
“Kita belanjanya di super market kan Fati..?” ucap Addry sambil menoleh kearah Fatimah
“Enggak mas, kita belanjanya ke pasar aja!..”
“Ya udah kalau gitu..” mobil mereka pun memasuki area pasar. Setelah mobil terpakir, Addry dan Fatimah pun keluar dari mobil tersebut
“Kau yakin mau belanja disini Fati..?” Addry merasa agak jijik sebenarnya, apa lagi melihat keadaan pasar yang becek dan ramai dengan para pembeli
“Iya mas, emangnya kenapa..?”
“Ah! Enggak papa kok..”
“Ya sudah, ayo masuk mas..” Fatimah berjalan terlebih dahulu, tapi karena merasa seperti tak diikuti. Fatimah pun menoleh ternyata….
“Astagfirullah..”Fatimah hanya geleng geleng kepala seraya berjalan mendekati Addry lagi
“Mas kenapa sih, masih saja disini..?”
“Ah! Tidak Fati. Ayo-ayo kita masuk..” Addry langsung berjalan terlebih dahulu, tetapi tak lama kemudian….
“Fati, kau saja yang dulu. Soalnya kan aku enggak tau dimana letak letaknya..”
“Baiklah mas..” mereka pun langsung masuk dan berbelanja untuk perlengkapan dapur
“Mas, kita makan dulu di sana. Mau enggak…?” ucap Fatimah menunjuk kearah warung bakso yang masih berada di area pasar yang mereka datangi tadi
“Aku terserah kau sajalah…” sebenarnya dalam hati Addry ia sebenarnya agak merasa kurang nyaman. Tapi nggak mungkin ia mengatakan kepada Fatimah. Bisa-bisa mati gaya dia, masa kalah dengan Fatimah yang merupakan seorang perempuan. Mereka pun duduk ditempat duduk yang telah di sediakan
“Taruh di situ saja mas..” Addry pun langsung menurunkan belanjaan mereka tadi. Addry berfikir bagaimana cara Fatimah membawa belanjaan untuk rumah tangga mereka. Selama beberapa bulan terakhir. Sedangkan Addry saja merasa capek membawa belanjaan, berkeliling dan mabuk dengan manusia yang padat di pasar tadi
“Mau pesan apa neng dan mas nya..??” ucap penjual bakso
__ADS_1
“Kami pesan bakso sama teh manis untuk minumnya pak..”
“Oke neng, tunggu sebentar ya!..”
“Iya pak…”
“Ini neng dan mas nya dimakan!..” ucap sang penjual dengan ramah. Fatimah pun membalasnya hanya dengan tersenyum sedangkan Addry. Ia masih melihat penampilan bakso tanpa mau mencicipinya
“Bismillahirrahmanirrahim… emm enak, mas enak nggak..?” ucap Fatimah tanpa menoleh kearah Addry. Tapi karena tak ada jawaban. Fatimah melihat ke samping. Ternyata suaminya tak memakan bakso hanya melihatnya saja
“Mas! Kamu kenapa sih ngelamun dari tadi. Nggak baik mas..”
“Maaf Fati, soalnya aku nggak pernah makan-makanan seperti ini..” ucap Addry menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Karena merasa malu kepada Fatimah
“Ha ha ha… kamu ini lucu sekali mas. Benar kamu enggak pernah nyoba ini?..” Fatimah pun tertawa lepas melihat wajah Addry yang malu
Cantik sekali.. malah kalau dilihat-lihat lebih cantikan Fatimah dari pada Bianca. Eh aku ngomong apa sih.. ucap batinnya Addry
“Tuh kan ngelamun lagi..”
