
*Flashback On
Angga yang baru saja selesai dengan urusan proyeknya. Dia langsung mengambil ponsel untuk menghubungi seseorang
"Halo Ma, assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam. Iya Nak, ada apa..?"
"Jadi enggak ke rumah kami..?"
"Ya jadi dong. Ini Mama lagi siap-siap.."
"Ya udah nanti, Addry jemput ya..!"
Panggilan berakhir, Addry langsung memanggil Tomi dan menyuruh asistennya itu yang mengantikan dia dulu. Karena tadi masalah besar telah beres
"Baik Tuan.."
"Saya percayakan kepada mu.."
Addry langsung berjalan melalui Tomi karena tadi dia sudah mendengar jawaban
"Assalamualaikum Ma..Mama.." panggilnya Setelah sampai di dalam rumah sang orang tuanya*
"Iya Nak..?"
"Ayo..!"
"Iya ayo..!"
Sepanjang perjalanan
"Nak nanti berhenti dulu ya di sana..!"
"Di sana Ma..?" Mama Mirna langsung menganggukan kepala. Mama Mirna berjalan menyebrangi jalan karena posisi indo itu di sebelah kanan kalau bagi Mama Mirna
"200 ribu Bu..!" ucap sang kasir
__ADS_1
"Ini.."
Mama Mirna keluar dari tempat belanjaannya tadi. Pria itu juga keluar demi menghampiri sang Mama untuk membantu Mamanya membawa belanjaan tersebut
Belum sempat Addry menyebrang sebuah mobil berwarna hitam melaju sangat kencang membuat Addry melotot saat melihat sang Mama yang menyeberangi jalan tanpa melihat kanan kiri
"TIDAK.." belum sempat mencapai sang Mama. Mobil hitam mewah itu sudah lebih dahulu menabrak tubuh wanita paru baya itu
Addry langsung berlari menuju tubuh sang Mama yang sudah tergeletak di jalan dengan kondisi yang sangat mengenaskan
Orang-orang berkumpul di sana untuk melihat kejadian yang membuat siapa saja yang melihatnya pasti merasa sedih bercampur ngeri
"Tidak mungkin. Ma-mama ayo bangun..!" ucapnya kini pria yang selalu kuat itu begitu rapuh
"Ma-mama bangun Ma. Jangan tinggalkan Papa.." ucap Papa tak kalah sedih
Fatimah menangis melihat kedua pria itu yang masih sibuk memeluk tubuh sang Mama mertuanya
"Maaf Pak. Jenazah ibu ini harus segera di bawah pulang. Agar dapat segera di makamkan..!" ucap suster
"Mas jangan begini, ayo kita ikuti kata suster.." memeluk bahu prianya
"Diam kamu..!" melepas kasar rangkulan itu
......................
Kini di hadapan orang-orang banyak. Ada sebuah gundukan tanah yang masih basah dengan taburan bunga yang menghiasinya. Seorang pria kembali menangis memeluk erat batu nisan itu
Bunda Lisa memeluk tubuh anaknya untuk kuat melihat keadaan sang suami. Semua orang telah banyak yang pulang. Kini tinggal keluarga Fatimah saja yang masih di sana
"Mas ayo kita pulang.." menarik tubuh Addry agar mengikutinya. Kali ini Addry menurut apa yang di katakan oleh Fatimah
Sebelum pulang Papa Fatimah pun berbicara
"Dra aku turut berduka cita. Atas meninggalnya Mirna, tapi satu pesan ku jangan kamu ratapi. Kirim saja Alm. doa.." menguatkan Papa Hendra sedangkan Papa Hendra hanya bisa menganggukan kepala saja. Dia tak kuat lagi untuk berbicara
******
__ADS_1
"Mas mandi dulu yuk!" ucap Fatimah karena sedari tadi Addry belum juga mandi. Padahal mereka tadi habis dari pemakaman
"Mas.." sekali lagi untuk menyadarkan tatapan kosong sang suami
"APA LAGI.." Fatimah memejamkan matanya. Dia tak sanggup mendengar suara teriakan itu
"Kamu mandi dulu gih. Sebentar lagi Maghrib Mas.."
"Aku bisa sendiri.." ucapnya berjalan pergi meninggalkan Fatimah sendiri di dalam kamar
Bibi Sum juga bingung karena dia tak mau menganggu orang yang lagi di timpa musibah
"Mama.."
"Kenapa Mama cepat sekali ninggalin kami.." air matanya sudah habis untuk menangis kini hanya tinggal raut yang sedih saja yang dapat dia perlihatkan
"Ini semua karena dia.."
Ya waktu itu Addry sempat melihat mobil yang menabrak sang Mama. Karena mobil hitam mewah itu sempat memperlambat lajunya dan Addry terkejut saat melihat mobil tersebut adalah mobil itu adalah pemberiannya untuk sang istri waktu istrinya ulang tahun sebagai hadiah
"Tapi itu tidak mungkin, mana mungkin Fatimah mau mencelakai Mama.." dia pun menjambak rambutnya
"Tapi semuanya tidak dapat di elakkan lagi. CCTV itu juga memperlihatkan dengan jelas kalau itu benar istriku.."
Walaupun wajah tak nampak karena wanita itu memakai cadar untuk menutupi wajahnya. Sebenarnya Addry tak mau menuduh sang istri tapi setiap kali melihat wajah wanita itu
Dia selalu ingat saat melihat tubuh Mamanya yang terpental dan di tambah darah yang bercucur deras. Maka dari itu dia memilih diam dan tak ingin membicarakannya kepada sang Papa kalau yang menabrak itu adalah istrinya. Walau hati masih sedikit ragu
Jam sudah pukul sebelas malam, Fatimah bangun dari tidurnya karena dia merasa ada yang kurang dan benar saja saat meraba-raba di samping tidurnya ternyata sang suami belum juga kembali
Fatimah langsung menghapus sisa air matanya saat mendengar suara pintu terbuka. Wanita cantik itu langsung menebarkan senyum manisnya saat matanya beradu pandang dengan sang suami yang baru saja membuka pintunya
"Mas, kamu belum mau makan terlebih dahulu.."
Tanpa menjawab Addry malah merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan posisi membelakangi Fatimah
Tak mau menambah masalah, Fatimah memilih bangun dari tidur dan menuju kamar mandi. Wanita itu langsung mengambil sajadah dan mukenah. Dia ingin mengadu nasib kepada Sang Illahi
__ADS_1