
Kini matahari telah redup dan sebentar lagi waktu Maghrib masuk. Fatimah telah sibuk menyiapkan segala keperluan untuk shalat Magrib mereka
Addry baru keluar dari kamar mandi. Dia sudah melihat Fatimah yang sedang sibuk merapikan sajadah untuk mereka
"Allahu Akbar...."
*
*
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu..."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu..."
Setelah selesai memanjatkan doa walau hanya sebentar, Fatimah langsung mendekat kepada sang suami dan mengulurkan tangannya untuk mencium tang Addry
"Mas maaf ya jika aku banyak salah.." ucapnya seraya meneteskan air mata
"He'em iya.."
Keduanya kini sudah berbaring di atas ranjang. Setelah selesai shalat Isya, mereka memilih langsung ke kamar saja, tapi bukan untuk bermesraan. Melainkan tenggelam akan pikiran sendiri-sendiri
......................
Sudah seminggu kepergian sang Mama mertua dan hari ini mengingat tujuh hari Mama Mirna kembali ke pangkuan illahi
Addry kembali menangis walaupun tak meneteskan air mata yang banyak seperti kemaren
"Nak, kamu sudah makan..?" tanya Bunda Lisa di sela-sela acara
"Belum Bun.."
"Kenapa, Hem..?"
"Anu, aku ma-. Belum lapar Bun.." Bunda Lisa dapat merasakan kesedihan Fatimah. Dapat di lihat cara Fatimah memandang Addry dari kejauhan
"Kamu harus kuat Nak. Jangan lemah, kasian untuk janin yang ada di perut mu dan suami mu juga butuh support. Agar dia tak salah mengambil langkah.." nasihat Bunda Lisa
"Iya Bun..."
Beberapa jam kemudian
Akhirnya acara tujuh hari setelah meninggal Mama Mirna. Semua orang yang berdatangan tadi kini mulai sepi. Tinggallah Bunda Lisa dan papa
"Nak Bunda pulang dulu ya sama Ayah..!" tutur Bunda dengan lembut kepada Fatimah yang kini sedang melamun di teras rumah
"Iya Bun, hati-hati ya. Ayah jangan cepat-cepat bawa mobilnya..!"
"Siap komandan..!" dengan gerakan seperti mililiter Ayah peragakan kehadapan kedua wanita yang sangat di cintai dan disayangi
"Ha ha ha..."
Ayah tersenyum senang melihat kedua wajah wanitanya tertawa lepas. Fatimah mengelap sudut matanya , sedikit basah karena ulah sang Ayah
"Kapan-kapan Bunda sama Ayah main ke sini lagi ya..!" ucapnya dengan penuh harapan
__ADS_1
"Iya anak Bunda.."
"Katakan ya! Sama mantu Ayah. Kami pulang dulu!" Fatimah menganggukan kepalanya sebagai jawaban dari perkataan sang Ayah
"Ingat jaga kesehatan, kasian cucu Ayah kalau sakit.."
"Ah! Ayah, enggak Ayah katakan. Fatimah akan selalu menjaganya!" mengelus perutnya yang menendang dengan kuat di dalam
"Dadah!"
"Assalamualaikum..!"
"Waalaikumsalam!"
Fatimah masih setia di depan teras. Walaupun sebentar lagi waktu magrib
"Non, bentar lagi masuk Maghrib loh!"
"Belum mau masuk Non..?" mendekat
"Iya Bi, bentar lagi!"
"Aku masih mau melihat suasana petang.."
"Rasanya sudah lama tak melihat sunset.." wajah cantik itu tersenyum hampa melihat pemandangan yang begitu indah
******
Drt.... Drt.....
"Iya, assalamualaikum.." ucap orang yabg diseberang sana dengan penuh semangat
"Waalaikumsalam..."
"Ada apa Mas..!" ponselnya di tegakkan di dekat cermin sedangkan gadis itu sibuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer
"Kamu baru selesai mandi Din..?"
"Iya Mas, kenapa..?"
"Jangan mandi terlalu malam Din. Enggak baik tau..!"
"Ini belum malam Mas, masih petang. Lihat Maghrib saja belum loh!" ucapnya dengan ngeyel
"Tuh kan, dibilang ngeyel. Coba nurut dikit deh kalau di kasih perhatian itu😞.."
"Iya Mas, Dinda enggak lagi deh! Mandinya malam.."
"Janji ya..!"
"Iya janji kamu.."
"Sudah Mas, sudah adzan. Nanti lanjut ya..!"
"Iya Din, shalat ya..!"
__ADS_1
"Iy-iya..."
*******
"Mas, mandi gih. Sudah Maghrib.."
"Hem..."
"Nanti lanjut lagi tidurnya ya !" ucapnya sekali lagi dengan penuh kelembutan
"Iya.."
Addry langsung bangun dari tidurnya untuk menuju kamar mandi
"Enggak usah di tunggu. Mungkin aku lama mandinya.."
"Enggak papa kok Mas, aku tunggu ya..!"
"Terserah!"
Astaghfirullah lazim, Mas. Kenapa perlakuan mu kini semakin kasar dan cuek. Aku kira hanya dua hari setelah Mama meninggal saja kamu kasar, tapi sepertinya aku salah. Ini saja sudah tujuh hari. Sikapmu tak kunjung berubah
Allahu Akbar....
Beberapa menit kemudian
"Mas, makan yuk!"
"Belum mau!" langsung menidurkan tubuhnya di atas ranjang
"Mas nanti kamu sakit..!"
"Sudah, kamu tuh yang makan. Kasian anak ku belum di kasih makan.."
"Mas, maaf jika. Aku banyak salah ke kamu. Maaf juga kalau aku enggak sempurna. Semoga kamu tidak akan seperti ini lagi Mas. Aku rindu sikapmu yang selalu manis kepadaku.." terangnya sebelum pergi keluar dari kamar
"Baiklah jika kamu belum mau makan. Biar aku makan sendiri saja..."
Pintu tertutup, Addry bangun dari tidurnya. Dia langsung menjambak rambut dengan sangat kuat. Dia kesal dengan hatinya yang masih saja marah kepada sang istri. Dia juga marah karena belum mengatakan apa sebabnya di marah kepada Fatimah
Setelah selesai makan, Fatimah tak lupa membawa makanan yang sudah berisi lengkap dengan nasi dan lauknya, sedangkan air memang selalu tersedia di dalam kamar mereka
"Mas makan dulu..."
Fatimah meletakkan nampan tersebut di nakas dekat di samping Addry. Wanita itu memilih tidur terlebih dahulu saja daripada dia tak bisa mengontrol diri dan nanti berakibat fatal pada calon anaknya. Jadi dia memilih jalan aman saja
Happy reading ❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya
Vote
Like
komentar
__ADS_1
Terimakasih ya 🤗 atas keikhlasannya