
Setelah pertemuannya dengan Fatimah tadi. Kini Azmi telah kembali ke kantornya
"Hai Din..!"
"Iya Pak.."
"Sudah makan..?"
"Alhamdulillah Pak kalau Bapak..?"
"Iya saya juga. Alhamdulillah sudah.."
"Saya kembali ke ruang saya dulu ya.."
"Iya Pak, silahkan.."
Di dalam ruangan, Azmi kembali teringat saat Fatimah yang sangat menjaga batasannya. Menambah kekaguman Azmi kepada Fatimah
Semoga nanti jodohku seperti mu 'Fatimah'
🍃
“Sudah jam segini, tapi Mas Addry belum pulang juga..?”
Melihat jam sudah menujuk pukul delapan malam. Kini rasa khawatir mulai menelusup. Takut sang suami kenapa-napa.Tidak biasa sang suaminya itu pulang malam. Dulu memang sering dan juga kadang jarang pulang, tapi kini sudah berubah. Addry selalu pulang jam lima sore. Jika pun ada lembur, selalu dibawahnya pulang kerumah dan tak mau pulang malam dari kantor
“Mana dihubungi tak angkat..”
“Ya Allah Mas, kamu dimana sih!” sudah banyak sekali Fatimah telpon nomor tersebut, tapi tak kunjung diangat. Menambah kekhawatiran hatinya
Tok tok…
“Non..”
“Iya Bi..” ucapnya setelah membukakan pintu kamar
“Non belum mau makan? Ini sudah jam delapan Non. Tak baik untuk ibu hamil. Jika terlambat makan..”
“Iya Bi, bentar lagi Fati turun..”
“Baiklah Non, Bibi permisi dulu kalau begitu..”
Hanya dijawab senyuman oleh Fatimah dan menutup puntunya kembali, setelah Bibi Sum pergi dengan langkah lesu menuju balkon kamar. Dimana awan-awan hitam kini menghiasi malam
“Kamu dimana sih Mas. Aku khawatir. Mana mau hujan lagi..”
“Ya Robb, lindungi lah suami Hamba dimana pun dia berada dan redakanlah rasa khawatir ini..” masih dilanda oleh rasa khawatir. Fatimah dikejutkan oleh suara yang keluar dari perutnya
“Astaghfirullah Lazim…’
__ADS_1
“Maafkan Bunda ya Nak. Kamu pasti laparkan Nak. Ya sudah kita makan dulu ya..!” benar walaupun merasa khawatir akut terjadi apa-apa kepada sang suami. Fatimah tidak boleh lupa. Bahwa dia juga harus memperhatikan keadaan sang buah hati yang masih berkembang ini
“Makan yuk Bi..!” ucap Fatimah saat melihat sang Bibi yang masih sibuk bersih-bersih
“Maaf Non, Bibi duluan makannya tadi. Soalnya sudah gemetaran..” ucapnya dengan tersenyum
“Iya Bi nggak papa kok..” membalas senyum sang Bibi tadi
“Bi..”
“Iya Non ada yang bisa Bibi bantu..?’ menghampiri majikannya yang sibuk mengisi lauk pauk didalam piringnya. Tadi sebenarnya, Bibi Sum mau membantu, tapi langsung ditolak oleh Fatimah. Bukannya tak mau, tapi Fatimah tak mau merepokan sang Bibi
“Bi, kalau sudah malam berhenti ya bersih-bersihnya..”
“Kenapa Non?” Bibi bingung mendengarnya
“Capeklah Bi..” canda Fatimah karena tadi melihat wajah Bibi seperti ketakutan. Mungkin takut dipecat pikirnya
"Ah! Bibi itu aja nggak tau.." seraya tertawa, menyembunyikan kegundahan hati yang saat ini melanda dalam dirinya
“Ah! Non Bibi kira Bibi ini mau di pecat tadi...” mengelus dadanya
"Ya masa di pecat. Orang rajin kayak Bibi itu, harus di pertahanan. Mana perhatian lagi.." membanggakan sang Bibi
"Jangan terlalu memuji Non. Nanti telinga Bibi terbang lagi.." mereka berdua langsung tertawa. Saat menyadari kekonyolan mereka
“Iya Non. Bibi tidak akan lagi begini kalau begitu..” langsung dibalas jempolan oleh Fatimah
“Oh iya Non, sayuran yang Non bawa tadi. Bibi masukan dulu di kas pendingin..”
