkan layar ponselnya tepat di mukanya Dinda
__ADS_1
“Iya-iya selama itukah aku dandan..?” lirihnya bertanya dengan diri sendiri
“Iyalah sampai bosan aku nunggu kamu..”
“Oh! Jadi enggak ikhlas nih..”
“Ya sudah kalau begitu, saya enggak jadi pergi deh..!”
“Eh! Eh jangan gitu dong Din..”
“Aku cuma bercanda doang kok. Jangan di ambil hati ya..”
“Makanya kalau ngomong itu harus di saring dulu. Ada kadang waktu becanda dan ada juga waktunya serius.”
“Iya-iya deh Maaf..”
“Iya…”
Kini mereka telah sampai di restoran yang di inginkan. Setelah ada perdebatan kecil yang mereka lalui. Sebelum berangkat ke restoran
...🥀🥀🥀...
“Emangnya kita mau pergi makan kemana Mas..?” sedang sibuk dengan memoles sedikit make up di wajahnya
“Ke mana kamu mau Dek..”
“Ya aku terserah kamu saja Mas. Aku enggak tau di mana yang enaknya..”
“Sudah belum Dek, jangan cantik-cantik. Kalau mau cantik di rumah saja..” telah berdiri di belakang Fatimah
“Ini enggak berlebihan kok Mas. Cuma sedikit aja, biar enggak pucat..”
“Tapi kamu cantik enggak pakai make up. Apalagi di poles Dek..”
“Masya Allah Mas, suamiku ini pencemburuan sekali sih…”
“Iya dong, habisnya punya istri cantik..”
“Mas, cantik itu hanya titipan..”
“Iya Ustadzah nya Mas..” menggoda Fatimah. Wanita itu pun memilih diam dia sudah tau tak akan nada habisnya kalau berdebat dengan suaminya
“Eh! Waalaikumsalam Non. Mau kemana Non..?” ucap Bibi Sum melihat sang majikan telah rapi
“Ini Bi, Mas addry ngajak makan siang di luar..”
“Wah! Bibi masak banyak sekali Bi..” melihat separuh makanan yang telah terhidang di meja makan
“Iya Non. Maaf Non, pikir Bibi Non sama Tuan makan di rumah saja..” ucap Bibi Sum menundukan kepala merasa bersalah karena tak bertanya terlebih dahulu kepada Fatimah
“Ih! Jangan merasa bersalah gitu Bi..”
“Ini juga salah saya. Bibi kan mengira kami makan di rumah…” Fatimah tau sang Bibik melakukan tugasnya dengan baik. Karena memang mereka kalau libur pasti makannya di rumah saja, kecuali pada malam hari. Baru kadang tuh mereka makannya di luar
“Sekali lagi Bibi minta maaf ya Non..”
“Iya Bibi..” tersenyum
“Dek..” seru pria yang baru saja masuk ke dapur
“Iya Mas, ada apa..?”
“Enggak ada apa-apa kok Dek..”
“Ngomongin apa sih..?” ucap Addry saat melihat Bibi Sum yang menundukkan kepalanya
“Ini Mas, Bi Sum merasa bersalah karena masak nya kebanyakkan..”
“Jangan gitu dong Bi. Kami juga bersalah. Seharusnya kami beritahu dulu. Biar Bibi enggak kerepotan masak..”
“Bagaimana kalau Bibi bagikan saja ke tetangga Bi. Kalau enggak merepotkan Bibi..”
“Enggak Tuan..” jawab Bibi Sum dengan cepat. Fatimah dan Addry tersenyum mendengar Bibi Sum yang kelihatannya tak merasa bersalah lagi
“Kelarkan…” di balas anggukkan oleh Fatimah
__ADS_1
“Kalau begitu kami pamit pergi dulu ya Bi..”
“Iya Non, hati-hati..”
Tin…..
Tin…..
Mang Diman langsung membuka gerbang utama untuk kedua majikannya ini
“Mang kami pergi dulu ya..”
“Siap komandan..” ucapnya serasa bergerak seperti petugas
“Titip rumah ya Mang..”
“Aman Neng..”
“Kami pergi ya Mang. Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam..”
Sepanjang perjalanan, Addry tak henti-hentinya mencium tangan Fatimah
“Mas kalau lagi nyetir itu fokus dulu..”
“Iya Dek ini Mas fokus kok..”
“Fokus bagaimana orang kamu aja masih sibuk cium nih!”
“Enggak ngaruh Dek..”
...🥀🥀🥀...
“Kita makan di sini Pak..?” ucapnya tak percaya saat melihat restoran yang bernama ‘Vong Kitchen’
“Iya Din, kenapa kamu enggak suka..”
Bukan enggak suka Pak , tapi kantong ku enggak bisa nampungnya. Ucap batin Dinda berteriak
“Din..”
“Iya Pak..?”
“Ayo..!” hingga akhirnya Dinda pun ikut masuk ke dalam. Padahal tadi kalau bukan Azmi yang sudah masuk. Sudah pasti dia akan menolak ke sini
“Kamu mau makan apa Din..?”
“Sebentar Pak..” melihat menu makanan yang ada
Waw besar sekali harganya. Enggak cukup dengan isi kantong ku ini. Bisa-bisa aku bangkrut membeli ini…
“Bapak saja deh yang dulu..”
“Saya mau pesan makan yang ini saja Mbak..” tunjuk Azmi ke salah satu menu makanan
“Iya Tuan kalau Nona mau yang mana..?” Dinda langsung salah tingkah saat sang pelayan menanyai nya
“Eh! Saya pesan yang ini saja Mbak..” tunjuknya ke salah satu minuman yang harganya paling murah di sana
“Minuman..?”
“Iya Pak, kenapa ada yang salah..?”
“Katanya lapar, kenapa jadi minuman yang di pesan Din..?”
“Sudah kenyang saya Pak..”
“Sudah jangan sungkan. Mbak saya pesan yang ini satu..”
“Baiklah Tuan dan Nona. Mohon tunggu sebentar..”
Jangan lupa Like, Coment dan Vote nya ya!
Biar Authornya tambah semangat up nya.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah bersedia memberikan Author Like, coment dan Vote nya🥀
Lope lope deh! Author sama kalian 🥰🤭