
“Mari mas kita makan..!” dengan telaten Fatimah mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk untuk suaminya
“Ini mas…” Addry hanya membalasnya dengan deheman saja. Setelah melayani suaminya. Fatimah langsung mengisi piring untuk dirinya sendiri. Mereka berdua pun makan dengan hening hanya terdengar dentingan sendok dan garpu saja
“Haiiii…” ucap seorang wanita yang baru menghampiri Fatimah dan Addry yang saat itu masih sarapan pagi
“Dari mana saja kamu…?” ucap Addry dengan dingin. Ia sudah tau siapa yang datang tanpa perlu melihatnya
“Ah! Mas pasti sudah merindukan ku ya..?” ucap Bianca langsung duduk di pangkuannya Addry . tepat di hadapan Fatimah
“Jangan menjawab pertanyaan dengan pertanyaan juga..” kalau bukan Bianca saat ini sedang hamil
“Oh itu kemarin aku nginap di tempat syuting mas..”
“Aku kan sudah mengatakannya kepadamu. Kamu enggak usah kerja. Biarkan aku saja yang kerja..”
“Tapi kamu kan tau mas, dunia hiburan itu adalah cita-cita ku mas..” Ucap Bianca dengan kesal dan ia pun langsung berdiri berjalan menuju kamarnya dan Addry
‘Huffttt….’ Addry pun menghela napas dengan kasar
“Mas jangan kayak gitu sama mbak Bianca. Dia kan sedang hamil muda mas…”
“Tapi Fati, Bianca tidak meminta izin kepada ku soal dia menginap di tempat syuting nya kemarin..”
“Iya-iya mas, Fati tau kok. Tapi ingat mas harus tahan emosi nya ya..” ucap Fatimah dengan sangat lembut
Fatimah kenapa kau sangat baik kepadaku, padahal aku ini sudah beberapa kali melakukan perbuatan yang menyakiti hatimu. Kau memang benar wanita baik-baik. Tapi maaf sekarang aku belum mencintaimu. Ucap batinnya Addry memandang kearah wajah cantik nya Fatimah
“Mas! Jangan suka melamun didepan nasi. Nanti nasi nya nangis tau…” ucap Fatimah dengan sedikit bercanda
“Ha ha ha kau ini bisa saja. Iya sudah mari lanjutkan makanannya. Masalah Bianca tak usah kau pikirkan…” setelah itu mereka pun memakan sarapan dengan suasana yang kembali hening. Cuma bunyi sendok dan garpu saja
“Sayang, maafkan mas ya. Atas masalah tadi..” Addry pun duduk disamping Bianca yang sedang berbaring. Sambil memainkan rambut yang menghalangi wajah Bianca
“Sayang jawab dong, jangan marah kayak gini. Mas tau kamu itu belum
tidur kan..?” ucap Addry dengan sekali lagi. Karena tak dapat jawaban dari Bianca
“Mas sih salah, aku kan baru pulang kerja tapi kamu nya malah marah-marah kayak gitu tadi..” ucap Bianca dengan langsung duduk dan menyandarkan badannya di sandaran ranjang
“Iya-iya maaf ya! Jangan marah lagi kasihan sama dedek bayinya…”
“Iya aku maaffin. Tapi jangan diulangi lagi..” Addry pun hanya menjawabnya dengan anggukan dan tersenyum kearah Bianca. Sungguh Addry sangat dibutakan nya oleh yang namanya cinta. Sampai-sampai menelantarkan istri yang satunya lagi
*****
Di kamar Fatimah
“Hufttt. Bagaimana ya cara mengatakannya sama mas Addry kalau sebentar lagi aku mau wisuda…”
“Nanti saja deh, aku memikirkan nya. Mending aku melaksanakan kewajibanku dulu..” Fatimah pun langsung melaksanakan kewajibannya karena sudah memasuki waktu dzuhur
Malam hari
__ADS_1
Fatimah yang baru saja keluar dari kamarnya. Setelah shalat magrib tadi. Tapi pas mau menuju dapur Fatimah mendengar canda tawa di ruang santai didepan televisi. Fatimah pun berjalan menuju sumber suara tersebut
Sungguh beruntungnya mbak Bianca yang sangat disayangi oleh mas Addry. Kapan ya aku juga merasakannya seperti itu. Astaghfirullah, jangan berpikir yang tidak-tidak kepada sang Pencipta Fatimah. Pasti rencanaNya lah yang paling indah. Ucap batin Fatimah menguatkan diri sendiri
Fatimah hanya manusia biasa, ia juga punya batasan kesabaran. Tapi entah sampai kapan kesabaran itu akan meledak. Mungkin disaat itulah ia akan memilih pergi. Tapi untuk saat ini ia masih memilih sabar. Siapa tau takdir berkata lain yang baik untuk dia
“Mas Addry dan mbak Bianca mari kita makan! Fati sudah siapkan semuanya..” ucap Fatimah tersenyum manis mengajak kedua insan yang sedang bermesraan di sofa depan televisi. Sebenarnya Fatimah merasa sakit melihat nya. Tapi ia sangat pandai menyembunyikannya hingga orang orang yang melihatnya pasti mengira kalau
