Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 17


__ADS_3

“Jadi kapan kita wisuda nya Din..?”


“Oh minggu depan Fati..”


“Terima kasih Ya Allah…” ucap Fatimah sambil mengadakan tangannya


“Iya Fat, minggu depan kita akan punya gelar hehehe..”  ucap Dinda dengan cengengesan


“Alhamdulillah Din..” Setelah dari kampus tadi. Fatimah pergi bersama dengan Dinda. Walaupun sempat Fatimah menolak, tapi dengan bujuk dan rayu dari Dinda dan akting menangis nya. Akhirnya Fatimah mau mengikuti kemauan dari sahabatnya itu


Mereka telah sampai di tempat yang Dinda inginkan tadi yaitu mall. Mereka pun berkeliling melihat suasana mall, kadang mereka berdua bermain game apa saja yang ada. Hari ini Fatimah merasa sangat bahagia. Sahabatnya itu selalu membuat ia merasakan apa yang tidak dapat ia rasakan


*****


Sedangkan didalam rumah, seorang laki-laki berjalan tanpa tentu arah. Seperti setrikaan bolak balik. Seperti ada yang menggangu pikirannya


“Kau dimana Fati, kenapa belum pulang…” Addry merasa khawatir, tidak biasanya Fatimah pulang telat seperti sekarang ini “Ini sudah jam 8 malam. Kenapa belum pulang hah!..” Addry pun menjambak rambutnya dengan kasar,


padahal istri tercinta nya juga belum pulang. Tapi entah mengapa ia tak merasa sekhawatir ini. Mungkin karena Bianca sering pulang telat. Sedangkan Fatimah jarang pulang malam begini


Tak lama kemudian terdengar bunyi mobil memasuki per karangan rumahnya. Addry pun bergegas melihatnya dari jendela terlebih dahulu, memastikan siapa yang memasuki per karangan rumahnya


“Terima kasih atas bantuannya pak..” ucap Fatimah dengan menundukan kepala. Setelah keluar dari mobil yang mengantar nya tadi


“Iya sama-sama. Kalau begitu saya pulang dulu ya!..” Fatimah pun hanya menjawabnya dengan anggukan. Setelah melihat mobil itu hilang dari pandangannya. Fatimah pun berjalan memasuki rumahnya


“Bagus! Jadi gini kelakuan kau Hah!..” sebuah suara bariton yang mengaget kan Fatimah yang sudah menutup pintu rumahnya


‘Astaghfirullah…”Kamu mengagetkan aku saja mas…” ucap Fatimah sambil tersenyum

__ADS_1


menghampiri sang suami berniat ingin menyalami tangan suaminya


“Dari mana saja kau ..” Fatimah melihat dari wajahnya Addry seperti ada kilat kemarahan


“Maaf mas. Tadi Fatimah ad…” belum sempat Fatimah melanjutkan kalimatnya. Addry telah memotong nya terlebih dahulu


“Habis jalan-jalan dengan laki-laki lain ya!..” Fatimah langsung menutup mata mendengar teriakan dari Addry


“Tidak mas, itu se…”


“Iya aku sudah tau semuanya. Kau selingkuh kan, karena saya tak memberimu nafkah batin. Ya!..”


Deg!.. jantung Fatimah terasa hampir mau lepas dari tempatnya. Perkataan Addry kembali menoreh kan luka yang tak berdarah di dalam hatinya


“Fati mohon mas, jangan mengatakan yang tidak-tidak mas..” air mata Fatimah berjatuhan sambil memohon didepan Addry


“Kejadian ini sudah membuktikan. Apa kau sudah pernah tidur dengan nya..” senyum sinis menghiasi bibir Addry


“Astaghfirullah.. istighfar mas! Fati enggak pernah melakukan dosa itu..”


“Baiklah! Mari kita buktikan apa perkataan mu itu benar apa tidak..” Addry pun menarik tangan Fatimah dengan sangat kuat menuju kamar Fatimah


“Mas, redakan dulu emosi mu mas. Fatimah sangat takut melihatnya..” Fatimah masih meronta-ronta. Ia merasa sangat takut melihat kemarahan Addry. Tapi Addry tak memperdulikannya. Ia malah menghempaskan Fatimah di atas kasur


“Mas, Fati mohon..” Fatimah pun memundurkan badannya kebelakang. Sampai ia mentok di dinding kasur nya. Tak ada jalan lain Fatimah pun akan mengambil jalur kiri untuk meloloskan diri. Tapi sialnya trik tersebut sudah terbaca oleh suaminya. Addry semakin menyeringai melihat ketakutan yang menghiasi wajah cantik Fatimah.


