
Akhirnya, semua masakan dengan penuh rasa cinta yang Fatimah buat jadi juga. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna ke atas, wanita itu tersenyum melihat hasil karyanya
Dia bergerak cepat mengambil tempat untuk menaruh masakannya separuh untuk dibawa ke kantor suaminya
"Bu, non Shaki nya tertidur lagi.."
"Benarkah Bi..?"
"Iya Bu.."
"Baiklah, saya titip dulu ya Shaki nya sama Bi Sum..!"
Begitu bahagianya Fatimah, dirinya selalu tersenyum sepanjang mandi dan bersiap-siap untuk ke sana
Hari ini dia lebih memilih tunik hitam dengan perpaduan rok peach dan jilbab yang juga sama warnanya dengan rok yang kini dia pakai. Dia lebih memilih memakai make up seadanya saja, tapi tak bisa mengurangi kecantikannya tersebut
Sebelum keluar dari kamarnya, Fatimah terlebih dahulu memastikan kembali penampilannya. Merasa sudah oke, wanita langsung melangkah kan kakinya untuk segera turun ke bawah karena tadi dia sempat melihat jam sudah menunjuk angka ke sebelas menandakan bahwa sebentar lagi akan memasuki jam istirahat
"Bi, titip rumah ya..!" ujarnya menerima Shakinah yang tertidur di gendongan Bibi Sum
"Iya Bu, ibu mau ke kantornya Tuan ya Bu..?"
"Iya Bi, rasanya sudah lama saya tidak ke sana..!"
"Ya sudah, saya buru-buru Bi. Saya berangkat dulu ya..!"
"Iya Bu, hati-hati..!"
"Iya Bi, assalamu'alaikum.."
"Waalaikumsalam.."
__ADS_1
Bibi mengantar majikannya sampai ke teras rumah, Mang Diman ternyata sudah menunggu di sana dengan pintu mobil sudah terbuka di bagian penumpang
"Maaf Mang, nunggu lama..!"
"Eh! Enggak kok Neng, tenang saja kok.." jawabnya dengan tersenyum
"Terima kasih Mang.."
Sebelum berangkat, Mang Diman terlebih dahulu memastikan bagaiman, apakah majikannya sudah selesai memakai seat belt atau belum
Mobil hitam mewah itu berangkat dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan. Fatimah hanya tersenyum dan memilih melihat kearah luar dengan Shakinah yang ada di dalam gendongannya. Untung saja tadi, putrinya itu sudah mandi bersamaan dengan Ayahnya
Tak terasa, hampir setengah jam mereka dalam perjalanan. Kini mobil pun meleset sempurna di parkiran perusahaan tersebut, Mang Diman langsung membuka pintu untuk Fatimah
"Terima kasih Mang..!" ucapnya dengan tersenyum tulus
"Sama-sama Neng.."
"Ah! Tidak Neng, Mang Diman di sini saja nunggu Neng sama Nona muda..!"
"Ya jangan gitu dong Mang, ayo kita ke ruangannya Mas Addry.."
"Tidak Neng..!"
"Huh! Baiklah kalau Mang Diman tidak juga mau ikut kami.."
"Mang Diman boleh pulang kok, nanti saya pulang sama dengan mas Addry saja..!" lanjutnya
"Beneran Neng..?"
"Iya.."
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, saya pulang ya Neng, tapi jika Neng mau minta jemput lagi. Saya siap kok ke sini lagi..!"
"Baiklah Mang.."
******
Keduanya kini sedang berada di dalam lift khusus petinggi perusahaan, sebenarnya tadi Fatimah menolak, tapi karena paksaan dari resepsionis menyuruhnya masuk ke dalam dengan terpaksa wanita itu menuruti perkataan dari resepsionis tadi
Pintu lift pun terbuka
"Selamat siang Mbak..!" ucapnya pada sekretaris suaminya yang sedang sibuk di depan komputer, sehingga tak menyapanya
"Siang! Ah maaf Nyonya saya tadi tidak melihatmu..!" ujarnya merasa bersalah karena terlalu lalai sampai tak sopan pada istri bosnya itu
"Enggak apa-apa kok Mbak, jangan sungkan begitu..!"
"Oh iya! Apa Mas Addry nya ada..?"
"Iya Nyonya, Tuan ada di dalam ruangannya..!"
"Mari saya antar Nyonya..!" dan Fatimah menganggukan kepala, mengikuti langkah kaki dari sekretaris suaminya itu
Pintu pun di ketuk dari luar
"Iya, masuk..!" jawab orang di dalam
"Silahkan Nyonya.." ucapnya mempersilahkan Fatimah masuk, setelah Fatimah masuk pintu pun di tutup kembali
Addry masih sibuk memperhatikan berkas yang di pegangnya, sehingga Fatimah masih berdiri di sana. Tanpa berniat duduk membuat Addry merasa heran dengan tamu nya itu, dia pun mendongakkan kepalanya untuk melihat siapakah yang masuk ke dalam ruangannya ini
"Yang, kamu..!" ucapnya terkejut
__ADS_1