“Iya Bi..”
“Segar sekali sayuran yang Non bawa tadi, beli di pasar ya Non..?”
“Tidak Bi, petik langsung dari tanaman Bunda..”
“Pantas saja kalau begitu Non..”
Setelah selesai maka, walau tadi kurang nikmat makannya. Karena tak ditemani oleh sang suami. Ya walaupun tadi Bibi Sum yang masihsetia menemani. Tak membuat ***** makan Fatimah nambah. Mungkin calon anaknya itu mau didekat terus oleh Ayahnya ya
“Non belum mau tidur..?” dengan sangat lembut sang Bibi berucap kepada majikannya yang masih saja setia menunggu kepulangan suami
“Belum Bi, Fati belum ngantuk..” ucapnya padahal sudah berapa kali dia menguap
“Tidur saja Non. Enggak baik untuk ibu hamil..”
“Ini sudah jam sepuluh malam Non..”
“Iya Bi, fati sebentar lagi tidur..”
__ADS_1
“Mungkin Tuan lagi banyak kerjaan Non. Makanya tak sempat menelpon ataupun mengangkatnya..” memberi penjelasan agar mengurangi kekhawatirang sang majikan
“Mungkin!”
“Sudah kita tidur saja Bi..”
Kini Fatimah sudah berada dikamarnya dan Addry, tapi wanita hamil itu tak kunjung tidur. Dia tak juga bisa memejamkan matanya. Kini jarum jam sudah beralih menunjuk angka sebelas. Berarti sudah satu jam dia menunggu di kamar
“Tuan…” ucap Tomi menyadarkan sang atasan dari mabuknya
“Hem..”
“Sudah banyak panggilan masuk dari Nyonya fatimah tuan. Pasti beliau mengkhawatirkan keadaan Tuan..” ya sedari tadi, Addry sebenarnya ada di kantor dan handphone nya itu sebenarnya ada di dekatnya, tapi tak diangkat oleh Addry
“Jam berapa sekarang?”
“Sudah jam 12 malam Tuan..”
“Baiklah kita pulang..” ucapnya dan beranjak dari tempat dudukya tadi. Diikuti oleh Tomi. Sepanjang perjalanan pulang Addry seperti memikirkan sesuatu. Sebenarnya dia merasa bersalah kepada sang istri. Karena tak menelpon ataupun mengabari Fatimah jika dia pulang malam
“Hati-hati Tom…” sebelum keluar dari mobil
Kini Addry telah sampai di rumah yang kini menampilkan suasana gelap menandakan bahwa penghuni rumah ini telah tidur.
Melihat keadaan gelap membuat Addry merasa lega. Karena pikirnya Fatimah telah tidur dan tak menunggunya, tapi semua pikirannya itu buyar saat membuka pintu kamar menampilkan pemandangan yang membuatnya sedih.
Dimana sang istri kini sedang bermunajat kepada Sang Illahi dengan menangis dengan langkah yang pelan Addry masuk, ia tak mau menganggu kosentrasi sang istri yang sedang berdoa itu. Saat Fatimah selesai bermunajat, Addry telah masuk di dalam kamar mandi
Fatimah langsung melipat mukenah dan sajadahnya.
Setellah selesai, Fatimah berjalan dan langsung membuka lemari pakaian. Dia menyiapkan segala pakaian yang akan di gunakan oleh sang suami. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi pun berbunyi menandakan bahwa kini Addry telah selesai
“Mas ini bajunya sudah Fati siapkan..!” ucapnya untuk mencegah, karena Addry berjalan menuju lemari pakaian. Tak ingin membuat sang istri tambah sedih, Addry mengambil pakaian yang telah disiapkan dan berjalan menuju walk in closet untuk memakai pakaian
“Mas..” ucap Fatimah saat melihat Addry yang sibuk dengan ponselnya
“Hem..” masih fokus
“Mas…”
“Hem…”
“Mas, jika Fati salah Fati mohon maaf..”
“Mas tolong jangan diam gini, ngomong apa kesalahannya Fati. Jangan diam..” mendekati Adrry dan sedikit menggoyangkan lengan kekar itu
“Mas..” langsung memegang wajah tapan itu agar menghadap kearahnya
“Mas cemburu Dek..” ucapnya secara langsung
__ADS_1