“Kenapa heh! Kau takut kan kalau kau tidak perawa* lagi kan..?” Fatimah merasa merinding saat wajah Addry depan wajahnya dan tangan Addry yang mengelus pipinya


“Bukan seperti itu ma…s Fatimah takut. Kalau seperti ini..” Fatimah masih menangis

__ADS_1


“Ah sudahlah\, banyak drama. Sekarang aku akan membuktikan bahwa kau memang tidak perawa* lagi…” Fatimah tidak bisa lagi mencegah perbuatan Addry kepadanya. Ia bukannya tak mau melayani suaminya itu. Tapi Fatimah tidak mau saat Addry mengga*linya dalam keadaan emosi. Fatimah sangat sedih mahkota yang selama ini dijaganya direnggut paksa oleh suaminya sendiri bukan itu saja Addry saat mengga*linya mengucapkan kalimat segala umpatan yang sangat menyakiti uluh hatinya. Luka di hatinya kembali terbuka lebar


Saat sudah melakukan hubungan suami istri. Fatimah pun berjalan menuju kamar mandi. Sekarang ia membasuh badannya dengan air dingin. Memang ini yang diinginkan oleh Fatimah. Ia berpikir siapa tau akan berubah keadaan rumah tangganya setelah melakukan kegiatan tadi.


Tapi yang ia tangisi adalah perbuatan suaminya yang sangat melukai nya saat melakukan hubungan suami istri. Setelah merasa lega, Fatimah pun kembali ke kamarnya. Ia pun kembali tidur di ranjang yang sama dengan Addry setelah memaki piyama tidurnya.


“Mas, aku bahagia walaupun kamu mengambilnya dengan secara paksa. Tapi tak apa, semoga dengan begini hubungan kita bisa seperti suami istri..” Fatimah tersenyum sambil mengelus pipi Addry yang sudah tertidur pulas. Setelah lama memandang wajahnya Addry. Fatimah pun memejamkan matanya menyusul sang suami di dalam mimpi


*****


Di pagi hari yang sangat indah. Dimana embun masih berjatuhan di tumbuh-tumbuhan dan kicauan burung serta kokokan ayam. Seorang gadis cantik, Ah! Salah bukan gadis tapi wanita. Ia sekarang bukan lagi gadis. Sekarang Fatimah sudah menjadi wanita. Ia sudah berkutat dengan peralatan dapur dan bumbu-bumbu dapur setelah melaksanakan shalat subuh terlebih dahulu


Merasa pemandangan didepan mata sudah tertata rapi. Fatimah pun bergegas menuju kamarnya, ia akan memanggil suaminya untuk sarapan pagi


“Mas… mas, bangun yuk..” ucap Fatimah dengan lembut


“Hem… iya sebentar” tak lama kemudian Addry pun membukakan matanya. Ia sangat terkejut dengan penampilannya yang tidak memakai sehelai benang satu pun. Kemudian Addry pun melihat Fatimah yang sibuk dengan mengambil semua pakaian kotor didalam kamarnya


“Arghh ..” sekilas kejadian tadi malam. Saat ia merenggut nya secara


paksa


“Fati tadi malam. Aku minta maaf atas kejadiannya..” ucap Addry dengan merasa bersalah


“Kenapa harus minta maaf mas. Memang itu sudah kewajiban Fatimah dari dulu..” ucap Fatimah dengan tersenyum sambil membawa baju kotor yang di pegang nya itu


“Oh iya!  Mending mas cepatan mandi. Biar kita sarapan terlebih dahulu..” setelah mengatakan kalimat tersebut. Fatimah keluar dari dalam kamar dan tersisalah Addry


‘Apa yang sudah aku lakukan kepada Fatimah. Kenapa sangat bodoh Addry, kenapa kau mengambilnya secara paksa. Kenapa juga aku merasa sangat emosi melihatnya dengan lelaki lain kemarin malam.. arghhhh” iya Addry tau bahwa Fatimah masih perawan apalagi melihat tanda merah yang ada di seprainya bukan itu saja Addry merasa bersalah saat ia mengingat kalau ia juga mengatakan kalimat-kalimat kasar saat melakukan hubungan suami istri' Addry pun langsung berdiri berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang terasa lengket*

__ADS_1


__ADS_2