Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 49


__ADS_3

"Dek, kenapa kamu nggak mau tau apa jenis kelamin anak kita..?"


Addry langsung bertanya. Setelah mereka berdua telah masuk kedalam mobil


"Bukannya nggak mau mas, tapi aku maunya. Pas lahiran nanti jadi kejutan kita.." tersenyum seraya menggenggam tangan sang suami


"Masya Allah Istriku, mas kira kamu kenapa..!"


"Benar juga ya kata kamu. Biar nanti jadi kejutan bagi kita ya. !" lanjutnya


Setelah mengetahui maksud sang istri, Addry langsung menjalankan mobilnya


Sesampainya di garasi mobil. Addry melihat kesamping karena dari tadi tak ada yang keluar suara wanitanya dan ternyata benar. Wanitanya sekarang sedang tertidur nyenyak


"Sungguh indahnya ciptaan MU dan sekarang keindahan itu sudah menjadi milk ku. Halal ku. Terimakasih Ya Allah. Engkau titipkan bidadari ini kepadaku dan ia sekarang mengandung malaikat kecilku.."


Akhirnya, Addry pun mengendong tubuh sang istri. Dia tak tega membangunkan Fatimah


"BI tolong bukakan pintu kamar saya Bi.." ucap Addry


"Baik tuan.."


Addry menidurkan badan sang istri dengan sangat pelan, seakan barang yang muda pecah


Cup!


"Selamat tidur istriku..."


Setelah mencium kening Fatimah. Akhirnya, Addry langsung masuk ke kamar mandi. Karena menurutnya jika dari rumah sakit. Harus mandi karena kita tidak tau, sepanjang perjalan apakah itu bersih atau tidak itulah pikirnya


🍃


"Mau kemana pak Azmi dan matanya juga berkaca-kaca gitu..!" ucapnya setelah Azmi pergi


"Ah! Dinda kamu terlalu kepo urusan orang lain tau..." hingga kemudian, Dinda pun menyibukkan dirinya saja. Agar tak terlalu memikirkan seseorang yang sangat ia kagumi


Di dalam mobil


"Ya Allah, kenapa harus begini sih...!"


Flashback On


Drttt....


Kening Azmi berkerut saat menerima telponan dari rumah. Biasanya kalau telpon itu dari rumah pasti dalam keadaan gawat


"Ya Halo, assalamualaikum..."


"Iya, waalaikumsalam.." jawab Azmi


"De..n...!" ucap Bibi dengan terbata-bata

__ADS_1


"Iya BI, ada apa..." kini suara Azmi bergetar menandakan jika dia juga kahwatir


"Ibu den..." Bibi juga belum sanggup melanjutkan kata-katanya


"Iya BI, Azmi dengar. Apa BI, jangan buat aku was-wasan BI.."


"Ibu jatuh dari tangga Den dan be..liau... meninggal dunia..." rasanya tak sanggup, saat membicarakannya. Bibi pun langsung menangis. Sedangkan Azmi dia pun langsung terduduk di lantai. Hingga suara pintu, membuat dia langsung berdiri dan ternyata itu sang sekretarisnya yaitu Dinda


Flashback off


Azmi menangis didalam mobil. Ia tak menyangka akan begini. Mama satu-satunya telah pergi meninggalkan dia dan yang paling parahnya lagi. Dia tak melihat dan mendampingi sang Mama saat menghembuskan nafas terakhir


Mobil yang dikendarai Azmi masih berjalan. Walaupun sempat banyak yang merasa kesal dan marah kepada sang pengemudi. Bagaimana tidak Azmi membawa mobil sangat-sangat kencang dan tak jarang dia menerobos lampu merah. Tujuannya hanya satu, ia ingin cepat-cepat sampai. Dia ingin memangku sang Bunda sebentar sebelum di mandikan


"Mama... Tidak.. Tidak...!" ucapnya bergegas masuk kedalam rumah. Bahkan dia tak sempat mematikan mesin mobil. Dia sangat sedih saat melihat badan sang Mama yang sangat di sayangi nya kini telah terbujur kaku


"Ma..Ma... Bangun, jangan dulu pergi. Siapa nanti yang sering tegur Aku jika melakukan kesalahan..." sambil memeluk tubuh Mamanya


"Ma... Siapa yang akan membangunkan aku jika sholat subuh. !"


