Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 131


__ADS_3

Fatimah berdiri seorang diri di balkon kamar pengantin. Hari ini mereka berdua hanya berdua saja di kamar hotel yang mewah dan cantik karena sudah di sulap sangat baik oleh pihak pemilik hotel


Senyumnya tak pernah hilang dari wajah ayunya, wanita mengadakan pandangannya ke atas. Pikirannya pun melayang membayangkan bagaimana lika-liku kehidupannya dari mulai tak di harapkan, timbulnya salah paham dan hampir saja berujung penceraian, hingga akhirnya bersatu kembali yang paling membuatnya bahagia adalah hadirnya makhluk kecil di antara mereka berdua


Ah! mengingat anaknya, Fatimah rasanya rindu pada putri kecilnya karena seharian ini dia tak sempat menggendong tubuh mungil itu. Sibuk menyalami para tamu dan para sahabatnya


Sibuk dengan pemikirannya sendiri sampai tak merasa kalau saat ini, ada lengan kekar yang melingkar di perutnya


“Mikirin apa sih! Pakai senyum-senyum segala hem..?” tanyanya menempatkan dagunya di atas pundak sang istri yang hanya memakai pakaian tidur satin dengan tali yang lebarnya seperti spaggeti


“Astaghfirullah allazim, kamu ngagetkan aku Mas..!” ucap Fatimah sambil mengusap dadanya yang merasa kaget atas kehadiran suaminya ini


“Makanya jangan suka melamun Dek, suami ada di sini. Emangnya kamu enggak mau gitu..?” tanyanya dengan jahil menaik turunkan alisnya


Fatimah sudah tau apa yang dimaksud oleh suaminya itu, lantas senyumnya malu-malu menghadap Addry. Inilah yang selalu membuat Addry gemas oleh tingkah istrinya dari dulu

__ADS_1


“Mas berhenti, ge-geli Mas ha ha..” ucapnya menjauhkan wajah Addry yang ada di lehernya itu. Fatimah merasa geli karena ulah jahil suaminya yang mengendus-endus di area lehernya


“Dek, bagaimana apa kamu siap? Mas udah enggak-‘” ucapnya dengan nada berat seakan menahan sesuatu dengan semangat tinggi. Pria itupun bertanya, tapi khayalannya pun musnah saat mendengar sang istri menyuruhnya berhenti


“Stop..!”


“Kenapa Dek, belum siap ya..?” ucapnya dengan nada pelan, merasa hilang semangat seketika


“Bukan begitu Mas, tapi saat ini aku lagi halangan..”


“He he..” ucapnya dengan cengengesan merasa tak enak pada suaminya


Entah kenapa Fatimah merasa sangat bersalah pada suaminya. Sebenarnya, dia tidak sedang mengerjai suaminya. Wanita itu memang benar-benar lagi halangan, pas sekali pagi tadi sebelum dirinya memakai kebaya pernikahannya


“Mas, maaf ya!” ucapnya menidukan badannya dan memegang bahu suaminya yang tidur juga

__ADS_1


“Hem..” jawabnya dengan cuek


“Mas..” panggilnya sekali lagi


“Hem, iya ada apa lagi..?” tanyanya dengan nada yang dibuat-buat lembut, jujur saja Addry masih merasa kesal karena hari ini dia tak bisa melakukan hal yang sudah lama dia inginkan saat bersama istrinya


“Terus kenapa cuek begini sama aku Mas dan tidurnya jangan membelakangiku..!” pinta Fatimah karena tak mau membuat istrinya sakit hati dengan perlahan dia pun membalikkan badannya menghadap pada istrinya yang menatapnya dengan penuh cinta


“Mas enggak marah ke kamu kok Dek, tapi kini Mas sedang berusaha meredahkannya. Entah kenapa jika di dekatmu Mas selalu saja begini..!” keluhnya dengan menunjuk kearah bawah


“Mas!” teriak Fatimah merasakan pipinya begitu panas melihat yang ada di balik sana masih saja berdiri tegak tanpa kendor


“Makanya jangan dekat-dekat Mas dulu ya, Mas takut nanati khilaf dan langsung menerkammu..!”


“Mas tidur di sofa saja, jangan lupa pakai sweater tidurnya nanti kamu kedinginan..!” setelah mengucapkan itu, Addry dengan cepat mengambil bantal kepala, guling dan selimut dari lemari dan langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa yang begitu besar itu

__ADS_1


Fatimah tersenyum melihat suaminya begitu, sampai rela menahannya saja dan tak meminta Fatimah untuk melakukan hal yang aneh-aneh agar hasrat suaminya bisa reda, tapi pria yang baru saja menjadi suaminya ini. Berbeda dia memilih tidur dengan membalut tubuhnya dengan selimut tebal


Akhirnya, malam pertama yang ingin mereka ulangi tak dapat terwujud seperti yang di bayangkan oleh Addry. Malam itu berlalu dengan tidur dengan tempat lain-lain hanya dengan memeluk guling saja sebagai pelukan untuk tidur


__ADS_2