
Sudah seminggu semenjak kejadian, dimana Addry yang memberitahukan kepada Fatimah bahwa ia akan menikah lagi. Semenjak kejadian itu pula Addry sangat jarang pulang kerumah, ia lebih sering menghabiskan waktunya hanya untuk bermalam di apertemennya Bianca. Fatimah merasa sangat sedih, ingin sekali ia menghubungi sang suami. Tapi apa daya nomor hp nya saja tak punya, ia hanya berdiam diri di rumah kalau tidak ke kampusnya hanya untuk bimbingan skiripsi
Tapi untuk hari Fatimah tak ada kegiatan jadi ia memutuskan untuk dirumah saja. Menunggu siapa tau suaminya itu pulang. Benar saja baru ia memikirkan kepulangan suaminya. Terdengar bunyi mesin mobil yang baru saja
masuk di perkarangan rumah. Lantas saja Fatimah pun berlari untuk membukakan pintu, agar orang itu bisa masuk
“Assalamuallaikum mas…” Fatimah berbinar melihat kedatangan suaminya ini. Tapi ia tak tau siapa perempuan yang bergelayut manja dilengan suaminya ini
“Hemmm..” setelah mengucapkan itu Addry langsung saja masuk duluan kekamarnya yang terletak dilantai atas, sedangkan Bianca masih berdiri didepan Fatimah yang masih dalam keadaan memandangi punggung suaminya yang hampir tak terlihat lagi
“Oh jadi ini istri yang tak diakui oleh mas Addry. Pantas saja jauh dari tipenya hehh..” ucap Bianca dengan memandang sinis kearah Fatimah “Oh iya, kita belum kenalan ya. Perkenalkan saya Bianca, istri yang dicintai dan disayangi oleh mas Addry..” sambil tersenyum mengejek dan berlalu pergi setelah mengucapkan perkataan yang menyakiti hati Fatimah
Setelah mengetahui bahwa Bianca itu adalah madunya. Fatimah hanya berighstifar didalam hati agar hatinya lebih lega walaupun dalam yang menyakitkan. Ia pun segera kebelakang rumah dimana terletaknya taman yang indah disertai kupu kupu yang menghampiri bunga. Ia memilih duduk di tepi kolam. Fatimah tersenyum getir, membayangkan apa yang akan terjadi kepada rumah tangganya
Nggak Fatimah, kamu nggak boleh mundur. Allah sangat membenci perceraian. Kamu harus kuat. Sampai takdir mengatakan bahwa kamu harus berhenti. Maka disitulah kamu harus berhenti untuk memperjuangkannya. Sekali lagi pokoknya kamu harus kuat. Tenang ada Allah yang selalu didekat kita.. ucap Fatimah didalam hati. Ia langsung saja mengelap air mata yang berjatuhan tanpa seizinya
__ADS_1
Berasa sudah tenang Fatimah pun melihat jam di tangannya, ternyata jam sudah menunjukan waktu untuk dzuhur. Ia langsung berdiri dan berjalan menuju kamarnya untuk melaksanakan kewajibanya. Sudah selesai menjalankan
kewajibanya, ia keluar dari kamarnya, berjalan menuju dapur untuk menyiapakan makanan untuk mereka bertiga makan
Tok tok….
“Mas sama mbak Bianca, mari makan. Hari sudah siang!..”
“Iya…” ucap Bianca sambil membukakan pintu kamarnya
Setelah kepergian Fatimah, Bianca langsung menutup pintu kamarnya bertepatan Addry yang baru keluar dari kamar mandinya. Addry hanya memakai handuknya sebatas pinggang dan menampilkan tubuh yang kekar serta rambut yang masih basah menambah nilai plus untuk ketampanan seorang Addry
“Siapa yang..?”
“Oh itu, tadi Fatimah. Ngajak kita untuk makan siang di bawah mas..”
__ADS_1
Addry tak menjawab perkataan dari Bianca tadi, ia lebih memilih menuju tempat pakaiannya untuk mengambil pakaian untuk ia pakai. Biasanya Fatimah selalu memenuhi kebutuhannya. Sekarang sudah beda Fatimah tidak akan melayani Addry kalau Bianca ada
Didalam kamarnya Fatimah, seorang gadis menangis di depan pintu kamarnya sambil memukul dadanya. Ia tau apa yang terjadi antara Bianca dan Addry tadi. Ia melihat jelas Bianca yang hanya memakai bathrobe dan Addry yang memakai handuk berjalan pergi menuju kamar mandi. Dapat Fatimah pastikan bahwa mereka habis melakukannya
Sudah Fatimah kamu harus kuat, mereka sudah menikah. Jadi sewajar wajarnya saja kalau mereka melakukannya kan!. Kamu harus yakin bahwa rencana Allah itu lebih indah dari harapan manusia..
Setelah tenang, Fatimah langsung menghapus air mata dan berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya. Sebelum keluar Fatimah tak lupa memakai bedak my baby dan lip gloss agar wajahnya tidak terlalu Nampak kalau ia habis nangis
Addry dan Bianca turun dengan keadaan yang sama sama habis mandi dan keramas rambut. Serta, Bianca yang masih bergelayut manja dilenganya Addry. Seakan ia menunjukkan kemesraanya kepada Fatimah, agar Fatimah tau bahwa yang dicintai oleh Addry itu hanyalah dirinya seorang
Sakit!
Perih!
Rasanya ingin sekali Fatimah berlari untuk memisakan mereka berdua. Tapi Fatimah masih berpikiran waras. Ia tak ingin menambah kebencian suaminya kepada dia. Jadi Fatimah lebih memilih sabar, biarlah dia yang merasakan sakit, melihat suaminya bermesraan kepada wanita lain. Meskipun status wanita adalah istri suaminya pula. Tapi ia masih tak rela. Hati wanita yang mana, yang mau berbagi suami
__ADS_1