Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 123


__ADS_3

Hari ini Fatimah akan keluar rumah karena ada janji dengan Dinda untuk menemani sang sahabat pergi ke suatu tempat


“Assalamualaikum..”


“Waallaikumsalam..” jawab Dinda yang sangat sibuk dengan ponselnya, tanpa menoleh


“Sibuk sekali sih yang sebentar lagi mau jadi pengantin baru ini..!”


“Ah! Bunda nya Shaki kok pintar sekali sih nyindirnya..” ujarnya sambil memasukkan ponsel ke dalam tas selempangnya


“Ayo masuk Fati, aku udah lama nungguin kamu. Tau enggak, kayak udah jamuran saja tempat yang aku duduki..?” celetuknya dengan kesal


“Jangan galak-galak dong. Masa mau jadi pengantin baru galak gini. Nanti yang ada pengantin prianya kabur deh di malam pertama. Ha ha..”


“Fati, kamu. Ah entahlah..”


“He, jangan ngambek Din. Maaf tadi aku sibuk banget karena Shaki enggak mau aku tinggal..” ujarnya minta maaf sambil berjalan cepat karena sedang mengejar Dinda yang merajuk


“Maaf ya, jangan gitu dong. Nanti enggak cantik lagi loh..!”


“Aku bukannya marah, tapi kesal aja ke kamu Fat. Kenapa enggak kabarin aku kalau mau datang terlambat..!”


“Aduh maaf Din, aku enggak sempat megang ponsel, lihat ini aja lupa bawanya..” membuka tas selempangnya dan dikasih lihat ke hadapan sang sahabat


“Ya, aku maafin..” ujarnya merasa kasiahan lihat mata Fatimah yang seperti mata panda saja

__ADS_1


Dinda sebenarnya hanya kesal, bagaimana tidak janjian mereka habis Asyar temuan di salah satu butik. Malah hampir jam setengah lima Fatimah sampai. Biasanya dia tak akan marah kalau lama menunggu, tapi entah untuk saat ini. Dinda sangat sensitif, apa itu faktor dari PMS atau apalah lah. Hanya Dinda dan Tuhan lah tau


*


*


*


Hari ini Addry sibuk dengan laporan yang sangat ingin dia kejar untuk segera selesai karena pria itu sungguh sangat ingin pulang untuk bisa bertemu kembali dengan anaknya dan wanitanya itu. Rasanya Addry sungguh tak sabar lagi ingin cepat-cepat menikahi Fatimah, agar dia bisa mengurung wanitanya untuk tetap di rumah saja. Hari ini sudah hampir dua minggu dari lamaran sang Papa kepada keluarga Fatimah


Addry langsung mengambil ponselnya dengan cepat pria itu menekan salah satu nomor yang sangat spesial didalam ponselnya


“Halo, assalamualaikum..” jawab yang di seberang dengan suara yang agak bisik-bisik


“Waalaikumsalam, kamu lagi apa Dek..?” ucapnya sangat kentara menunjukkan kerinduan yang begitu mendalam. Padahal tadi siang mereka melakukan video call


Kening Addry berkerut, pikirnya untuk apa Fatimah ke sana karena wanitanya itu sangat jarang membeli pakaian di butik


“Kamu lagi shopping ya..!” tebaknya, agar mengetahui apa yang sedang dikerjakan oleh Fatimah disana


“Bukan aku Mas, tapi Dinda..”


“Kamu lupa ya kalau lusa dia akan melakukan ijab Kabul..” lanjutnya


“Ah, iya benar ya. Aku lupa Dek, habisnya yang aku ingat hanya kamu, kamu dan anak kita saja..”

__ADS_1


“Mas, kamu ini sangat suka banget sih! Ngegombal ..” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala


“Iya Dek, sudah kebiasaan aku, tapi Cuma kamu saja yang jadi korban gombal aku he he..”


“Nanti Mas jemput ya..!”


“Eh! Enggak usah Mas. Kamu pasti capek, udah pulang belum...?” tolaknya, Fatimah tak mau Addry kesusahan untuk mengantarnya pulang ke rumah, tak taukah Fatimah kalau orang yang di seberang sana tak pernah bosan untuknya


“Udah pokoknya jangan ngebantah, nanti Mas jemput. Sekarang Mas masih ada sedikit lagi yang mau di kerjakan..”


“Jangan Mas, biar-”


Belum sempat wanita itu melanjutkan, satu kalimat yang membuatnya hanya menjawab dan menghela nafas saja karena sudah kebiasaan pria itu yang tak mau di bantah


“Assalamualaikum..”


Sambungan panggilan pun terputus tanpa mendengar jawaban dari Fatimah


“Huh, waallaikumsalam..”


Fatimah langsung membuka aplikasi WA untuk memberihkan alamat butik yang mereka datangi ini karena tadi Addry tak sempat memintanya


“Siapa Fati..”


“Astaghfirulah alazim, Masya Allah..” ucapnya beristighfar sambil memuji tak percaya melihat penampilan yanga da di depannya bagaimana tidak Dinda tampil dengan pakaian Syar’I membuatnya sampai tak mengenali kecantikan yang ditampilkan oleh Dinda

__ADS_1


“Kamu cantik banget Din..”


Senyum Dinda mengembang mendengar pujian yang di lontarkan untuknya


__ADS_2