
...🌻 Happy Reading 🌻...
Mungkin ini semua karena ulahnya di masa lalu dan kini baru ia petik
"Fatimah, istriku..." teriaknya dengan suara kencang dan bersahutan dengan bunyi petir
*
*
*
"Bagaimana Nak, apakah sudah enakkan ?" tanya Bunda kepada Fatimah dan wanita itu mengangguk
"Permisi !"
"Hari ini Nyonya Fatimah di perbolehkan untuk pulang," masuk kedalam ruangan rawat
"Anak saya bagaimana Sus ?" tanya Fatimah berharap semoga anaknya bisa pulang bersamanya, ya walaupun nyatanya tidak
"Kalau Dede nya, maaf Nyonya mungkin kita harus menunggu berat badannya naik. Baru bisa anda bawa pulang,"
"Iya Nak, anakmu masih butuh perawatan dulu. Nanti kita akan bersama setelah dia sembuh ya !" ucap Bunda Lisa dengan lembut agar sang anak mengerti
"Baiklah Nyonya, saya permisi kalau begitu !" ucap suster setelah melepas yang melekat di tubuh Fatimah seperti jarum infus
"Terima kasih Sus," di jawab senyuman oleh sang suster
"Sebentar ya Nak, Bunda beli makanan dulu untuk mu,"
__ADS_1
Bunda memang sengaja membeli makanan atau bisa di bilang sarapan untuk Fatimah sebelum pulang
"Tapi Bun, kita kan mau-"
"Sudah kamu turutin dulu apa yang Bunda kata ya !"
Setelah mengatakan itu Bunda pun pergi untuk menuju kantin
"Hem, apa kabar kamu Mas. Sudah dua hari kamu enggak ke sini ?" melihat kearah jendela
"Apa kamu kecewa karena Bunda sudah tau apa yang terjadi selama ini !"
Krekk....
Pintu terbuka lantas Fatimah begitu senang pikirnya mungkin ini adalah suaminya yang sudah lama tak mengunjungi
"Hai !" sapa nya
"Oh iya ini bunga untuk mu," Fatimah diam dan tak berniat mengambil bunga yang di pegang oleh William
Dia berpikir siapa pria yang ada di depannya karena seingatnya tak pernah jumpa dengannya apalagi kenal
"Kamu lupa ya,"
William meletakkan bunga dan parsel buah di meja mendekat kearah Fatimah, sedangkan Fatimah memilih mundur
"Aku William, rekan kerja suami mi," memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya
"Maaf Mas Addry nya tak ada disini !" mengatupkan kedua tangannya di depan dada, William paham dan dia langsung menurunkan tangannya bahwa wanita di depannya ini tidak akan menerima uluran tangannya
__ADS_1
Baru saat William ingin duduk di sofa mereka di kejutkan oleh suara pintu terbuka
"Assalamu'alaikum"
Apa Mas Addry ! Semoga saja dia tak akan salah paham. Batinnya Fatimah saat melihat Addry masuk dengan wajah datar
"Oh, ada tamu ya !" ujarnya dengan santai, duduk di sofa sedangkan William masih berdiri.
Entah kenapa dia merasa kurang enak kepada Addry karena datang ke sini tanpa ada Addry di sisi istrinya. Padahal semuanya sudah di rencanakan oleh dirinya
"Maafkan saya Tuan, saya datang kesini tanpa memberitahukannya kepada Anda,"
"Tidak masalah Tuan William, oh iya terima kasih atas kunjungannya," memberikan senyuman ramah kepada William
"Oh iya kalau boleh saya tau dari mana Anda bisa tau. Jika istri saya sedang masuk ke rumah sakit," sindirnya
"Ah!" William gelagapan bingung mau bicara apa
"Sudah, jangan terlalu tegang kenapa sih !"
Butuh waktu satu jam, akhirnya William pulang. Tinggal Addry dan Fatimah di dalam ruangan itu. Karena Bunda Fatimah belum juga kembali. Entahlah kenapa beliau lama sekal
Hati Addry sedih karena melihat istrinya tidak mau memberitahukan apa penyebab William datang. Padahal mereka belum kenal satu sama lain, tapi dia lebih memilih diam saja dan pamit untuk pulang karena tak mau membuat Bunda marah lagi kepadanya
Saat ini dia dan Fatimah sedang di beri jarak, jadi dia mau tidak mau menurutinya. Demi kesembuhan sang istri agar tak tertekan
Ayo² dukung karya Author mumpung masih awal
Terimakasih ❤️
__ADS_1