
4 hari kemudian
Hari ini dimana Fatimah akan pergi jalan-jalan dengan sahabatnya. Dan sudah 4 hari ini pula Fatimah hidup sendiri, tanpa ada yang mengganggu. Terutamanya Fatimah tak pernah melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit. Ia menjalani hidupnya dengan ceria lagi. Entah sampai kapan keceriaan itu akan bertahan. Tapi yang jelas, Fatimah sangat bahagia
“Nah! Ini baru pas!..” ucap Fatimah memandangi pantulan dirinya di cermin. Fatimah tersenyum manis. Hari ini memakai gamis berwarna biru muda dan jilab pasmina berwarna dusty pink. Sangat cocok dengan suasana hati Fatimah yang bahagia
Merasa puas dengan style nya, Fatimah langsung menyambar tas sandang nya dan ia langsung menaiki motor setelah mengunci rumah terlebih dahulu tadi. Memang dari awal menikah dengan suaminya itu. Addry tak pernah memakai jasa pembantu. Addry Cuma mempekerjakan seorang satpam untuk menjaga rumahnya
“Mau pergi ya bu?..” ucap Mang Udin
“Iya mang.. tolong jagain rumah ya. Fati pergi jalan jalan dulu..” Fatimah berlalu setelah berpamitan dengan mang Udin tadi
Saat telah sampai di parkiran mall. Fatimah bergegas masuk kedalam. Karena sebelum turun di motor. Fati sudah mendapatkan pesan Wa dari Dinda. Kalau Dinda sudah sampai. Jadi Fatimah tinggal menyusul sang sahabat di depan pintu bioskop
“Hai! Assalamuallaikum..”
“Waalaikumsalam. Ayo kita masuk..” Dinda langsung menarik tangan Fatimah untuk mengikutinya masuk kedalam ruangan bioskop
“Emang kau sudah memesan tiketnya Din?..”
“Iya Fat, dari tadi tau. Kau sih lama…” Ucap Dinda sedikit kesal. Tapi ia tidak ingin menyalakan Fatimah, karena dari awal memang ia sendiri yang memaksa Fatimah untuk mengikutinya jalan jalan
“Aduh aku minta maaf ya Din buat kau menungguku..” Fatimah merasa bersalah kepada sahabatnya karena menunggunya terlalu lama. Dinda langsung melihat raut wajah sang sahabat, langsung saja menghiburnya agar Fatimah tak merasa bersalah lagi terhadapnya
“Sudah Fat, nggak usah sedih gitu dong. Aku nggak marah kok. Agak sedikit kesal, sedikit!..” Ucap Dinda sambil mencuilkan ibu jari ke jari kelingkingnya “Tapi aku akan lebih marah, kalau kau tidak jadi ikut!..”
__ADS_1
“Ya sudah jangan sedih lagi, mending kita masuk. Nanti filmnya habis lagi. Kalau kita telat..” mereka berdua pun masuk kedalam ruangan bioskop. Menonton film yang dipilih oleh Dinda tadi
Fatimah dan Dinda sekarang telah berada di pantai. Mereka akan menunggu sang surya yang tenggalam nanti. Sambil menunggu mereka pun membeli 2 kelapa muda untuk menemani mereka di pantai. Suasana pantai sangat indah, dimana banyak sekali manusia manusia yang berada di situ.
“Fat, yuk kau fotoin aku.. sebentar lagi pemandangan nya akan bagus jika di foto..”
