Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 74


__ADS_3

Air mata Fatimah kembali jatuh. Saat melihat punggung kokoh yang sedang membelakanginya. Tak terasa mata yang masih meneteskan air mata itu. Kini telah tertutup dan terdengar dengkuran halus yang keluar dari bibir mungilnya


Addry membalikkan badannya. Sebenarnya dia merasa bersalah karena telah bersikap dingin dan tak pernah menjawab setiap perkataan Fatimah


Pria itu belum bisa menerima keadaan. Ingin rasanya memeluk tubuh sang istri dan membelai calon anaknya yang masih di dalam perut Fatimah, tapi jika mengingat sang Mama. Dia kembali merasa marah dan kecewa kepada Fatimah


"Assalamualaikum, anak Ayah. Apa kabar?" membelai perut Fatimah dengan penuh kasih sayang


"Jangan nakal ya Nak di dalam sana. Jangan menyisakan Bunda ya.."


Cup!


"Selamat Malam anak Ayah.."


Addry kembali membalikkan badannya dan segera menjemput alam mimpinya


Mata indah milik wanita yang sedang hamil. Kembali terbuka dengan indah di bubuhi dengan air mata yang kembali mengalir. Ternyata Fatimah terbangun saat Addry membelai perutnya tadi, tapi dia hanya pura-pura tidur


Dia ingin tau apa yang akan di lakukan oleh suaminya. Ternyata suaminya itu hanya mengajak anaknya berbicara. Sekilas hatinya kembali menghangat, berarti suaminya masih menyayangi sang buah hati mereka


Mas, aku enggak sanggup kamu giniin. Memang dulu sikapmu juga begini, tapi tak sesakit begini rasanya. Aku berharap semoga besok sikap kamu enggak akan kayak gini lagi..


Fatimah menangis mengingat malam-malam sebelumnya saat belum terjadi keadaan yang seperti ini. Biasanya suaminya itu selalu memeluk dan mendekap tubuhnya diletakan di dada bidang milik suaminya, tapi kini kehangatan itu tak terasa lagi


Entah sampai kapan, semoga saja tak lama pikirnya. Karena Fatimah tak sanggup menerima semuanya


......................


"Eh! Non kok bangunnya masih pagi sekali..?" ucap Bibi Sum terkejut saat mendapati sang majikan yang kini sedang berkutat dengan peralatan dapur


"Aku mau masak makanan kesukaan Mas Addry Bi. Rasanya sudah lama tak memasak makanan untuk suami.." jelasnya, Bibi hanya menganggukan kepala saja


Fatimah telah mempersiapkan semuanya. Teh untuk suaminya kini telah di seduhnya dan ada beberapa gorengan perkedel untuk mendampingi teh


Fatimah tersenyum senang melihat hasil karyanya yang sudah lama tak di tekuni nya. Karena hamil kadang membuat moodnya jadi malas kadang jadi semangat dalam mengerjakan sesuatu. Entahlah naik turun mood seorang Fatimah


"Bi, aku antar ini dulu ya..!"


Kembali lagi sang Bibi hanya bisa mengganggu kan kepala saja. Bibi Sum membereskan segala hal yang sudah di lakukan oleh Fatimah di dapur tadi


*******


"Assalamualaikum Mas.."


Fatimah mengucap salam terlebih dahulu sebelum masuk, tapi Fatimah tak mendengar jawaban dari sang suami yang kini sibuk memeriksa berkas yang di kirim Tomi kepadanya

__ADS_1


Hem! Ternyata masih begini. Hah! Mungkin Mas Addry menjawabnya hanya di dalam hati. Batinnya, Fatimah tak mau berfikir yang tidak-tidak. Makanya dia hanya memikirkan yang positif-positif saja


"Ini Mas tadi aku buatkan untuk mu. Agar semangat kerjanya..!" ucapnya dengan memperagakan semangatnya kepada sang suami yang hanya melihatnya sekilas saja


Fatimah tersenyum kecut melihatnya, tapi dia tak putus asa. Fatimah menghargainya mungkin karena Addry masih berkabung itulah pikirnya


"Mas, aku ke belakang ya.."


Addry hanya menganggukan kepala saja. Fatimah dengan cepat-cepat pergi ke halaman belakang. Dia dengan cepat menumpahkan segala air mata yang tak dapat lagi di bendung ya


"Nak jangan buat Bunda jadi cengeng dong. Lihat sekarang saja mata Bunda udah bengkak. Jangan tambah lagi dong dengan kemauan kamu ya..!"


