
๐Jangan lupa Vote, like and coment. Biar Author nya tambah semangat๐
Sekarang Fatimah telah cantik dengan berbalut gamis yang indah dan dilengkapi oleh hijab pasmina yang melekat dengan sangat cantik di kepalanya serta wajah yang di poles sedikit oleh make up menambah aura kecantikan seorang Fatimah
"Sempurna..." ucapnya melihat pantulannya di cermin
"Waduh sudah jam 2 ternyata..." Fatimah langsung meraih tas Selempang nya dan berjalan keluar dari kamarnya
"BI Fati keluar duku ya...!" Pamitnya kepada sang Bibi saat melihat BI Sum yang sibuk mengelap meja yang berada di depan televisi
"Iya non, hati-hati..." ingatnya
"Oke BI..."
"Bismillahirrahmanirrahim...." ucap Fatimah sebelum berangkat
Tut......
Klekson motornya kepada satpam rumahnya
"Mang...."
"Iya non..?" Mang Diman langsung menghampiri majikannya itu
"Fati pamit keluar dulu ya! Tolong jagain rumah..."
"Aman non. Kalau mang Diman yang jaga pasti aman...." dibalas kekehan oleh Fatimah
"Nah itu yang Fatimah suka dengan mang Diman kerjanya itu sangat oke..."
"Ya sudah pamit ya! Soalnya hampir telat ni mang..."
"Iya non..."
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam...."
Fatimah langsung menegaskan gas motornya menuju kafe yang di janjikan
๐
Di Perusahaan Barack
Tok tok.....
"Masuk...." setelah mendengar jawaban dari orang di dalam. Tomi pun langsung membuka pintu dan
Ceklek....
"Maaf tuan mengganggu waktu anda. Hari ini kita ada meeting di kafe X dengan tuan Liam...."
"Baiklah..."
Tomi pun segara permisi dari ruangannya Addry setelah itu kembali ke ruangannya sendiri
๐
"Hufttt...." Fatimah menghela nafas berat
"Ah aku kira telat ternyata. Dasar si Dinda ini..."
Ting.....
Bunyi pintu kafe menandakan bahwa ada yang masuk. Fatimah langsung menoleh, pikirnya siapa tau yang datang adalah Dinda sahabatnya. Ternyata benar
"Hai Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab Fatimah. Dinda menarik kursi dan duduk
__ADS_1
"Maaf ya telat...."
"Iya-iya Din..."
"Emangnya ada apa Din ngajak ketemuan di hari kerja gini..?"
"Oh itu aku ada berita gembira tau..."
"Apa?"
"Sebentar lagi, sampai kok orangnya..." alis Fatimah langsung berkerut
"Hai...." mereka berdua langsung menoleh mengarah kearah sumber suara
"Assalamualaikum..." ucap Azmi. Dinda tersenyum dan menjawab salam dari Azmi. Sedangkan Fatimah kembali bingung dengan keadaan
"He he... " Dinda tertawa melihat wajah sahabatnya yang sedang kebingungan
"Ini ni yang aku maksud Fat..."
"Sahabat kamu ini sudah kerja tau...."
"Beneran Din...?" memastikan
"He'em.." Angguknya
"Kerja dimana...." ucap Fatimah dengan gembira
"Ini ni orang yang di hadapan kita ini adalah bos ku tau..."
"Jadi..." Seketika Fatimah tau maksud sahabatnya ini
"Iya Mas Azmi ini bos ku.."
"Alhamdulillah. Sekarang sahabatku tidak pengangguran lagi deh.." ledeknya
"Jadi gini..." ucapnya dengan cemberut
Azmi hanya tersenyum melihat tingkah kedua wanita yang ada di hadapannya ini. Mereka bertiga pun tertawa sambil makan menyantap makanan siang. Mereka tidak tau bahwa ada satu pasangan mata yang terus menatap ke arah Meraka
"Maaf tuan, tuan Liam sedang bertanya kepada anda..." ucapnya dengan berbisik kepada sang atasannya
"Iya pak, maaf saya kurang konsentrasi tadi..." ucap Addry sedikit meredamkan emosi
"Iya pak no problem..."
"Jadi bagaimana? apa bapak setuju?.." lanjutnya
"Baiklah pak saya terima..."
"Oh iya apa bapak sudah menikah..?" ucap pak Liam yang usianya seusia dengan Addry
"Hem iya pak. Kalau bapak..?" Tapi matanya terus mengarah kearah Fatimah dan temannya
"Ha ha bapak meledek saya ya. Saya belum menikah pak. Sejak kejadian masa itu..."
