
Addry tak sanggup rasanya melihat wanita yang di cintai kini menutup matanya mungkin akibat darah yang keluar lumayan banyak
"MANG DIMAN...!"
Mang Diman yang dipanggil membuatnya berlari tergesa-gesa. Karena teriakan Addry yang begitu lantas
"Astaghfirullah Tuan..." Mang Diman langsung kaget melihat darah yang berceceran jatuh dan melihat kondisi Neng Fatimah yang begitu lemah
"Mang cepat keluarkan mobil, kita ke rumah sakit..!" masih menitikan air matanya
"Baik Tuan.."
Setelah mobil di keluarkan dari garasi. Addry langsung memasukan tubuh Fatimah kedalamnya setelah Mang Diman membukakan pintu untuk mereka
"Mang cepetan ya, bawa mobilnya..!"
"Insya Allah Tuan.."
Sepanjang perjalanan terasa lambat bagi Addry, dia begitu sedih dan marah sekaligus dengan dirinya sendiri yang membuat istrinya sampai begini keadaannya
Ya Allah, hamba mohon. Maafkan atas kesalahan hamba. Tolong selamatkan istri hamba Ya Robb
"Dek, bangun. Jangan begini ya! Maaf Mas enggak sengaja tadi.." air mata pria itu terjatuh tepat di pipi Fatimah
"Mang agak cepat ya bawa mobilnya..!"
"Iya Tuan"
Mang Diaman dengan gerakan cepat keluar dari mobil dan membukakan pintu mobilnya untuk Addry. Addry dengan berlari membawa tubuh wanita yang kini begitu lemah
Addry tak perduli lagi dengan kharisma nya sebagai perusahaan terbesar di kota mereka
"SUSTER TOLONG ISTRIKU..!"
Lantas suster yang mendengar nama mereka di panggil berlari menuju orang yang berteriak sangat kencang tadi
"Maaf Tuan.." mereka langsung menundukkan badan saat tau siapa yang ada di hadapan mereka
"Cepat tolong istriku.."
Untung saja salah satu dari mereka membawa brankar untuk pasien
"Mari Tuan, baringkan tubuh Nyonya..!"
"Maaf Tuan sepertinya hanya sebatas disini anda menemani Nyonya. Biar Dokter yang nanganin beliau.."
Tak mau membuat keributan, Addry pasrah demi keselamatan sang istri dan calon anak mereka. Pria itu duduk di tempat duduk depan ruang Fatimah berada tadi. Dia menjambak rambutnya frustasi dengan semua ini
Dia menyesal sudah mendiamkan Fatimah mungkin kurang lebih dua Minggu. Seharusnya dia tak boleh begitu. Harusnya dia selalu ada untuk sang istri menemaninya sampai persalinan. Harusnya dia kesampingkan egonya demi calon anak mereka setidaknya
Hem tapi itu semua hanya tinggal penyesalan untuk seorang Addry Barack
"Tuan ini baju Tuan..."
Addry mendongakkan kepalanya. Melihat Mang Diman yang menyodorkan baju kepadanya
"Iya baju Tuan sudah dipenuhi oleh darah..!"
Addry langsung melihat ke depan bajunya dan ternyata benar kata Mang Diman. Bajunya sudah merah akibat darah yang di keluarkan oleh istrinya
"Terima kasih Mang.."
"Tolong tunggu di sini dulu ya! Sebelum saya kembali.." Mang Diman hanya menganggukan kepalanya
__ADS_1
Addry berjalan menuju kamar mandi umum yang disediakan oleh pihak rumah sakit. Dia kembali menitikkan air matanya saat sudah melepaskan baju kaosnya yang berlumuran darah
Suami macam apa kamu Addry sampai membuat istrimu celaka. ucap batinnya tersenyum mengerikan
"Bagaimana Mang..?" Addry bertanya setelah selesai Menganti bajunya tadi
"Dokternya belum keluar juga Tuan.."
Untung saja tak lama setelah itu. Seorang pria memakai baju khusus Dokter. Addry langsung menghampiri pria tersebut
"Bagaimana Dok..?" diikuti Mang Diman di belakangnya dengan tak sabaran Addry bertanya duluan
"Maaf Tuannya sepertinya-"
"Iya Dok, ada apa cepat katakan.." ucapnya dengan tak sabaran memotong pembicaraan sang Dokter
"Tuan Dokternya baru mau bicara, tapi Anda langsung memotong perkataan beliau.." ucap Mang Diman memberanikan diri untuk menyela
"Maaf Dok..!"
Sang Dokter tersenyum
"Begini Tuan, keadaan Nyonya sepertinya sangat buruk.." Addry langsung melotot kan matanya
"Akibat pendarahan yang di akibatkan ya. Kami terpaksa memakai jalur operasi.."
"Iya Dok, lakukan yang terbaik untuk anak dan istriku.." ucapnya dengan nada sedih
"Ini yang ingin juga saya sampaikan..!"
