
"Bagaimana Pak..?" tanya Tomi kepada Addry yang sibuk memeriksa laporan keuangan kafenya yang berada di luar kota
"Hem, aman kok.." jawabnya
"Jadi, Bapak nggak usah lama-lama dong di sini..?"
"Tidak Tom, aku memilih di sini dulu selama satu Minggu .." menaruh laporan berkas itu kembali di meja
"Kenapa..?" Tomi bingung ada apa yang telah terjadi. Padahal, pikirnya Minggu ini nanti adalah hari dimana Fatimah memberikan jawabannya
"Aku tidak sanggup Tom,"
"Aku tidak sanggup. Jika nanti dia memilih melanjutkan kasus penceraian kami.." ucapnya dengan penuh ke frustasian yang tersirat di dalamnya
Addry menghembuskan nafasnya dengan kasar
"Jika dia menerima ku, aku merasa malu duduk kembali bersanding dengannya.."
"Aku manusia pendosa Tom, berharap mendapatkan istri yang shalihah.."
"He he, tidak masuk akal kan!"
"Tapi apa salahnya kan..!"
"Tidak ada yang salah Pak, tapi saya berharap hubungan Bapak dan nona kembali seperti semula dan jadikan masa lalu sebagai pelajaran untuk kembali memulai. Tidak mungkin dalam menjalani rumah tangga tak ada masalah, semua orang pasti pernah mengalaminya. Tergantung orang itu, menyikapinya dengan bagaimana, tapi jika itu nona. Aku yakin, pasti beliau memilih kembali bersama dengan Bapak..!"
__ADS_1
"Aku berharap begitu Tom.."
"Ya sudah, mending kamu cari makan deh..!" usir Addry kepada Tomi agar pergi dari ruangannya. Dia ingin sendiri dulu
"Bapak lapar, baiklah saya beli dulu ya..!"
"Kenapa aku belum siap ya menerima jawaban dari Fatimah.." ucapnya setelah ditinggal pergi oleh Tomi
*
*
*
"Bun.."
"Aku mau bertanya..!"
"Iya silahkan, Bunda denger kok.." ucapnya sambil menimang-nimang cucu perempuannya
"Kalau menurut Bunda, enggak apa-apa aku kembali dengan Mas Addry?"
Lantas mendapat pertanyaan seperti itu, Bunda memberhentikan kegiatannya dan mulai menghadap serius kearah Fatimah
"Apa kamu masih meragukannya Nak..?"
__ADS_1
"Entahlah Bun, saat ini aku masih dalam kebingungan.." keluhnya
"Nak kalau menurut Bunda, Bunda sangat berharap jika kamu dan Addry kembali bersama, itu berarti cucu Bunda akan mendapatkan perhatian langsung dari Ayah dan Bundanya. Tanpa terbagi oleh orang lain, tapi itu tergantung oleh dirimu sendiri karena kamu yang menjalaninya nanti.."
"Masih ada satu Minggu lagi kan janji kalian. Nah! Pikirkanlah baik-baik, ini menyangkut masa depan kamu dan anak kamu dan ingat jangan pernah lupa kalau kita masih punya Allah. Jadi mintalah petunjuk kepadanya untuk di beri jalan keluar dari semua masalah ini. Bunda dan Ayah akan merestui apapun keputusan kamu nanti ya. Jadi jangan merasa terbebani oleh orang sekitar.."
Fatimah mendengar setiap kata yang diucapkan oleh bundanya dengan cermat
"Terima kasih Bunda, sudah memberi pencerahan kepadaku.."
Wanita itu langsung memeluk tubuh sang bunda dengan sangat erat
"Eh, berhenti Nak. Bunda susah nafas ini.." ucapnya dengan Shakinah masih di pegangnya
"Hei, nanti anakmu jatuh, Nak..!"
"Astaghfirullah lazim, maafkan aku Bunda.."
"Makanya orang itu ingat-ingat kalau Bunda sudah tua begini mana bisa menyeimbangi tenaga kamu yang kuat begitu.."
"Bisa kehabisan nafas Bunda kalau masih kamu teruskan tadi.."
"Iya maafin dong Bun,"
"Nanti cantiknya hilang loh neneknya Shaki.."
__ADS_1
Bunda hanya geleng-geleng kepala mendengar semua celotehan dari Fatimah ditambah senyuman manis dari cucunya. Mungkin juga merasakan bahagia yang kini di rasakan oleh Bunda dan neneknya
Benar kata Bunda, aku harus pikirkan matang-matang. Semoga nantinya keputusan yang aku ambil tidak salah