"Ah maafkan saya pak. Telah mengingatkan bapak pada masa itu..." ucapnya bersalah. Apalagi sekarang orang yang di perhatikan sudah beranjak dari tempatnya
"Enggak papa pak. Bagaimana jika pak Addry mengajak istri bapak ke pesta saya nanti..?"
"Boleh pak. Kapan..."
"Nanti saya hubungi lagi..."
Setelah selesai berbincang. Meraka langsung makan makanan siang ini. Setelah selesai
"Mari pak saya pamit ya..."
"Baik pak.." Mereka berjabatan tangan menandakan bahwa pertemuan mereka hari ini cukup
__ADS_1
"Tom cari tau apa saja yang di kerjakan oleh nyonya mu hari ini..?"
"Baik tuan..."
๐
"Aduh capek juga ya..!"
Saat ini Fatimah duduk di sofa. Ia belum langsung masuk, karena kelelahan dengan kegiatannya tadi. Apalagi dia dalam keadaan hamil
"Baik-baik di dalam sini ya nak.."
"Bunda nggak sabar buat gendong kamu. Calon bayi ku..." sambil mengelus perut yang masih rata
Sudah 4 hari Addry di rumah Bianca dan hari ini ia akan kembali ke rumah Fatimah
"Assalamualaikum mas..." ucap Fatimah dengan tersenyum manis menyambut kedatangan Addry. Suaminya tak kalah, dia juga langsung memberikan senyuman yang manis juga
"Waalaikumsalam dek.." Addry mencium kening Fatimah dengan dalam-dalam seperti melepas rindu
"Mas mau mandi atau makan dulu..?"
"Mandi dulu deh kayaknya dek. Udah bau keringat soalnya..."
Mereka berdua langsung berjalan menaiki tangga dengan Addry yang langsung merangkul bahu istrinya
"Alhamdulillah ternyata tuan kembali seperti dulu..." ucap BI Sum tersenyum melihat majikannya kembali rukun
Di Dalam Kamar
"Silahkan mandi mas, sudah Fati siapkan..."
"Iya dek. Makasih ya!" Addry langsung meletakkan handphone di atas nakas meja di dekat ranjang. Sedangkan Fatimah dia keluar dari kamar menuju dapur. Hari ini dia sendiri yang akan menyiapkannya...
"Masak apa sih dek..." ucap Addry setelah selesai mandi tadi. Bau harum dari badan Addry langsung tercium oleh Fatimah. Karena saat ini Addry yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang
"Astaghfirullah lazim..." ucapnya seraya mengelus dada
"Mas ngagetin tau...!" masih sibuk dengan masakannya
"Maaf dek..."
Setelah selesai masak Fatimah langsung menyusun semuanya di bantu dengan Bibi Sum dan suaminya Addry. Meraka makan dengan khidmat. Setelah selesai,
"Biarkan Bibi saja non..." ucap BI Sum saat melihat Fatimah yang baru mau mengangkat piring
"Enggak papa kok bi.."
"Mending non hampiri tuan Addry saja non..." Fatimah menoleh melihat ke arah Addry yang duduk di sofa ruang tamu sambil sibuk dengan laptopnya
"Ya sudah Fati ke sana ya BI.." BI Sum langsung menganggukkan kepalanya
"Mas..." ucap Fatimah duduk di dekat Addry memperhatikan apa saja yang di kerjakan oleh suaminya. Ternyata masih nyangkut kerjaan kantor
"Iya dek ada apa...?"
"Fati boleh nggak bertanya sama mas..?"
"Emangnya mau tanya apa sih. Tegang gitu mukanya..."
"Sebenarnya kemaren itu apa yang membuat mas marah Fati?"
Deg! tepat sasaran. Hati Addry langsung mencelos mendengarnya. Apalagi melihat mata Fatimah yang berkaca-kaca
Addry langsung mendekap tubuh yang sudah bergetar karena menahan tangisan agar tidak keluar
"Maaf dek, mas kayak gitu karena ada alasan yang tak bisa mas jelaskan kepada mu..." Fatimah langsung mendongakkan kepalanya melihat wajah sang suami
"Memangnya apa mas. Sampai mas tak bisa menjelaskannya..?"
__ADS_1
Terus dukung Author ya!
Vote like and coment kalian sangat berarti bagi Author...๐