Fatimah tak merasakan sakit saat melihat suaminya dengan madunya. Tapi itu Cuma penilaian dari orang-orang lain. Cuma Fatimah lah yang tau apa yang iya rasakan
Di meja makan
Bianca kembali memamerkan kemesraan nya kepada Fatimah. Ia ingin membuat Fatimah sedih dan iri melihat kemesraan mereka
“Mas suapin dong..” ucap Bianca dengan nada manjanya
“Kamu sendiri saja sayang. Malu dong kalau disuapin..” Addry merasa tak enak kepada Fatimah kalau ia menuruti kemauannya Bianca. Tapi bukan Bianca namanya kalau tak punya seribu cara agar Addry mau melakukan apa yang ia mau
“Mas ini semua atas keinginan anakmu mas. Dia mau di suapin oleh Daddy nya sendiri..” dengan muka cemberut nya Bianca
“Iya sudah, jangan marah ya dedek nya..” sambil mengusap perut Bianca yang masih rata. Setelah menyetujui keinginan Bianca dengan telaten Addry menyuapinya
Kenapa sih wanita ini tak menangis atau apalah kek. Kenapa malah senyum melihat kami yang sedang bermesraan ini. Apa dia tak merasakan sakit saat melihat mas Addry yang sedang menyuapi ku. Ah sial ternyata ini tak mumpan
untuk dia. Ucap batin Bianca yang kesal karena Fatimah sama sekali tak menunjukan ekspresi yang sedih. Dia hanya menunjukan ekspresi tersenyum seakan-akan tak terjadi apa-apa kepadanya
*****
Hari ini merupakan hari dimana Fatimah akan wisuda dan ia sudah mengatakannya kepada Addry bahwa ia wisudah dan Addry juga mengatakan akan datang kalau dia sudah selesai metting. Fatimah sangat senang mendengar jawaban dari Addry. Tapi pagi ini Fatimah sempat merasakan pusing dan ia juga merasakan
ingin muntah tapi saat dimuntahkan tak ada yang keluar. Fatimah berpikir mungkin ia sedang masuk angin karena disebabkan tadi malam ia tidak bisa hidup saat mendengar jawaban dari Addry yang akan datang di wisudahan nya
“Mas ingatkan hari ini Fati wisuda..” ucap Fatimah sambil menyalami tangan Addry
“Iya nanti aku usahakan datang ya..” semenjak mereka melakukan hubungan suami istri pada malam itu. Semenjak itu juga Addry sudah mengubah bahasanya yaitu aku kamu dan juga sekarang Addry mengakui bahwa ia sudah jatuh cinta dalam pesona nya seorang Fatimah. Tapi belum ia katakan kepada Fatimah tentang perasaannya
“Iya mas, Aku tunggu nanti. Dadahhh..” Fatimah pun masuk kedalam rumah lagi untuk bersiap-siap pergi ke wisudahan nya sendiri
“Mau kemana kau wanita kampung…?” Bianca yang saat itu baru turun dari kamarnya. Pas saja waktu itu juga Fatimah yang baru saja mau keluar
“Eh mbak Bianca, hari ini Fati wisuda mbak. Apa mbak nya mau ikut melihat Fati wisuda…?” Fatimah tersenyum menunggu jawaban dari Bianca
“Enggak sudi saya ke tempat wisuda wanita kampung kayak kau tau!..” ucap Bianca dengan berteriak
“Ya sudah kalau begitu mbak, Fati pamit dulu ya. Assalamualaikum…” Fatimah pun langsung pergi. Ia memilih pergi dari pada berdebat dengan Bianca. Setelah kepergian Fatimah. Bianca langsung menuju dapur untuk makan karena perutnya sudah terasa sangat lapar
“Apa mas Addry sudah berangkat kerja ya..?” Bianca pun langsung melihat jam yang ada di dapur menunjukan jam 8 pagi “Ah Bianca, kau ini orang itu kalau suami mau berangkat kerja dilayani dulu. Lah ini malah bangun siang. Tapi enggak papa Addry kan sangat mencintaimu hahaha..” ucap Bianca dengan bertanya dan menjawab sendiri setelah itu tertawa. Entahlah apa yang membuatnya sangat bahagia
*****
“Bagaimana Fati, inikan sudah hampi habis acaranya. Apa kau masih mau menunggu suamimu..?” sambil melihat wajah Fatimah yang sangat pucat
“Iya Din, aku mau menunggu mas Addry sebentar lagi..” ucapnya sambil memegang kepalanya yang terasa sangat berat dan pandangannya mulai semakin gelap
__ADS_1
“Tapi Fati, muka kau sangat pucat. Mending kita cari tempat duduk ya…” Fatimah hanya menganggukkan kepalanya. Mereka pun duduk di depan gedung acara wisuda tadi. Tapi tak lama setelah duduk. Fatimah pun jatuh pingsan dan saat itu pula bertepatan dengan Azmi yang baru saja ingin masuk kedalam mobil saat ia selesai membeli kopi di kafe depan gedung acara wisuda. Azmi pun berlari menyeberangi jalan untuk menuju kearah Fatimah dan Dinda
“Ini kenapa nona…?”
