
"Astaghfirullah lazim Yah, anak kita Yah..." Ucap Bunda menangis tersedu-sedu
"Tenang Bun, Fatimah pasti bisa melewati masa komanya. Kita doa kan saja ya!"
Ayah berusaha menenangkan istrinya agar tak terlalu berlebihan. Addry bangun dari duduknya tadi dan mencengkram baju sang Dokter
"Dokter pasti bercanda kan?"
"Maaf Tuan, ini memang benar. Untung saja tadi di bawa cepat kesini kalau tidak mungkin-"
"Sudah Dok.."
Addry langsung memotong perkataan sang dokter. Dia tak sanggup saat mendengar lanjutannya mungkin karena sudah tau apa maksud dari sang dokter tersebut
"Dok, apakah saya boleh melihat istriku..?"
"Boleh Tuan, tapi tunggu kami memindahkan terlebih dahulu Nyonya Fatimah ke ruangan lain.."
"Baiklah.."
Tak sadarkah mereka, jika mereka melupakan seorang anak kecil yang baru lahir juga sebagai anggota baru bagi keluarga mereka
*
*
*
*
*
Fatimah telah di pindahkan di ruangan VIP untuknya. Keempat orang tadi pun mengikuti Fatimah yang di pindahkan itu. Addry mengalahkan biarlah kedua orang tuanya Fatimah yang dulu menjenguk anak mereka
"Maaf Tuan..!"
"Iya Mang Diman, ada apa..?"
"Apakah Tuan, tidak terlebih dahulu menjenguk anak Tuan..?"
"Astaghfirullah lazim, aku lupa Mang. Iya anakku kan belum ada yang melihat kondisinya.."
"Kalau begitu saya mau melihat kondisi anak saya dulu Mang.."
"Apakah saya boleh ikut juga Tuan. Saya mau melihat apa jenis kelamin anaknya Tuan.."
Kedua pria yang berbeda generasi itu berjalan menyusuri setiap ruangan dan sampailah mereka di tempat khusus bayi
"Permisi Sus..!"
"Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu..?"
"Saya mau melihat anak saya Sus.."
"Atas nama siapa Tuan.."
"Fatimah. Fatimah Az-Zahra Sus.."
"Mohon tunggu sebentar ya Tuan.."
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya sang suster dapat atas nama yang dikatakan oleh Addry tadi. Suster membawa Addry dan Mang Diman tadi menyusuri setiap ruangan bayi dan sampailah mereka di ruangan bayi kecil yang di dalam ruangan kaca itu sendiri
Hati Addry kembali menangis, menyesal melihat sang anak mereka yang ada di dalam dengan peralatan yang menempel di tubuh kecil mungil itu
"Anakku..." Addry hanya bisa melihat dari luar saja. Tanpa bisa masuk
"Maafkan Ayah Nak. Ini semua tak akan terjadi, jika Ayah tak emosian.."
"Sudah Tuan jangan menyesali diri sendiri. Tidak baik.."
"Sus, apa jenis kelamin anak saya Sus..?"
Lantas alis Suster berkerut saat mendengar pertanyaan Addry. Tak mungkin kan jaman sekarang sudah bisa USG untuk mengetahui, tapi ini..?
"Kami belum pernah melakukan USG Sus.."
"Selamat Tuan, anak anda perempuan.."
"Terima kasih Mang, ternyata istriku sudah melahirkan sosok kecil yang cantik...!" Addry tersenyum sekaligus menangis melihat kondisi si kecil buah hati mereka
*
*
*
*
*
"Silahkan Nak..!" Ucap Ayah mempersilahkan Addry masuk. Setelah mereka selesai melihat kondisi sang anak
"Iya Ayah.."
Padahal ini tengah malam. Untung saja ada penjagaan juga di depan gerbang kompleks mereka
"Dek.." rasanya tak sanggup melihat Fatimah seperti ini memang tak ada luka lebam di badannya, tapi mungkin akan berbekas di dalam hati seorang Fatimah
"Maafkan Mas, Dek. Semua salahku.."
Sudah dua hari sejak kejadian Fatimah koma dan kini Alhamdulillaah seorang wanita yang kini sudah berstatus baru menjadi seorang ibu. Sudah sadarkan diri
"Alhamdulillah Nak kamu sadar juga.." lantas orang tuanya sujud syukur atas nikmat yang di berikan oleh Sang Khaliq
"Mas Addry kemana Bun..?"