"Bangun Ma...!" ucapnya, sungguh baru kali ini Azmi menangis meraung-raung dan baru kali ini juga orang-orang melihat pengacara kondang yang di kenal sangat tegas. Tapi kini sosok tegas itu menjadi rapuh di hadapan mereka


"Aku nggak mau sendirian Ma..." dia tak mementingkan lagi imejnya, biarlah orang mau bilang dia cengeng atau apa


🍃


"Mas sudah mandi...!" tanyanya yang baru saja bangun


"Iya dek.."


"Emang mandi nggak boleh gitu, kalau masih siang..?" candanya


"Mas ini, suka sekali bercanda. Orang lagi serius mas!"


"He he, maaf dek. Kita kan habis dari rumah sakit. Nah di sana kan kita tidak tau itu bersih atau tidak. Jadi ya, mas memutuskan untuk mandi..." jelasnya


"Mending kamu mandi dulu gih..." serunya


"Tapi mas, aku males mandi..."


"Enggak boleh kayak gitu sayang, kamu mau calon baby kita kenapa-kenapa.." bujuk Addry agar sang istri mau mengikuti perkataannya


"Iya-iya aku mandi.." Jika sudah menyangkut sang bayi, Fatimah bisa apa!


Setelah sang istri masuk kedalam kamar mandi. Addry langsung berjalan menuju lemari. Dia mengambil seprai dan langsung mengganti seprai kasurnya menjadi yang baru


Sudah mengganti seprai baru. Dia kembali berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil pakaian sang istri. Baru ingin meletakkannya di atas ranjang. Sebuah suara yang begitu lembut mengagetkannya


"Mas...!" Seru Fatimah yang saat ini baru keluar dari kamar mandi yang hanya memakai jubah mandinya


"Astaghfirullah lazim adek!" dia mengelus-elus dadanya

__ADS_1


"Mas kenapa repot-repot nyiapin pakaian untuk aku sih! Nggak baik mas, Fati berasa nggak sopan.." ucapnya sambil mengambil pakaian yang ada ditangan sang suami yang belum sempat di letakan tadi


"Ya ampun dek, jadi kamu kayak gitu. Cuma karena ini..." Addry langsung tersenyum geli


"Cuma kata mu mas! Itu nggak cuma menurut Fati. Seharusnya aku yang melayani segala keperluan mas. Bukannya mas..."


"Sudah kan mas sendiri yang mau. Bukan atas suruhan mu..."


"Jadi jangan merasa bersalah ya...!" menenangkan Fatimah


"Mending kamu pakai baju gih! Nanti masuk angin.." Fatimah langsung menurutinya


Melihat sang istri sudah memakai baju, Addry berjalan menghampiri Fatimah yang saat itu sibuk di depan meja rias


"Sini dek biar mas bantu mengeringkannya.." tawarnya


"Tapi mas!.."


"Sudah sih! Kamu selalu merasa bersalah.."


Hingga akhirnya, Fatimah langsung menuruti segala kehendak sang suami


🍃


"Kenapa pak Azmi belum kembali ya..!"


Dinda heran, tidak biasanya sang atasan pergi terlalu lama. Seperti ini


"Apa ada sesuatu ya..!"


"Tapi nggak mungkin deh! Kalau ada pertemuan pasti aku ikut. Secara kan aku sekretarisnya.." masih kahwatir


"Ah mending aku telpon deh.."


Drttt....


Azmi tak mengangkat telpon itu, meski dia merasakan getarannya. Dia hanya fokus melihat sang Mama Yang sudah masuk kedalam liang lahat itu. Dia merasa tak rela!


Drttt....


Dua kali telponnya tak juga di angkat olehnya. Azmi masih mendiamkannya. Dia tak mau melihat ke lain. Dia merasa hari ini ia menjadi orang yang sangat menyedihkan


Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi atau berada di luar jangkauan...


Sudah dua kali Dinda menelpon dan yang menjawabnya hanya suara operator


"Hem, ada apa ya..!"


"Kenapa perasaanku nggak enak ya.."


"Sudahlah Dinda, kamu ini. Terlalu menampakkan suka kepada orang tau.."

__ADS_1


"Mungkin pak Azmi ilfil ya sama aku.." Hingga akhirnya hanya pikiran jelek-jelek lah Yanga da dalam pikirannya


Mama!


__ADS_2