
Rintikan embun jatuh, melembabkan setiap tanaman dan apa saja yang ada di bumi. Seorang pria bangun dari tidurnya, saat teringat adzan Subuh yang lewat tadi
Pria itu melihat jam, ternyata masih ada waktu untuk melaksanakan kewajibannya, dia bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengambil wudhu
"Ya Robb, rasanya tak mungkin. Jika kami akan kembali bersatu, tapi hamba yakin bahwa Engkau bisa membolak-membalikan hati umatMu. Maafkan jika Hamba terlalu mencintai HambaMu melewati cintaku kepadaMu. Hamba pasrah, jika memang perpisahan adalah yang terbaik untuk kami, tapi jika boleh memilih. Hamba hanya ingin, keluarga yang lengkap.."
Hanya satu harapannya, semoga Fatimah membatalkan penceraian. Dia tak rela, jika nanti anaknya memanggil orang lain dengan panggilan Ayah. Sungguh, rasanya Addry tak sanggup
Aku harus ikhlas, pasti rencana Allah adalah yang terbaik. Ucap batinnya
*
*
Addry bangkit dan keluar dari zona kegelapan yang sudah satu bulan ini dia gunakan. Dia mulai kembali berkerja untuk perusahaannya, ia merasa kasihan kepada Tomi yang selalu menjadi pelampiasannya
Sebenarnya Addry sering keluar, tapi hanya pergi ke rumah sakit saja bukan ke kantornya. Itupun, ia harus pagi atau sore untuk sekedar berbicara dan sekaligus menjenguk keadaan anaknya
Kenapa Addry memilih untuk datang pagi atau sore karena dia belum sanggup untuk ketemu dengan Fatimah. Bukan pengecut, tapi dia merasa jika sering mereka bertemu, akan membuat rasa cintanya bertambah besar untuk Fatimah
* * *
Sampai di kantornya, Addry langsung di sambut oleh asisten pribadinya yang sudah dianggapnya seperti adiknya sendiri kini
__ADS_1
"Selamat pagi, Tuan !"
"Pagi,"
Kedua pria tampan itu pun berjalan dan masuk kedalam kotak baja itu. Setelah terdengar bunyi khusus, keduanya keluar dan masuk kedalam ruangan yang luas dan mewah itu
"Tom, apa saja kegiatanku hari ini.." tanyanya setelah duduk di kursi kebesarannya
"Hari ini, Anda tak ada pertemuan Tuan.."
"Tom,"
"Ya Tuan, ada yang bisa saya bantu ?"
"Sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Tuan, Tom. Kamu sudah aku anggap seperti adikku sendiri.." tegasnya
"Tapi, Tuan-" katanya agak ragu dan merasa sungkan
"Sudah, kamu harus nurut, apa kataku.." perintahnya dan tentu Tomi tak bisa apa-apa, kecuali menuruti apa yang di mau oleh Addry
"Baiklah, setidaknya di perusahaan. Saya harus memanggil anda dengan sebutan Bapak.."
Addry hanya berdehem saja
__ADS_1
* * *
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, Addry dengan perasaan gembira, berjalan cepat untuk masuk kedalam mobil. Rasa tak sabar seakan merasuk kedalam hatinya
Dia rindu melihat wajah mungil, buah cintanya dan Fatimah yang masih ada di rumah sakit
Sampai di pelataran rumah sakit, dia berjalan menuju dimana anaknya di rawat dan berjalan sampailah di ruang bayi, tapi khusus bagi anaknya
Kening Addry berkerut, bingung melihat suster yang berjalan keluar dari ruangan dengan membawa peralatan yang ada didalam. Biasanya tempat anak perempuannya di rawat
"Sus,"
"Maaf Sus, "
"Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu ?" tanya suster memberhentikan langkahnya saat Addry memanggilnya tadi
"Kalau boleh saya tau, bayi yang ada didalam ini. Kemana ya ?"
"Oh, bayinya sudah pindah tempat !"
"Pindah," tanyanya dengan pelan, tapi masih didengar oleh susternya
"Iya Pak,"
__ADS_1
"Pindah kemana, Sus ?"
Pikiran Addry melayang, takut bercampur sedih. Takut kalau Fatimah membawanya pergi menjauh darinya, sedih nanti dia tak akan melihat anaknya lagi. Itulah pikirnya sekarang kalut