“Bagaimana mas..?” tapi Addry masih memegang tangan Fatimah dan tidak menjawab pertanyaan dari Fatimah
“Ah! Maaf mas, Fati kelewatan..” Fatimah pun langsung menundukan kepala. Malu karena terbawa suasana. Tapi kanapa salahnya, Addry adalah suaminya pikir Fatimah. Tapi tidak bagi Addry mereka hanya sebagai teman tidak
lebih
“Ha ha ha.. enggak papa Fati, kau ini lucu sekali..” ucap Addry mencairkan suasana
Kenapa dengan jantung ku. Seakan mau copot saja!..batinnya Addry
Setelah pulang dari pasar dan makan bakso tadi. Addry dan Fatimah telah kembali ke rumah. Mereka telah kembali ke kamar masing-masing. Fatimah langsung menuju kamar mandi dan ia akan melaksanakan shalat dzuhur
__ADS_1
Ya Allah, terima kasih Engkau telah membuat hati suami hamba. Menerima hamba walaupun sekarang hanya sebatas teman. Tapi hamba yakin bahwa rencanaMu adalah yang paling baik. Hanya kepadaMu lah berserah diri. Aamiinn……..
Kenapa dengan jantungku, kenapa sekarang aku merasa lebih nyaman di dekat Fatimah dan juga sekarang setiap di dekatnya jantung berdetak lebih cepat. Apa aku jatuh cinta kepadanya. Tapi tidak-tidak, aku hanya mencintai Bianca. Bianca lah merupakan cinta pertama dan terakhir ku..Addry pun langsung menuju kamar mandi, ia akan mandi dengan air dingin untuk membuat pemikiran yang membuatnya pusing tersebut akan hilang
Fatimah telah berada di dapur. Ia sedang sibuk kesana kemari setelah selesai melaksanakan shalat Ashar. Hari ini ia akan memasak sayur lodeh, sambal dan gorengan ayam goreng. Fatimah asik dengan peralatan dapur
“Kau masak apa Fati..?” Addry pun mengambil minuman didalam kulkas dan meminumnya hingga tandas. Lantas saja Fatimah mengucap karena kaget dengan kedatangan Addry di dapur
“Masak sayur lodeh, sambal dan gorengan ayam goreng mas..” ucap Fatimah hanya menoleh sebentar kearah suaminya. Setelah itu ia memfokuskan lagi pandangannya kearah masakan lodeh sayur tadi
“Apa yang bisa aku bantu ..?”
“Mas serius..?” bukannya menjawab Fatimah malah member pertanyaan
“Iya, emang tampang aku kayak pembohong ya..?” Addry pun melototkan matanya, tidak suka dengan ucapan Fatimah. Seolah olah ia tidak bisa apa-apa. Tapi sebenarnya memang benar ha ha ha
“Kalau gitu Fati minta tolong iris bawang merah dan bawang putih sama daun bawang juga mas..” Addry pun tak menjawab. Ia langsung mengambil apa yang dibilang oleh Fatimah tadi
Setelah selesai, Fatimah langsung mematikan kompornya. Ia ingin membuat adonan untuk ayam goreng tadi. Selesai Fatimah langsung menggorengnya
“Sudah belum mas..?”
“Belum Fati, ini ni bawangnya jahat sekali. Masa mata aku sudah berair gini..” Addry langsung membalikan badannya agar menghadap kearah Fatimah
“Ya Allah mas, jangan di kucek. Nanti tambah perih..” Fatimah pun membawa Addry ke wastafel untuk mencuci mukanya Addry
“Sudah mendingan kan?. Ya sudah mas, tunggu saja di meja makan. Biar Fati saja yang menyelesaikannya..” Addry pun menurut saja perkataannya Fatimah. Setelah selesai acara memasaknya. Fatimah langsung menanyai Addry
“Mas, mau makan sekarang atau belum..?”
“Belum nanti saja, aku mau nunggu Bianca pulang dulu..” Fatimah kembali merasakan sakit hatinya atas ucapan suaminya yang masih setia menunggu Bianca pulang. Padahal tadi Fatimah mendengar bahwa perutnya Addry sudah berbunyi, menandakan bahwa Addry telah lapar
__ADS_1
“Tapi kan mas, sudah sangat lapar..”
“Enggak Fati, kalau kau mau makan dulu. Nggak papa kok aku nunggu Bianca. Ya sudah, aku keatas dulu ya…” tanpa menunggu jawaban dari Fatimah. Addry pun langsung pergi