Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 79 "Diabaikan"


__ADS_3

"Sudah Nak. Jangan di sesali ya!"


"Bun, ini semua gara-gara ku. Coba kalau aku selalu menjaganya. Pasti anakku tak akan terlahir begitu hiks hiks.."


"Nak, ingat kata Allah. Allah tak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambaNya..."


Fatimah mengangguk, tapi belum bisa berdiri. Entahlah kakinya terasa kaku. Padahal hanya berdiri, mungkin akibat belum siap menghadapi semua ini


"Ayo kita kembali keruangan mu. Kamu masih butuh istirahat Nak..." dengan agak kesusahan sang Bunda menuntun anaknya untuk berdiri dan berpegangan di gagang tiang infus


"Sebentar Bun.." Fatimah kembali mendekati kacanya dang berucap


"Assalamu'alaikum anak Bunda. Cepat sehat Nak. Bunda rasanya tak sanggup melihat kamu begini Nak..." dia berhenti sejenak memukul sedikit dadanya yang terasa sesak sedangkan Bunda Lisa juga ikut menangis mendengar tutur kata yang di ucapkan oleh Fatimah


"Bunda tunggu kamu Nak. Bunda akan selalu mengunjungimu. Cepat sembuh anakku, Bunda menantimu..."


"Assalamu'alaikum anak Bunda..."


"Waalaikumsalam..." balas Bunda Lisa


"Ayo Nak..." Bunda menuntun Fatimah


*


*


*


"Tom, bagaimana ini Tom. Rasanya aku tak sanggup menghadapi Fatimah. Jika dia sadar nanti..."


Tomi merasa kasihan melihat keadaan bosnya ini. Bagaimana tidak, pria yang selalu tampil menawan dan rapi. Kini tinggal pakaian kusut yang melekat di tubuh kekar itu


"Ini semua karena ku Tom...!" teriaknya frustasi


"Tuan.."


"Bolehkah saya membuktikan sesuatu.." ujarnya membuat Addry berhenti dari jambakan nya sendiri


"Ada satu hal yang tidak Anda ketahui.." Addry bertambah bingung dibuat oleh asisten pribadinya, tapi dia memilih diam dan mengangguk


"Ini Tuan.."


Tomi beranjak dari duduknya berjalan memberikan satu map berwarna hijau kepada Addry. Memang dari tadi dia sudah membawanya, tapi belum berani untuk mengeluarkan, apalagi untuk memberikannya kepada Addry


"Apa ini Tom..?"


"Nanti juga anda tau Tuan, seperti yang saya katakan tadi.."


Addry langsung membuka map yang di berikan oleh Tomi. Hingga matanya terbelalak tak percaya. Melihat semua kejadian yang hampir satu bulan ini terungkap


Bianca!


Addry mengepalkan kedua tangannya. Sungguh dia menyesal. Ternyata walaupun dia melihat dengan kepala matanya sendiri. Itupun masih salah, jika tidak di sertai bukti. Ya walaupun mobil mereka sama


"Tom, apakah ini benar..?" menampilkan perempuan yang menabrak Mama Mirna singgah ke kafe dan tak lama menampilkan wajah aslinya sambil membawa satu cup kopi

__ADS_1


"Iya Tuan, maaf jika saya lancang. Menjalankan ini tanpa perintah mu, tuan.."


"Itu di ambil oleh anak buah ku. Mereka meretas CCTV di setiap toko. Memang waktu itu Nyonya sedang pergi ke supermarket dan itu jauh dari kejadian waktu itu.."


"Ini semua ulah Nyonya Bianca Tuan.."


"Tom! Jangan panggil wanita itu dengan sebutan Nyonya.." geramnya


"Baik Tuan.."


"Sepertinya wanita ini sudah mengganti identitas dengan nama Santi. Makanya kita tak tau. Jika dia sudah kembali ke indonesia.."


"Dan waktu itu bertepatan hari libur. Sepertinya juga dia sudah lama mengintai keluar Anda Tuan. Coba kalau kita perhatikan. Bertepatan hari libur, dimana waktu itu juga Mark sebagai bodyguard nya Nyonya juga libur dan anda juga waktu itu juga ada tugas meninjau proyek Tuan..." Tomi terdiam sejenak melihat reaksi yang di tunjukan oleh Tuannya. Addry terdiam mengepalkan kedua tangannya sampai memperlihatkan urat-urat yang menonjol


"Jadi di sanalah wanita itu mengambil kesempatan untuk menjadikan Nyonya sebagai kambing hitam.."