Fatimah menghibur dirinya pada sang calon bayi. Dapat Fatimah rasakan tendangan dari sang bayi sangat kencang membuat senyumnya kembali mengembang. Karena sedari kemaren senyum itu tak pernah terlihat


*Bunda merasa bersyukur Nak dengan adanya kamu. Bunda kuat menghadapi semuanya. Semoga kedepannya nanti, kita bisa kembali merasakan kebahagiaan ya Nak. Sekarang kita lagi di uji, mungkin ini semua dari kesalahan kita Nak. Makanya Allah menguji kesabaran. dan ketabahan kita kembali


Ya Robb, Hamba hanya meminta satu pinta Hamba. Beri Hamba kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi semua yang Engkau berikan kepada Hamba. Nambah yakin jika Engkau, pasti tak akan memberikannya melebihi kemampuan HambaNya*


Fatimah lebih memilih duduk di ayunan yang sudah tersedia di halaman belakang. Letaknya dekat kolam renang dan di kelilingi bunga-bunga nan indah dengan berbagai warna. Setidaknya hatinya kini kembali tenang. Melihat bunga yang di hinggapi oleh kupu-kupu


"Mas Addry pasti belum makan.."


Fatimah teringat, jika Addry hanya bekerja di rumah saja untuk saat ini. Makanya Addry masih berada di dalam kamar dengan berkutat pada iPad nya


*******


Waalaikumsalam Dek


"Hem!"


"Mas mau makan di dapur atau aku bawah ke sini..?"


"Enggak usah, aku bisa sendiri.."


Deg!


Hati Fatimah terdiam saat mendengar Addry mengatakan 'aku' biasanya Addry selalu mengatakan 'Mas'. Apa karena dia juga sudah menggunakan kata aku. Makanya sang suami ikut juga begitu


"Beneran Mas, aku enggak keberatan kok. Kalau Mas mau makan di sini.."


"Lihat Mas aja sedang sibuk sekarang!" lanjutnya


"Aku bawa ke sini saja ya. Tunggu sebentar..!" membalikan badannya untuk segera menuju dapur


"Tidak usah, aku belum lapar.."

__ADS_1


Fatimah kembali membalikan badannya saat mendengar suara tegas itu kembali bersuara


"Baiklah, aku duluan makan Mas.."


"Hem.."


*******


Di dapur


"Bi, ayo makan temenin aku ya..!" ucapnya mengajak sang Bibi yang sedang sibuk mencuci sayuran yang baru saja di belinya dari pasar tadi


"Eh! Non, Tuannya belum mau makan Non..?"


"Ah! Iya Bi. Katanya Mas Addry masih kenyang.." tersenyum setelah memberikan jawaban kepada sang Bibi. Padahal di dalam hati hanya tersenyum kecut saja


"Ya sudah Non, ayo kita makan.."


Saat sedang sibuk menyiapkan piring untuk mereka makan. Mang Diman masuk ke dapur untuk mengambil kopi yang tadi di buat Bibi Sum. Setelah dari pasar tadi


"Eh! Lagi pada makan nih ceritanya.." ucapnya setengah terkejut karena dirinya tepat waktu datang saat orang-orang pada sibuk untuk menyiapkan piring untuk makan


"Iya Mang, ayo kita makan bersama.."


"Beneran nih Neng! Mang Diman boleh ikut makan..?" Fatimah menganggukkan kepala


"Wah! Sepertinya makanan ini sangat enak.." sembari menarik kursi


"Iler nya di lap dulu Mang..." ucap Bibi Sum dengan nada meledek. Lantas Mang Diman pun dengan refleks mengelap iler yang di katakan oleh sang Bibi tadi menggunakan kerah baju yang digunakannya


Fatimah tertawa melihatnya. Setidaknya dia tak merasa sedih terus. Karena masih ada yang membuat senyumnya kembali terbit


"Wah! Neng, masakannya enak tenan.." mengacungkan kedua jempolnya


"Terima kasih Mang.." kembali tersenyum


"Sama saya enggak makasih Mang..?" tanya Bibi


"Enggak Bi karena yang masak tadi Neng Fati. Jadi untuk apa terima kasih kepada Bibi.."


"Oh! Jadi kopi tadi enggak di anggap ya..!"


"Ya udah, nanti Bibi buang aja.."


"Ah iya aku lupa! Maaf deh Bi. Iya terima kasih juga ya.."

__ADS_1


Fatimah hanya menggeleng-gelengkan kepala saja. Melihat tingkah lucu keduanya. Hari ini Alhamdulillah dia ***** makan


Alhamdulillah, ternyata aku lahap juga makannya. Tadi kupikir tak akan habis, jika tak ada kamu, Mas. Ternyata dugaan ku salah


__ADS_2