“Iya sini mana hpmu..?” Dinda pun memberikan hp nya kepada Fatimah dan mereka pun mulai melakukan sesi berfoto ria. Setelah selesai Dinda maka, Fatimah yang akan di foto juga. Dinda sangat bahagia melihat senyum sang sahabat kembali lagi. Ia berharap semoga senyum itu tak akan pudar lagi
Tak jauh dari tempat meraka. Ada sepasang mata yang memperhatikan mereka. Terutama pada Fatimah. Entah mengapa ia tidak bisa mengahlikan pandangannya dari senyum lepasnya Fatimah. Seakan akan terhipnotis, ia sampai sampai ikut tersenyum melihat tingkah gadis itu
“Hei bro, loh kenapa senyum senyum sih. Nanti kerasukan baru tau rasa!..” ucap Dion sambil memberikan air mineral untuknya
Azmi merasa kesal dengan kedatangan Dion yang tiba tiba itu. Padahal Azmi tidak ingin memalingkan pandangannya sedetik pun. Tapi karena Dion yang mengagetkannya, jadi ia terlewat dari pemandangan yang sangat indah menurutnya
“Makasih bro..” ucap Azmi agak sedikit ketus
“Oh jadi, loh liat mereka ya hahaha..” Dion pun terpingkal pingkal akibat tertawa melihat Azmi yang seperti orang bodoh
“Yang mana bro, yang loh suka dari mereka,…” lanjut Dion
“Apaansi nggak jelas..” Azmi pun bertambah kesal, akibat sahabatnya. Dimana tadi suasana tenang menjadi kacau akibat kedatangan Dion tersebut
Merasa telah lelah akibat berfoto ria tadi. Fatimah dan Dinda pun memutuskan untuk pulang, lagian juga hari sudah mulai gelap. Jadi hari yang panjang ini akan berakhir. Begitu juga dengan Azmi dan Dion yang ikut pulang juga. Karena pemandangan yang dipandang tadi sudah pulang. Jadi Azmi pun mengajak Dion pulang juga, karena tak ada gunanya berlama lama dipantai
*****
__ADS_1
Hari hari telah berlalu. Hari ini juga merupakan hari kembalinya sang suami dan madunya yang habis melaksanakan bulan madu mereka. Jadi hari ini adalah ke pulang mereka dari Paris. Dimana membuat hati Fatimah luka yang ada di hatinya kembali tersayat. Mengingat bagaimana suaminya yang sangat mencintai
madunya itu
Menunggu adalah hal yang menyenangkan. Jika yang ditunggu adalah keniscayaan. Namun, menunggu akan menjadi melelahkan jika yang ditunggu tanpa member kepastian. Ucap batin Fatimah yang memandang kearah jalan yang ada didepan rumahnya
Saking asiknya ia melamun. Fatimah tak memperhatikan bahwa ada sebuah mobil mewah yang memasuki perkarangannya. Hingga suatu suara yang mengagetkan Fatimah
“Assalamuallaikum..” ucap sang mertuanya yang baru menginjakkan kakinya di teras rumah
“Waalaikumsalam..” Fatimah pun bergegas berjalan menuju mertuanya “Eh mama sama papa! Mari masuk dulu ma pa..” ucap Fatimah setelah sudah menyalimi sang mertua dan mengajak mertuanya untuk masuk kerumah Fatimah dan Addry
*****
Di Ruang Tamu
“Nak, Addry nya mana?..” ucap mama Mirna. Menanyakan keberadaan putranya kepada menantunya
“Ah!... an..u mah mas Addry nya ke luar Negeri katanya ada yang harus ia urusi. Dan tak bisa di wakilkan ma..” ucap Fatimah merasa bersalah. Karena merasa bersalah telah berbohong kepada mama mertuanya
“Di minum ma, pa..” lanjut Fatimah mempersilahkan kepada mertuanya untuk meminum minuman yang ia buat tadi
“Iya nak, terima kasih..” ucap papa Hendra. Sedangkan mama Mirna masih penasaran kemana putranya itu melakukan perjalanan bisnis. Seingat mama Mirna, Addry akan memintak izin kepadanya sebelum melakukan perjalanan bisnis tersebut. Walaupun Addry sudah menikah. Tapi sekarang Addry pergi tanpa meminta izin kepadanya. Bukan marah, tapi mama Mirna merasa ada yang disembunyikan oleh putranya
“Ke Negara mana Addry perginya nak..?”
__ADS_1
“Kata mas Addry ke Paris ma..”
“Emangnya kamu nggak ikut nak..?” Mama Mirna masih penasaran, apalagi melihat sikap menantunya yang agak kelabakan saat menjawab pertanyaannya