"Dia lagi ada urusan di kantor Nak. Jadi dia terpaksa untuk pergi dulu meninggalkan kamu..!" Fatimah hanya menganggukkan kepala saja
"Ayah?"
"Ya sama Nak..!"
Fatimah merasa aneh saat perutnya yang dulu buncit. Kini sudah kembali datar. Air matanya menetes entah apa yang di pikirannya
"Kenapa Nak, apa masih ada yang sakit..?" Bunda Lisa khawatir melihat anaknya
"Anakku mana Bun..?" mata Fatimah kembali berkaca-kaca menatap mata sang Bunda yang begitu khawatir kepadanya
Segala pikiran buruk pun menyeruak di ulu hati. Dia takut, jika harus kehilangan anaknya. Anak pertama baginya
__ADS_1
Sungguh Fatimah tak bisa lagi rasa menyajalani hidup, jika harus kehilangan malaikat kecilnya
"Bu.. hiks, anakku mana Bun..!" Fatimah berteriak sehingga membuat Bunda Lisa kewalahan dan kesusahan untuk menjelaskan kepada Fatimah anaknya
"Nak, sabar. Istighfar Nak.." ucapnya begitu lembut untuk menenangkan hati anak perempuannya agar tak terbawa oleh pikiran buruk
"Ma-mana anakku Bun.." ujarnya dengan lemah. Setelah mengucapkan istighfar. Fatimah lumayan tenang
"Anakmu sudah di lahirkan Nak.." lantas membuat Fatimah senang dan langsung menyeka air mata yang sedari tadi bercucuran
"Benarkah..?" tanyanya begitu senang membuat Bunda menganggukkan kepala
"Ayo Bun, aku mau melihat anakku..!" bergerak dari bangsal untuk turun
"Sebentar Bunda bantu ya..! Sabar.." Fatimah tersenyum
"Aku enggak sabar lagi Bun ingin melihat anakku. Oh iya apa jenis kelaminnya Bunda..?"
Bunda Lisa terdiam sejenak dari aktivitasnya yang sibuk merapikan infus agar tak menyakiti anaknya
"Nanti juga kamu tau sendiri Nak.."
"Ah! Iya benar kata Bunda.."
"Ayo Bun. Cepat, aku udah enggak sabar untuk melihatnya.."
Semoga nanti kamu kuat Nak. Saat melihat keadaan cucu Bunda
Rasanya tak sanggup Bunda Lisa membayangkan. Bagaimana reaksi Fatimah saat melihat keadaan buah hatinya
Sepanjang perjalanan Fatimah tak henti-hentinya tersenyum. Sakit di pinggangnya pun tak terasa. Mungkin kekuatan dari rasa rindu yang selalu dia nantikan untuk melihat malaikat kecilnya lahir kedunia ini
Alis Fatimah berkerut saat mereka berhenti di depan pintu dan dinding kaca. Menampilkan satu box berisi bayi mungil yang di pasang berbagai alat
"Bun, kenapa kesini..!"
"Bukannya ruang bayi di sana tadi..?" tunjuk nya kearah belakang
"Nak, katanya mau ketemu sama anakmu..?"
Fatimah mengangguk
"Itu dia anakmu. Cucu Bunda..!" Bunda menunjuk pada bayi mungil yang dilihat oleh Fatimah tadi dan menitikan air matanya
"Ja-jadi...!"
"A-anak a-aku itu Bun yang terbaring-" sudah Fatimah tak bisa melanjutkan perkataannya saat melihat anggukan dari sang Bunda
"Anak Bunda..!"
Fatimah menempelkan diri di dekat dinding kaca. Menangis dan rasanya tak kuat untuk berdiri. Dia tak sanggup
"Maafkan Bunda Nak yang tak bisa menjaga mu..."
Fatimah mengelap air matanya dengan kasar. Dia pun tak merasa jika kini jarum infus pun sudah melenceng. Hingga menimbulkan darah di tangannya
"Bunda bukan Bunda yang baik Nak. Lihat kamu sampai begini, hiks hiks..."
Sudah Fatimah tak kuat akhirnya wanita itu terduduk sembari menangis. Membuat Bunda Lisa langsung membawa tubuh anaknya di dalam dekapan seorang ibu
__ADS_1
"Sabar Nak, ini semua ujian..."
Ya walaupun Bunda dan Ayah belum tau apa penyebabnya