Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 95 "Kehidupan Bianca"


__ADS_3

Seorang wanita yang baru saja keluar dari rumah sakit. Dia berpenampilan sangat sehat, mungkin jika orang-orang melihat. Pasti mengira, jika dia sudah rela akan kepergian anaknya terutama pria yang bernama Pram. Pria itu sangat bersyuku dan ingin mengajak Bianca menikah, agar hubungan mereka halal dan ingin membimbing Bianca untuk segera memperbaiki diri


Pram sudah sadar, jika yang mereka lakukan adalah dosa yang sangat dibenci oleh Allah. Setelah kepergian calon anaknya. Dia semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, tapi setiap Pram ingin mengajak Bianca untuk menikah


Wanita itu selalu menolaknya, meskipun dengan cara halus, tapi membuat Pram kecewa mendengar alasannya. Namun karena rasa cinta dan ingin mengubah wanitanya untuk lebih baik


Dia rela menunggu Bianca siap dengan ajakannya itu, tapi semuanya sinarnya. Setelah menunggu berbulan-bulan tak juga ada jawabannya. Hingga, dia memutuskan untuk menanyai sekali lagi. Apakah Bianca sudah siap atau belum


"Bi, sampai kapan kamu akan menerima lamaranku ini ?" Tanyanya dengan lembut, duduk di samping wanita yang bersantai didekat kolam dengan ditemani minuman jus mangga


"Bi," panggilnya sekali lagi karena wanita itu tak menanggapi pertanyaan darinya. Malah dia dengan asiknya berjemur dibawah sinar matahari


"Iya, apasih ?" Jawabnya dengan sedikit nada membentak


Pram hanya bisa menghela


"Kapan Bi, kamu menerima lamaranku dan kita menikah. Orang tua ku sudah tua. Mereka juga ingin menimang cucunya !"


"Apakah kamu tak ingin memiliki anak kembali ?" Mendengar kata anak membuat Bianca mengepalkan kedua tangannya


"Umur kita juga sudah sangat matang Bi,"

__ADS_1


"Aku belum bisa kalau tentang itu," memilih langsung menceburkan diri di dalam kolam demi menghindari pertanyaan dari kekasihnya


Kali ini Pram sudah sangat-sangat kecewa akan sikap Bianca. Sebelum pergi, dia mengatakan sesuatu yang membuat Bianca diam membeku


"Baiklah, jika itu mau mu, tapi jangan salahkan aku. Jika suatu saat nanti, aku memilih orang lain untuk berada disisi ku.."


Pria itu langsung keluar dari rumah yang sudah dia berikan untuk Bianca, Pram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Menyalurkan emosinya


"Itu tak mungkin Pram karena aku sangat tau. Jika kamu sangat mencintaiku," ucapnya untuk menyemangati dirinya


*


*


*


Setelah kejadian di kolam renang, Pram hanya menjenguk Bianca sesekali saja. Itupun tak lama, hanya memastikan apakah wanita itu baik-baik saja. Setelah itu dia langsung pergi dari sana


"Tidak, tidak MUNGKIN !" Teriaknya menghancurkan segala barang yang ada di kamarnya


Bianca tak percaya, dia begitu marah melihat Pram duduk di sebuah singgasana pengantin dan disampingnya ada seorang gadis cantik berjilbab putih senada dengan pakaian Pram. Mereka tersenyum bahagia di sana menyalami setiap tamu undangan. Begitu juga kedua orang tuanya Pram tak kalah bahagia

__ADS_1


"Enggak, Pram hanya mencintaiku. Dia tak mungkin meninggalkan aku. TIDAK !" Teriaknya begitu kencang. Sehingga membuat seorang asisten rumah tangga ketakutan, ingin membuka pintu itu. Sungguh dia tak berani


Tidak ada pilihan lain, kecuali menghubungi Tuannya


Pram langsung keluar dari mobil, setelah mendengar laporan dari bibi membuat dia langsung kesini Untung saja acara mereka telah usai


Pram berjalan dengan langkah cepat, sehingga membuat gadis yang mengikutinya tadi kesusahan untuk menyeimbangkan langkahnya


Ceklek...


Berantakan !


Gelap !


Hanya itulah kondisi kamar itu, seperti kapal pecah


"Sayang..." Panggil Bianca yang baru saja keluar dari kamar mandi, bertepatan dengan Pram yang baru saja membukakan pintu. Senyum Bianca mengembang, dia sudah yakin. Jika kekasihnya itu hanya membuat prank semata, agar dia mau menerima lamarannya, tapi keinginan Bianca hanya keinginan semata


"Sayang aku mau terima lamaran kamu. Mari kita menikah !"


Mata Pram melotot, dia tak percaya mendengar perkataan Bianca. Waktu dia mengajak wanita itu menikah, tapi wanita itu selalu menolak. Kini, setelah dia menikah. Bianca dengan mudahnya menerima lamaran basi nya

__ADS_1


Tidak, pria itu harus menjelaskannya. Supaya tak ada lagi harapan untuk Bianca mengajaknya menikah. Pria itu langsung menarik tangan istrinya, Pram dengan begitu tegas mengenalkan istrinya


__ADS_2