"Tom..!"


"Iya Tuan.."


"Apakah kau tau di mana wanita itu berada..?"


"Entahlah Tuan, soalnya wanita itu sangat licik membuat kami kesusahan mencarinya. Dia sering berpindah-pindah tempat.."


"Aku mohon Tom, cari dia sampai dapat.."


"Iya Tuan, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkannya..!"


Matahari kini sudah ada di atas ubun-ubun kepala. Menandakan bahwa sudah siang. Addry memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Semua urusan dia serahkan kepada asistennya


Hanya karena mirip mobil membuatnya tega menuduh bahkan mendiamkan dan bersikap dingin kepada istri sekaligus calon anaknya


Sampai di parkiran, Addry cepat-cepat menuju ruangan istrinya di rawat. Pas di depan pintu. Dia memberhentikan langkahnya yang memegang handle pintu


Bismillahirrahmanirrahim


Ceklek...


Addry panik saat tak melihat istrinya yang terbaring waktu dia berangkat tadi dan belum juga membuka mata. Ya memang Addry belum tau, jika Fatimah telah sadar. Karena Fatimah meminta Bunda nya agar tak memberitahukan kepada Addry


Awalnya Bunda bingung. Seharusnya kabar gembira itu harus cepat di sampaikan, tapi saat mendengar perkataan Fatimah. Jika dia mau memberi kejutan kepada addry. Tak mau ambil pusing. Akhirnya Bunda pun menuruti permintaan sang anak


Addry mencari-cari, dia khawatir melihat kondisi bangsal yang masih berserak. Dia takut terjadi apa-apa kepada Fatimah


Hingga langkahnya berhenti di depan pintu kamar mandi karena mendengar gemercik kan air


Pandangan Fatimah langsung berhadapan dengan pandangan Addry


"Alhamdulillah..." Addry merasa senang melihat Fatimah yang sudah sadar


"Sini Dek, biar Mas bantu..!" ucapnya mendekat kearah Fatimah ingin membantu istrinya untuk membawa infus


"Enggak usah.." tolaknya saat tangan kekar itu ingin menyentuh tiang infus


"Kenapa Dek, lihat kamu kesusahan. Sini bi-"

__ADS_1


"Sudah Mas, aku bisa sendiri.." dengan langkah kesusahan. Fatimah pun melangkah dengan pelan-pelan menuju bangsalnya


Addry hanya diam mengikuti sang istri dari belakang


"Dek, apakah Bunda dan Ayah sudah tau. Jika kamu sudah sadar..?"


"Hem.." jawabnya dengan singkat


Deg!


"Maafkan Mas, Dek. Atas kesalahan Mas. Sampai mem-" Fatimah kembali memotong perkataan Addry


"Sudah yang sudah biarlah berlalu. Tak usah di kenang.."


Jantung Addry kembali berdenyut. Tidak biasanya Fatimah menyela dan berbicara dingin seperti ini. Biasanya istrinya itu selalu berbicara lemah lembut


Mereka berdua pun terdiam sangat lama. Entahlah apa yang mereka pikirkan


"Baru pulang Mas..!" Fatimah memecahkan keheningan


"Iya Dek.."


"Oh iya kamu mau makan tidak..?"


"Biar Mas, belikan..!"


"Tidak usah Mas, sebelum Bunda pulang tadi. Aku sudah makan.." tegasnya


"Aku mau tidur.."


Tubuh wanita itu pun langsung membelakangi Addry yang masih duduk di dekat bangsal sebelah kiri


Sebenarnya Fatimah tak bisa bersikap dingin dan cuek kepada siapapun, tapi entahlah kini hatinya masih sakit akibat perbuatan suaminya. Apalagi jika dia teringat dengan malaikat kecilnya yang sedang berjuang karena terlahir prematur


Tetes demi tetes air mata pun keluar dari matanya. Bahunya pun terguncang akibat tangisnya yang tak terbendung lagi


Addry melihatnya lantas langsung memegang bahu Fatimah


"Dek, kamu kenapa nangis. Apakah masih ada yang sakit..?"


"Jangan sentuh aku..!"


DEG !


DEG !


Happy reading ❤️


Kalau kalian suka jangan lupa Vote, Like and coment ya teman²


Karena itu menambah mood author loh🤭


Terimakasih bagi yang ikhlas memberikan Author vitamin seperti yang di jelaskan tadi🤣


Dadah sampai berjumpa di episode selanjutnya 👋

__ADS_1


__ADS_2