Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 98 "Ikut Nginap"


__ADS_3

...🌻 Happy Reading 🌻...


Kini jam sudah menunjuk pukul delapan malam. Fatimah tidak tega saat melihat Addry yang masih saja menggendong putri mereka. Padahal Shakinah sudah tertidur di dalam dekapan Addry


Akhirnya, Fatimah berdiri dari duduknya. Berjalan menghampiri Addry


"Mas, sini Shakinah nya. Kamu pasti belum makan kan ?"


"Ah! Enggak deh. Biarlah dia tidur nyenyak dulu. Kasian, nanti dia kebangun kalau pindah tidur !" Tanpa mengahlihkan wajahnya yang masih dengan setia memandang wajah teduh anaknya


"Tapi kamu pasti belum makan kan ?"


Addry tersenyum saat mendengar nada Fatimah berbicara seperti tersirat ada kekhawatiran didalamnya


"Pasti tadi langsung kesini kan, habis kerja,"


"Sini ! Kamu pasti capek.."


"Aku belum lapar Dek, mending kamu deh cepetan makan kan agar asupan anak kita banyak," godanya membuat semburat merah di pipi Fatimah terukir indah


"Sudah jangan khawatir Dek, Mas kuat kok. Balik nanti makan !" lanjutnya


"Cepek? Tadi sih memang capek, tapi setelah lihat wajah ini. Capeknya hilang seketika dan diganti oleh kesenangan.." menyentil hidung mancung kecil itu


"Cepatlah makan dulu. Shakinah biar Mas saja yang jaganya," tegasnya, seperti seorang komandan yang memberikan tugas kepada prajuritnya


Akhirnya, Fatimah pun mengikuti apa kata Addry. Dia langsung menuju kantin rumah sakit


* * *


"Nak, jika Ayah dan Bunda jadi berpisah. Apakah kamu akan sedih ?" mengelus pipi anaknya dan Shakinah bergerak-gerak dengan mata yang masih terpejam


"Ya ! Ayah yakin. Pasti kamu yang akan paling sakit dengan keadaan ini yah!" menunduk menyembunyikan air matanya yang akan jatuh pasti akan mengenai wajah mungil yang ada di dalam dekapannya ini


"Tapi mau bagaimana lagi, Bunda mu bersikeras ingin berpisah dari Ayah Nak. Heh! Ayah memang tak pantas bersanding dengan Bunda mu, Nak.."


"Memang Ayah akui, jika sudah banyak kesalahan yang sudah Ayah ciptakan dan yang menerima impasnya Bunda !" Addry malu kepada anaknya sendiri

__ADS_1


"Tapi, Ayah akan berusaha sekuat mungkin untuk meyakinkan Bunda. Agar membatalkannya dan kita bisa bersatu lagi," tersenyum menyembunyikan kepedihannya


"Doakan Ayah ya, putri kecil Ayah.."


"Kamu setuju kan"


"Setuju dong,"


Addry menggenggam tangan anaknya dan mengajaknya bertos tangan, seperti anaknya sudah besar saja haha


*


*


*


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam," jawab Addry setelah mencium kening anaknya


"Makan dulu Mas,"


"Aku beli ayam geprek tadi, soalnya sudah enggak ada lagi yang jualan nasi. Adanya makanan ringan saja,"


"Sini Shaki nya Mas,"


"Kamu saja Dek dulu makannya. Mas nyusul nanti !" masih betah menggendong Shakinah


"Ya sudah kalau enggak ada yang mau mengalah," ucap Addry mengantungkan katanya dan berjalan menghampiri box anaknya dengan perlahan dan penuh telaten nya Addry menidurkan tubuh anaknya agar tak bangun


"Ayo makan,"


Fatimah hanya mengikuti saja apa yang di katakan oleh Addry, mereka memakan masih geprek itu dengan penuh khidmat


* * *


"Dek !" panggilnya setelah mereka membereskan tempat makanan mereka tadi dan kini sudah duduk kembali di sofa menghadapi kearah box anak mereka

__ADS_1


"Iya Mas, ada apa ?"


"Bolehkan, jika Mas ikut jaga Shaki disini ?"


Addry juga ikut kaku dan canggung karena Fatimah sepertinya menjaga jarak darinya dilihat dari duduk mereka. Dimana Addry duduk di sofa besar sedangkan Fatimah duduk di sofa single


"Tapi,"


"Tenang saja, Mas enggak akan tidur di sofa kok. Mas akan duduk di dekat Shaki,"


"Dan Mas juga enggak akan ngapa-ngapain kamu kok. Janji !"


"Baiklah,"


Akhirnya, Tomi yang mendapat impas nya karena Addry menyuruh dia untuk mengantar baju gantinya ke rumah sakit


Tak butuh waktu lama, Tomi pun datang membawa paper bag


"Assalamu'alaikum,"


"Waalaikumsalam,"


"Apa kabar Nyonya ?"


"Aku, alhamdulillah baik Kak kalau kakak ?"


"Ah! Syukurlah. Alhamdulillah juga, Nyonya"


"Oh iya dimana Tuan ?" karena sedari tadi tak melihat Addry di dalam ruangan itu


"Mas Addry mandi Kak, itu.."


Tunjuk Fatimah kepada pintu yang tertutup di sudut ruangan itu


Tomi pun mengangguk


**Jangan lupa ya Like, Vote and coment nya. Biar Author tambah semangat up nya

__ADS_1


Dadah 👋


Assalamu'alaikum 🙏**


__ADS_2