
"Dek, jangan marah gitu dong..!" ucap Addry membujuk istrinya
"Aku enggak marah kok, cuma kesal saja..!" jawabnya dengan memalingkan wajahnya ke arah jendela mobil melihat kearah jalan
Addry menghela nafas sejenak melihat sang istri, setelah itu dia memalingkan wajah Fatimah kembali kearahnya untuk melihat wajah Fatimah
"Sudah dong, jangan kebanyakan kesal Dek. Kasian sama sama yang ini.." sambil mengusap perut buncit Fatimah, begitu juga Fatimah juga melihat apa yang di maksud oleh suaminya itu
"Jangan marah ya!" ucapnya dengan lembut mengusap kepala Fatimah yang terlapisi oleh jilbab
"Iya, aku enggak akan marah dan kesal lagi..!"
"Nah gitu dong..!"
Addry tersenyum mendengarnya
"Kalau begitu sudah bolehkan kalau kita pulang..?" Fatimah pun langsung mengangguk
Untung saja tidak marah lagi kalau masih bisa gawat aku. ucap batinnya bersorak riang karena sangat mudah membuat istrinya memaafkan kesalahannya
"Maklum saja punya suami setampan ini..!" lanjutnya dengan samar-samar, tapi Fatimah dapat mendengarnya
__ADS_1
"Apa yang Mas bilang!"
*****
"Ah! Sepi sekali kalau Mas Azmi enggak ada di rumah..!" ucap seorang wanita hamil yang sangat bosan. Dirinya hanya bisa tiduran saja tanpa bisa keluar rumah karena Azmi sudah melarangnya untuk kemana-mana. Tanpa suaminya itu
"Jadi, aku harus apa ya.! Arghh, Fatimah enak dirinya jalan-jalan sama suaminya, sedangkan aku hanya.." dia terdiam melihat sekeliling yang hanya menampilkan hamparan luas perkebunan dan kolam renang saja
"Mas Azmi sih kerja terus, coba sekali-kali bolos..!" ucapnya selalu saja menyalahkan Azmi
Di kantor
"Dasar, ini pasti ulah orang iseng. Lihat bersin ku saja tak bisa berhenti karenanya..!"
******
Dimalam hari yang begitu indah, bagi semua orang waktu dimalam hari itu adalah waktu bagi keluarganya. Sama seperti sekarang, keluarga kecil Addry
Ketiganya sangat asik bermain di depan televisi, habis melaksanakan shalat Magrib tadi. Mereka memilih bermain dulu sejenak di ruang keluarga
"Maaf Tuan, ini sudah jam setengah tujuh. Semua makanan telah siap di atas meja makan..!" ucap Bibi Sum kepada tiga orang yang ada di depannya itu
__ADS_1
"Ah! Iya BI, terima kasih. Sebentar lagi kami makan..!" jawab Fatimah sembari tersenyum, sedangkan Addry masih saja melucu pada anak sulungnya itu
"Baiklah Bu..!"
Setelah Bibi Sum pergi, Addry mulai membujuk anaknya untuk segera makan, tapi sepertinya Shakinah sangat betah dengan kehangatan keluarganya. Dapat terlihat bahwa dia sangat enggan menerima gendongan sang Ayah
"Ayo lah anak Ayah. Kita makan dulu ya! Nanti main lagi di sini..!" Bujuknya
"Iya Nak, kasian Bibi Sum. Masa kita belum juga makan! Ayo kita makan dulu ya.!"
Akhirnya, putri sulung mereka pun menerimanya dan mau di bawa ke ruang makan
"Ayo BI, kita sama-sama makan yuk!.." ajak Fatimah pada asisten rumah tangganya itu
"Iya Bu, tapi bibi nanti saja makannya..!" tolak Bibi tak enak hati pada ketiga orang yang ada di hadapannya
"BI, bibi masih saja suka sungkan pada kami. Padahal Bibi itu sudah lama bekerja dengan kami, jangan menganggap kami sebagai majikan BI, tapi anggaplah kami sebagai keluarga bibi juga.." ujar Fatimah dengan lembut
"Mari Bi.." Fatimah membalikan Shakinah pada Addry dan dia berjalan menghampiri Bibi dan menuntun wanita paru baya itu untuk segera duduk
Kini malam itu mereka makan bersama, Bibi Sum sangat senang karena selalu diperlakukan dengan sangat baik pada Addry dan Fatimah, jika saja dulu tuannya itu jadi berpisah. Tidak dapat dibayangkan dia akan mendapatkan majikan baru. Mungkin saja ganas atau bagaimana tak tau. Itulah yang memenuhi pikiran Bibi Sum saat itu
__ADS_1