
Kini Addry dan Mang Diman sibuk membawa barang yang ada di kamar utama di pindahkan di kamar bawah
Sedangkan Fatimah hanya duduk. Karena tadi sempat dia mau membantu, tapi dicegat oleh Addry dan kini berakhirlah di di sofa. Hanya dapat melihat apa saja yang suaminya, mang Diman dan bibi Sum kerjakan
"Ini tuan taruh di mana?" tanya mang Diman yang masih memikul buffet
"Taruh disana saja Mang.." tunjuk Addry mengarah kearah dekat dengan ranjang
"BI, bibi nggak usah ikut ngangkat. Bibi di sini saja.."
"Tapi tuan, bibi nyusun saja ya!"
"Ya sudah BI.." Addry dan mang Diman kembali mengangkut barang-barang yang masih tinggal di kamar utama
Ah mas Addry, aku kan suntuk kalau diam gini
"BI, dimana istri saya..?" mencari Fatimah setelah selesai mengangkat dan menyusun segala barang di kamar baru mereka
"Bibi nggak tau tuan.."
"Hai..." panggilnya. Sontak saja mereka langsung melihat kearah belakang
"Kamu dari mana saja dek..?"
"Ini semuanya duduk dulu..." mereka bertiga menuruti apa yang dikatakan oleh Fatimah
"Cobain kue yang baru Fati buat.." menaruhnya, karena suntuk tadi. Fatimah memilih melihat YouTube tentang masak-masak. Jadi berakhirlah, pelajaran tadi menjadi nyata dan kini sedang mereka cicipi dan nikmati
"Ini kamu masak sendiri dek..?" bingung, karena Addry tak pernah melihat apalagi mencicipi kue yang baru dia lihat ini
"Iya mas.."
"Kenapa..?"
"Enak..!"
"Makasih mas.."
"Kalau menurut bibi sama mang Diman enak nggak?" tanya dengan antusias menunggu jawaban kedua orang yang di depannya ini
"Enak non. Enak sekali.." jawab mereka
"Ah! Jadi tambah semangat buatnya lagi.."
🍃
"Eh! Bapak nggak mau singgah dulu.." menawarkan
"Apakah boleh..?"
Eh beneran ni orang mau? Aku kan hanya memarkan saja sebagai basa basi. Bukan berarti yaaa!
"Baiklah ayo..!" berjalan mendahului Dinda yang bengong
Ah! Pakaian ku semua yang ada di dalam rumahkan masih berantakan. Apalagi !..
Pas ingat jika dia masak tadi tak sempat di bersihkan dan kini kondisinya masih amburadul
"Pak, tunggu dulu sebentar.." merentangkan kedua tangannya di depan pintu
"Kenapa Din..?" kening Azmi langsung berkerut. Melihat Dinda seperti ada yang dia sembunyikan
"Oke, aku tunggu di sini.." dia memilih duduk saja, dia tak ingin melihat jika tak diizinkan oleh pemiliknya. Siapa tau ada privasi yang tak boleh dilihat oleh orang lain
"Tunggu sebentar ya pak..!" tanpa menunggu jawaban dari Azmi. Dinda langsung masuk dan menutup pintu rumahnya
"Ini nih, ah! Dasar kamu ini Din. Perempuan tapi jorok.." melihat bekas plastik-plastik cemilan serta pakaian yang belum di lipat masih berserakan di sofa
"Huh selesai juga!" mengelap keringatnya. Padahal tadi habis joging. Tapi ini lebih banyak menguras banyak tenaga. Mungkin takut jika pria tadi lama menunggunya
"Mari pak masuk.." ajak Dinda
"Ah! Maaf Din. Aku pulang dulu ya.."
__ADS_1
"Kenapa pak..?"
"Apa bapak terlalu lama menunggu saya tadi..?"
"Bukan Din, tapi saya hari ini ada janji.."
"Baiklah pak, hati-hati.."
Ceklek...
Pintu tertutup, padahal Dinda sangat bahagia jika Azmi mau mampir. Walau tadi sempat hanya sekedar basa basi saja. Dinda tau mungkin Azmi tak mau masuk karena keadaan rumahnya. Itulah pikirnya
🍃
"Sini mas biar Fati bantu keringkan rambutnya.." Addry mengangguk dan memberikan haydrayer kepada sang istri
"Dek, makin cantik aja.." ucap Addry yang tak bosan-bosan menuju kecantikan sang istri
"Sudah mas, jangan terus-terusan memuji. Nanti telinganya Fati terbang.." candanya
"Biarlah nanti mas mengambilnya kalau terbang.." tersenyum melihat Fatimah menggerutu didepan cermin
"Jangan menggerutu dek..."