"Tapi maaf juga Tuan sepertinya anak anda akan lahir prematur jika lahir tak sampai bulannya..!" lanjutnya
Ya Allah, gara-gara perlakuanku yang tak sengaja membuat istri dan anakku celaka. Suami macam apa kamu ini Addry
"Iya Dok, lakukanlah yang terbaik untuk istri dan calon buah hati kami..!" ucapnya walaupun begitu berat karena anaknya lahir bukan lahir waktu yang sudah di tentukan
"Baik Tuan, doa kan juga ya!"
"Iya Dok.."
Setelah Dokter pria pergi. Addry terduduk lemas di kursi ruang tunggu. Mang Diman pun duduk di sampingnya
"Mang, aku laki-laki egois ya. Sampai membahayakan kedua orang yang aku cintai.."
"Sabar Tuan, doakan saja semoga Neng dan bayi Tuan lahir dengan selamat..!" memberikan semangat untuk Addry
"Maaf Tuan!"
"Iya Mang, ada apa..?"
"Maaf jika saya lancang, apakah orang tua Neng Fatimah tak di kabari terlebih dahulu masalah kondisinya!"
"Astaghfirullah lazim, iya saya lupa Mang. Baiklah sebentar saya telpon dulu Bunda.."
Addry berlalu pergi untuk menelpon mertuanya masalah kondisi anak mereka. Lantas orang tua Fatimah syok dan sedih saat mendengar perkataan Addry. Walaupun Addry belum mengatakan prihal apa sampai membuat anak mereka celaka begitu
"Belum juga keluar Mang, Dokternya..!"
"Belum Tuan.."
"Ya Allah, lama sekali.."
Sebenarnya kalau bisa, Addry sangat ingin menemani sang istri yang terbaring lemah itu, tapi karena aturan dari pihak rumah sakit apa boleh buat. Dia harus mematuhinya meskipun dia berpengaruh di rumah sakit ini, tak juga bisa melanggar peraturannya
__ADS_1
"Nak, kenapa Fatimah bisa sampai begitu..!" ucap Bunda Lisa dengan begitu khawatir
"Assalamualaikum..." ucap Ayah mengucapkan salam dulu dan Bunda Lisa langsung menundukkan kepalanya. Saat menyadari jika dia tak mengucap salam, mungkin karena kekhawatiran dia sebagi ibu itu lebih tinggi untuk anaknya
"Waalaikumsalam.." ucap mereka dengan serempak
"Nak, bagaimana apakah sudah ada kabar baik..?" tanya Ayah kepada menantunya yang begitu kacau
Bunda Lisa memilih mengintip ruangan tempat anaknya berjuang
"Maaf Ayah ini semua karena saya..!"
"Sudah jangan menyalahkan diri sendiri ya!"
"Kita berdoa saja semoga semuanya lancar.."
"Aamiin.."
Maaf Ayah ini semua tak akan terjadi. Jika bukan karena sikap egois ku
"Yah, aku mau keluar dulu..!" Ayah pun menganggukan kepalanya
Addry menyusuri setiap jalan dengan gontai menuju tempat kecil yang di sediakan oleh pihak rumah sakit untuk umat muslim mengaduh kepada Sang Illahi
Pria tampan itu langsung menuju tempat pengambilan wudhu
Ya Robb, hamba menghadap kepadaMu memohon ampun atas segala dosa dan perbuatan hamba kepada istri hamba. Hamba mohon kepada Engkau mudahkanlah urusan segalanya untuk istri dan anak Hamba. Hamba ingin menembus segala kesalahan hamba kepada mereka. Kedua orang yang hamba sayangai dan cintai
"Habis dari mana Nak..?"
"Habis dari kamar mandi Bun.."
"Hem.." Bunda pun menganggukan kepalanya
Ceklek...
Pintu terbuka. Mereka berempat langsung menghampiri pria yang berbaju putih itu
"Bagaimana Dok..?"
"Begini Tuan, alhamdulilah anak Tuan lahir dengan selamat.."
"Alhamdulillah.." ucap mereka dengan lega
"Tapi-"
"Tapi apa Dok..?" kali ini Bunda Lisa yang bertanya sedangkan Addry mungkin sudah tau apa yang akan di katakan oleh sang Dokter
"Anak Tuan lahir seperti yang saya katakan tadi. Prematur!"
Mata Bunda Lisa berkaca-kaca saat mendengar cucu pertamanya harus lahir prematur
"Iya Dok.."
"Dan bagaimana keadaan istriku Dok..?"
Dokter pun terdiam
"Dok!"
"Maaf keadaan Nyonya saat ini koma Tuan. Mungkin akibat dari pendarahan yang begitu banyak beliau keluarkan membuat kesadarannya hilang. Doakan saja semoga beliau cepat sadar dari komanya.."
Addry kembali limbung mendengar tutur kata Dokter, sedangkan Bunda Lisa menangis tersedu-sedu dan Ayah hanya bisa menenangkannya
__ADS_1