
...🌻 Happy Reading 🌻...
"Assalamu'alaikum," ucap seseorang sembari mengetuk pintu rumah itu
"Waalaikumsalam" jawab Bibi dan langsung membuka pintu
"Eh! Ada Den Addry. Mari masuk Den!"
Membuka lebar pintu dan mempersilahkan Addry masuk
"Terima kasih Bi," ucapnya dan duduk langsung di sofa ruang tamu
"Sebentar ya Den, Bibi panggil Non Fati dulu,"
Addry membalasnya dengan anggukan kepala saja
"Berasa kayak tamu saja aku ya!" ucapnya dengan nada pelan
Addry tersenyum, saat melihat Fatimah yang kini fokus menuruni anak tangga
"Loh, Shaki nya mana?"
Addry bingung saat melihat Fatimah yang turun sendirian, tanpa membawa Shakinah putri mereka
"Masih tidur mas,"
"Yah!" jawabnya dengan lesu, padahal tadi ia sangat ingin bertemu dengan putri kecilnya itu. Karena seharian tak bertemu membuatnya begitu merindukan makhluk kecil itu
* * *
"Ayah sama Bunda mana?" ucapnya memecahkan yang mendadak heningan
"Ada di kamar, apa mau aku panggilkan?"
"Tidak-tidak," dengan cepat Addry menolaknya
__ADS_1
"Em, Dek!" Fatimah terdiam melihat tingkah Addry seperti orang kaku saja
"Iya Mas, katakan saja" ucapnya agar Addry sedikit rileks
"Masih jam tujuhkan?"
"Iya," jawab Fatimah
"Kamu sudah makan belum Dek?"
Addry mengusap tengkuknya, dia merasa sangat ingin menertawakan dirinya karena seperti orang kikuk saja didepan Fatimah
"Kamu kenapa sih mas, kikuk gitu"
"Aku belum makan soalnya belum selera aja," jawabnya
"Bagaimana kalau kita makan di luar saja Dek. Soalnya Mas juga belum makan malam,"
"Tapi kalau kamu enggak mau, juga enggak apa-apa kok," langsung merendah karena Addry tau mungkin Fatimah tak akan mau ikut dengan dirinya karena status mereka sudah bukan suami istri lagi menurut agama. Sejak talak itu terucap. Walaupun secara Negara masih tercatat sebagai suami istri
Baru saja Fatimah ingin membuka suara, tapi sudah di dahuli oleh Bundanya
"Kasian Nak Addry datang jauh-jauh hanya ingin menemui putrinya, tapi Shaki sudah tidur. Jadi ibunya saja yang nemanin Ayahnya Shaki,"
"Tapi, Bunda. Kami kan?"
"Iya Bunda dan Ayah tau, tapi kan kalian sudah dewasa. Jadi kalian sudah tau batasannya. Tanpa Ayah dan Bunda jelaskan kan!"
"Sudah Nak, ikutlah ajakan dari Addry. Siapa tau nanti berubah pikirankan," celetuk Ayah sekali mengeluarkan suara langsung menggoda kedua insan yang canggung itu
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku ambil tas ke atas dulu!"
Setelah kepergian Fatimah, Ayah dan Bunda mendekat duduk di dekat Addry. Pria tampan itu bingung melihat tingkah kedua orang tua paru baya ini
"Nak,"
__ADS_1
"Iya Bunda?"
"Bunda dan Ayah berharap kamu bisa mengembalikan kepercayaan dan merubah keputusan anaknya kami?"
"Maksud Ayah dan Bunda?"
Jujur saja Addry bingung mendengar kalimat ambigu yang di katakan oleh Bunda Lisa tersebut. Bunda dan Ayah pun tersenyum. Sejak kapan Addry lambat tanggap begini pikir mereka
"Kami berharap kalian kembali utuh. Membangun rumah tangga kembali dengan belajar dari masa lalu,"
Kini, Addry tau maksudnya
"Berarti Ayah dan Bunda. Merestui jika nanti kami kembali rujuk," ucapnya dengan begitu senang seperti mendapat angin segar kembaliq
"Iya, tapi ingat jangan mengulanginya lagi, jika tidak-" tiba-tiba saja Addry dengan cepat memotong perkataan sang Bunda
"Tidak Bun, aku janji. Jika Allah meridhoi ya, maka aku akan menjalankannya dengan sepenuh iman dan cintaku kepadanya karena Allah," ucapnya dengan sangat tegas
"Apakah Bunda dan Ayah tak memberi diriku?" ucapnya dengan pelan, tapi masih didengar oleh Bunda dan Ayah
"Kami tak pantas membencimu, tapi memang kami akui. Waktu mendengar semuanya kami sangat marah kepada dirimu Nak," ucap Ayah berhenti sejenak
"Tapi kami tak ada hak untuk selamanya membenci dirimu, sedangkan Sang Pencipta saja Maha Pemaaf. Apalagi kita sebagai umatnya. Juga harus begitu kan!"
"Semua manusia tak lepas dari kekhilafan dan dosa yang selalu menghampiri. Makanya kita harus mendekatkan diri kepadaNya, agar terhindar dari itu semua,"
Addry masih diam dengan setia mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Ayah kepadanya agar selalu ingat kepada Sang Pencipta
"Setelah mendapat kesempatan kembali. Jangan sia-siakan lagi,"
"Iya Ayah dan Bunda jangan khawatir. Atas izin Allah. Aku akan merubah diri dan memantaskan diri untuk kembali bersama dengan Fatimah, anaknya Ayah dan Bunda
Kedua orang tua Fatimah tersenyum mendengarnya
"Ayo Mas, mumpung masih belum terlalu malam. Yuk pergi, nanti Shaki nangis jika lama ku tinggal,"
__ADS_1
"Aduh ngebet banget sih, makanya Sah. Biar enggak ada kecanggungan,"
"B