"Siapa yang menggerutu si..."
"Itu buktinya..!" tunjuk Addry
"Sia..." belum sempat menjawab tapi pas lihat di cermin. Ah! Sungguh malunya dia. Ingin rasanya Fatimah menjadi kecil agar dapat sembunyi dari rasa malu ini
"Ha ha ha..."
"Masih mau mengelak tadi kan?" masih dengan tertawa
"Iya-iya maaf kalau Fati menggerutu di belakangnya mas.."
"Ikhlas...?"
"Nah gitu! Kan kamu tau tak boleh mengumpat ataupun menggerutu pada suami.."
"Iya mas, Fati tau itu dosa.."
"Pintarnya istri mas..." membalikan badan menghadap kearah Fatimah dan dia langsung menarik wanitanya. Hingga Fatimah kini duduk di pangkuan sang suami
"Mas.." karena wajah memerah karena sekarang wajah suaminya kini sangat dekat dengannya. Mungkin tinggal 5 senti lagi
"Hem..." menelusup kan tangannya di tengkuk sang istri yang dilapisi oleh hijab
Fatimah tak bisa melanjutkannya lagi saat merasakan apa yang kini dilakukan oleh suaminya kini
"Dek!" dengan suara berat
"Iy- iya.." jawabnya dengan gagap
"Mau kan..?"
Muka Fatimah memerah tau arah yang dimaksud oleh sang suami. Dia hanya bisa menganggukkan kepala saja sebagai persetujuan
Saat mendapat lampu hijau, Addry langsung mengangkat tubuh sang istri dan di tidurkan nya tubuh wanitanya itu hati-hati
"Mas.." mencegah, sempat Addry bingung
"Kamu mau nolak dek, do.."
"Bukan tapi..." malu melanjutkannya, Addry langsung tersenyum saat melihat sang istri selalu jika mereka ingin melakukannya. Pasti sang istri selalu malu
"Iya-iya mas akan pelan.."
"Pakai selimut.."
"Iya, ada yang lain lagi dek. Sebelum mulai..?" tanyanya
"Enggak..."
__ADS_1
Akhirnya!
🍃
"Dek bangun! Sudah siang..." membangunkan sang istri
"Hem..."
"Sudah Zuhur belum mas.." dengan suara khas bangun tidur
"Belum dek, sebentar lagi.."
"Ya sudah Fati mau mandi.." ucapnya tanpa melihat sang suami karena kondisi dia tadi membelakangi Addry
"Eh! Mas.." saat merasakan tubuhnya kini melayang di atas udara karena di gendong oleh sang suami
"Mandi barengan saja ya.."
"Enggak nanti mas.."
"Enggak janji kok.."
Kini mereka telah siap shalat berjamaah bersama. Karena waktu shalat Zhuhur telah masuk. Sesuai janji Addry tadi dia tak akan melakukan apa-apa dan benar
Allahu Akbar..
Allahu Akbar
5 menit kemudian
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.."
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu.."
Diikuti oleh Fatimah dan diamini nya segala doa yang dipanjatkan oleh Addry tadi
"Ya Allah kami menghadap kepadaMu dan tak bosan-bosannya memohon atas segala kekhilafan dan dosa-dosa yang kami lakukan. Ya Allah lindungilah istri hamba dan calon anak hamba. Lancarkan lah segala urusan dan persalinan nanti. Aamiinn"
"Mas.."
Fatimah menjulurkan tangannya untuk menerima tangan sang suami
"Fati minta ridho nya mas.." seraya mencium tangan sang suami
"Iya dek.."
Cup!
"Mas juga.."
"Assalamualaikum anaknya Ayah.."
"Waalaikumsalam ayah..." jawab Fatimah menggunakan seperti suara anak kecil
Addry tersenyum mendengarnya
Dug! Tendangan dari dalam sana
"Wah! Bayi ayah lagi main bola ya.." dengan gembira Addry merasakannya
"Dek kamu merasakannya nggak..?" tanyanya dengan sangat gembira
"Ya Allah mas, ya iyalah mas kan aku yang ngandung nya .."
"Oh iya ya..!" menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Merasa malu karena bertanya yang bisa dibilang pertanyaan konyol. Saking bahagianya karena sudah bisa merasakan pergerakan dari calon anaknya
"Sejak kapan dek..?"
"Oh ini baru beberapa hari mas.." ucapnya dengan polos
"Tapi kamu nggak memberitahukan nya sama mas dek..?"
"Maaf mas, Fati lupa!" cengengesan
__ADS_1