“Enggak tau tuan. Mungkin teman saya kecapean..” ucap Dinda dengan nada panik
“Ya sudah ayo kita masuk kedalam mobil saya saja di seberang sana..” Dinda pun menyetujui apa yang dikatakan oleh Azmi. Mereka pun menyeberangi jalan
“Tuan bukankah itu nyonya Fatimah…?” ucap Tomi dan Addry pun langsung mengalihkan pandangannya dari ponsel kearah yang dikatakan oleh Tomi tadi
‘Kurang ajar, berarti seperti ini kelakuan kamu Fatimah. Saat diluar..’ Addry pun mengepalkan kedua tangannya saat melihat Azmi yang menggendong tubuh Fatimah. Entahlah setiap Addry melihat Fatimah berdekatan dengan laki-laki lain ia merasa cemburu nya terlalu tinggi untuk Fatimah. Padahal kalau di lihat mungkin saja kan itu hanya kebetulan. Tapi karena Addry diselimuti oleh kecemburuan, ia tidak bisa berpikir jernih. Ia hanya berpendapat apa yang ia lihat saja
“Ikuti Tom, kemana mereka pergi..” tegasnya
“Baik tuan..”
*****
“Dokter tolong dulu nona ini…” ucap Azmi dengan berteriak dan itu berhasil mengahlikan pandangan mereka kearah Azmi yang berteriak tadi. Para tim medis pun langsung mengambil ahli Fatimah dari gendongannya Azmi dan pintu pun tertutup. Tinggal Dinda dan Azmi lah yang berada diruang tunggu
Ceklek…..
“Bagaimana Dok, keadaannya..!” ucap Azmi dengan cepat mendahului Dinda yang pada saat itu ingin menanyakan keadaan sahabatnya
Dokter pun tersenyum melihat kekhawatiran yang terpancar dari wajah tampan seorang Azmi
“Bapak tenang saja, istri bapak sekarang lagi hamil dan sekarang usianya 2 minggu..”
“Apa!..” ucap seseorang yang baru saja sampai di tempat ruang periksa nya Fatimah dia adalah Addry selaku suami sah Fatimah. Mereka pun langsung menoleh kearah Addry
“Apa yang anda bicarakan tadi dokter..?”
“Maaf pak, atas kekhiafan saya tadi. Sekarang istri anda sedang hamil muda berumur 2 minggu..” dokter pun tersenyum setelah mengucapkan kalimat tersebut. Addry pun hanya diam. Dia tidak menunjukan ekspresi senang atau marah. Cuma Addry lah yang tau
“Apakah saya boleh menemui istri saya Dok..?”
“Iya pak, anda boleh menemui nya..”
Addry langsung memasuki ruangan dimana Fatimah sedang beristirahat. Sedangkan Azmi, Dinda dan Tomi. Mereka hanya diam tak ada yang berbicara. Mereka larut dalam pikiran masing-masing
Sedangkan di dalam Addry yang saat ini sudah duduk di kursi dekat dengan ranjang Fatimah. Ia memperhatikan wajah Fatimah yang pucat. Tapi tak lama kemudian Fatimah pun bangun dari pingsan nya
“Kamu sudah bangun…” Fatimah pun terkejut mendengar suara Addry yang tegas
“Ma..s kamu kenapa bisa sampai disini..?” Fatimah bingung kenapa Addry bisa sampai disini dan ini seperti ruangan rumah sakit
“Kenapa kamu tidak suka..”
“Bukan begitu mas, maksud Fati. Ken…”
“Katakan siapa anak yang kamu kandung saat ini Fati..”
Deggg!
__ADS_1