Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 127


__ADS_3

Suasana yang begitu indah, matahari malu-malu keluar dari persembunyiannya. Burung-burung berkicau serta suara ayam berkokok untuk membangunkan manusia yang masih saja betah didalam selimut


Ada satu keluarga ini berbeda dari yang lain. Bagaimana tidak, seorang pria sudah bertamu pagi-pagi di rumahnya Ayah Fatimah. Senyumnya begitu menawan saat seorang bayi datang dengan di gendong oleh Bundanya. Kedua wanita yang begitu dia cintai dan sayangi, kini sampai mati


“Assalamualaikum Mas..”


“Waalaikumsalam bidadari ku..” jawabnya dan langsung mengambil ahli gendongan Shakinah dari Fatimah


“Enggak kerja Mas..?” Tanya dengan bingung padahal hari ini masih hari kerja pikir Fatimah


“Enggak Dek..” jawabnya dengan tersenyum kearah wajah putrinya yang tersenyum juga kepadanya


“Loh, kenapa Mas..?”


“Wah! Sejak kapan wanitaku ini kepo kepadaku..” mengahlihkan langsung pandangannya kearah wajah Fatimah


“Ish! Aku cuma mau bertanya aja kok di bilang kepo. Takut kamu nya lupa kan..!” ucapnya mencari alasan


“Iya-iya..”


“Hari ini sebenarnya aku mau ajak kamu ke butik Dek..!” lanjutnya

__ADS_1


“Apa! Emangnya Mas mau beli apa..?”


“Ah! kebanyakan nanya kamu. Nanti juga tau. Mending mandi gih, bau tau..”


“Iya-iya, terus Shakinah..?”


“Kok malah nanya, ya sama Ayahnya lah..” ucapnya dengan cuek menambah kekesalan di diri Fatimah, sudah mendadak ngajak ke butik terus cuek juga kepadanya


Fatimah beranjak dari sana dan menaiki satu persatu tangga untuk menuju ke kamarnya seperti perintah dari laki-laki yang sangat menyebalkan baginya


Setelah kepergian Fatimah yang mau membersihkan diri. Addry pun mengajak anaknya berkeliling di komplek agar anaknya bisa merasakan begitu sejuk dan enaknya waktu di pagi hari, tapi sebelum pergi. Addry berpamitan terlebih dahulu kepada wanita paru baya yang sebentar lagi menjadi mertuanya


“Eh! Boleh dong Ad daripada cucu Bunda suntuk di dalam rumah terus..!” jawab Bunda dengan begitu senang, apalagi melihat tangan dan kaki Shakinah tak diam dari tadi. Begitu juga wajahnya yang tertawa sehingga, menampilkan gusi yang belum di huni oleh gigi


“Baiklah Bun, aku izin bawa Shaki ya! Katakan juga nanti sama Fatimah kalau kami berkeliling sebentar di komplek..”


“Iya nanti Bunda katakan kepadanya..!”


Addry berjalan pelan agar anaknya bisa menikmati pemandangan yang ada di hadapannya. Begitu juga Bunda Lisa, setelah selesai dari menyiram semua tanaman yang dirawatnya. Dia pun masuk kedalam rumah untuk membersihkan dirinya


Ayahnya Fatimah, beliau saat ini baru saja sampai di rumahnya. Habis dari masjid karena tadi beliau shalat subuh nya disana dan sampai pagi ya biasa ceramah dulu sesama Bapak-bapak komplek

__ADS_1


*


*


Hanya butuh 15 menit Fatimah untuk membersihkan diri. Sekarang dia sudah berada di ruang tamu, dimana Addry dan Shakinah berada saat dia tinggalkan tadi


“Loh, kemana mereka..?” tanyanya kepada diri sendiri


Langkah kakinya pun menuntunnya untuk berkeliling sekitar halaman rumahnya, tapi tak kunjung melihat kedua orang yang sejak tadi dia cari. Untung saja Bunda dan Ayahnya baru saja keluar dari kamar mereka untuk menuju meja makan


“Bun, Bunda liat nggak Mas Addry sama Shaki tadi..?”


“Oh! Tadi Ayah ketemu mereka di sekitar komplek..” jawab Ayah sambil mendudukkan dirinya di kursi


“Iya Nak, tadi Addry meminta izin kepada Bunda katanya mau bawa cucu Bunda jalan-jalan. Sambil menunggu kamu mandi..!”


“Mari kita makan dulu yuk!..” ajak Bunda


“Iya, Ayah sama Bunda saja yang dulu makan. Aku mau cari Mas Addry dan Shaki dulu ya..!” pamit Fatimah dan membalikkan tubuhnya, tapi langsung terdiam di tempat saat melihat keduanya sudah berada di hadapannya


Tanpa merasa bersalah Addry tersenyum sedangkan anaknya sudah tertidur pulas kembali di dalam dekapan sang Ayahnya

__ADS_1


__ADS_2