
Tok tok...
Sudah beberapa kali Dinda mengetuk pintu rumah ini. Tapi tak juga ada jawaban. Padahal pintunya terbuka. Mau masuk tapi nggak sopan pikir Dinda
"Ketuk sekali lagi deh.."
Benar saja setelah diketuk lagi. Orang rumah itu pun keluar
"Ya neng cari siapa..?" tanya wanita paru baya
"Eh! Ini Bu saya cari pak Azmi.." tanya dengan sopan
"Mari neng masuk,.."
Bibi itu pun mengajak Dinda masuk dan membawanya duduk di sofa
"Sebentar ya neng. Bibi panggil tuan Azmi dulu.." pamit Bibi
"Iya BI, silahkan.."
Setelah Bibi tadi pergi. Dinda pun berjalan-jalan sedikit di dalam ruangan yang besar ini. Di sana dia melihat banyak sekali foto-foto yang terpajang. Satu foto yang sangat menarik di foto itu
"He he lucu sekali deh!" tawanya sendiri. Dinda langsung berjalan untuk duduk di sofa kembali. Karena tadi dia sempat mendengar langkah kaki yang mendekatinya
"Iya ada apa Din..?" tanya Azmi setelah duduk di sofa
"Saya turut berduka cita pak. Atas yang menimpa bapak.." tulus dari hati
"Ah! Iya makasih.." mata Azmi kembali berkaca-kaca teringat kembali dengan Almarhum Mamanya
"Sudah kamu boleh pergi Din.." usir nya
Dinda merasa sedih melihat pria yang didepannya ini. Sosok yang selalu periang dan ceria kini menjadi sosok yang sangat menyedihkan
🍃
"Mas kita main ke rumah Mama yuk..!" ajak Fatimah
"Kita istirahat dulu dek. Dari tadi kita jalan-jalan terus. Besok-besok ya kita main ke sana.."
"Ya mas, aku kangen sama Mama dan Papa. Kalau Bunda kan baru main ke sana.." memelas kepada suaminya. Berharap di kabulkan
"Tapi ada syaratnya ya..!" mengedipkan matanya
"Iya-iya nanti ya mas.." Fatimah sudah tau apa yang di mau oleh sang suami
"Wah! Pintar banget. Tau apa yang mas mau.."
"Iyalah, kita nikah sudah 8 bulan lebih mas. Aku sudah tau semua sifat mu.."
"Iya deh mas kalah..!" ucap Addry mengalah
"Yasudah mas ayo..!" ajaknya menarik-narik tangan Addry
"Ya ampun dek. Kamu nggak beri mas waktu istirahat dulu.." keluhnya
"He he nanti aja mas. Pas di rumah Mama sama Papa nanti.. "
"Hufttt..." hanya helaan napas saja yang keluar
"BI, kami ke rumah Mama dulu.." pamitnya saat melihat Bibi Sum yang sibuk memotong ranting bunga yang mati
__ADS_1
"Ah! Iya non.." anggukannya
"Hati-hati non dan tuan.."
Mereka berdua pun melajukan mobil mengarah ke rumah sang mama
Tin tin.
Bunyi klakson mobil kepada sang penjaga gerbang
"Eh! Aden..." sapa pak satpam
"Iya Pak, Mama sama Papanya ada..?" sekedar basa-basi
"Ada Den, Ibu saja yang ada.." Addry langsung mengangguk
Setelah pintu gerbang terbuka. Addry langsung melajukan mobil untuk masuk kedalam perkarangan rumah
"Assalamualaikum..." ucap Fatimah saat membuka pintu
"Waalaikumsalam.." ucap Mama Mirna yang baru saja dari dapur
"Aduh! Kedatang anak Mama yang cantik ni!"
"Ah! Mama terlalu memuji.." tersenyum malu dan langsung memeluk tubuh sang Mama mertua
"Sebenarnya anak Mama itu aku atau istriku sih Ma..?" tanya Addry yang sejak tadi menyaksikan drama pertemuan mereka
"Ya ini dong anak Mama.." mencubit hidung Fatimah
"Iya kan Nak..?"
"Iya dong Ma.." jawabnya memanasi sang suami
"Bagaimana kabar calon cucu Mama nak..?" ucap Mama Mirna sambil mengelus perut Fatimah
"Alhamdulillah Ma, Baby nya baik .."
"Ah! Syukurlah.."
"Papa mana Ma..?" tanya Fatimah
"Oh tadi Papa ada urusan diluar.."
"Oh..." jawab Fatimah hanya ber 'oh'
Di Dalam Kamar
"Hufttt.."
Sudah beberapa kali Addry menghela napas. Dia masih memikirkan tentang mantan istrinya itu. Tapi bukan dalam artian cinta melainkan takut jika mantan istrinya itu akan melakukan apa-apa yang akan membahayakan keluarga kecilnya
"Ya Allah aku mohon kepada Engkau. Jauhkanlah segala hal yang akan akan membahayakan dan menimpah keluarga kecil kami. Aamiin"
🍃
"Pak..!" ucap Dinda menghampiri Azmi dan duduk dekat di sampingnya
"Iya Din.."
"Saya tau bapak terpukul. Karena ditinggal oleh orang yang sangat disayangi dan dicintai..."
__ADS_1
"Jadi sekarang bapak boleh kok. Mengeluarkan segala kekeluhan hati bapak kepada saya..." ucapnya dengan serius
"Sudah pak, jangan merasa tegar sendiri dan jangan merasa gengsi. Sekarang bapak boleh menangis sepuasnya.."
"Menangis itu boleh pak, apalagi ini.."
Belum sempat Dinda melanjutkannya. Azmi langsung refleks memeluk tubuh Dinda. Dinda pun kaget saat merasakan tubuh Azmi yang sedang memeluknya dan tubuh kekar ini bergetar. Dinda tau saat ini Azmi menangis ya walaupun tak ada suaranya
Dinda hanya bisa menepuk-nepuk bahu atasannya ini. Setelah merasa lega Azmi langsung melepaskan pelukannya
"Maaf Din, atas kelancangan ku.." mengusap air matanya yang masih tersisa di sudut mata
"Iya Pak .."
Akhirnya Azmi tak merasa sedih lagi. Entah apa didepan Dinda saja dia merasa tegar. Hanya dia dan Allah yang tau
"Eh! Pak kalau begitu saya balik ya..!"
"Sudah gelap ini.."
"Iya-iya Din, tunggu dulu. Saya ambil kunci mobil dulu..!" Saat Azmi mau beranjak dari sana. Dinda langsung buka suara
"Pak. Enggak usah, biar saya sendiri saja pulangnya. Enggak usah antar. Lagian kan saya bawah motor .." menunjuk kunci motor kepada Azmi
"Tapi kamu perempuan Din. Inikan sudah gelap..!"
"Enggak usah khawatir pak..." menampilkan senyum manis kepada Azmi
🍃
"Mas bangun yuk! .." sangat lembut membangunkan sang suami yang sangat terlelap tidurnya
"Mas..!" panggilnya sekali lagi
Fatimah tersenyum saat mendengar lenguhan dari sang suami. Addry langsung membuka mata dan duduk bersandar di sandaran ranjang
"Jam berapa dek..?" tanyanya sembari mengucek mata
"Sudah magrib mas.."
"Ya! Kenapa kamu nggak bangunkan mas dek..?" buru-buru bangkit dan langsung meninggalkan sang istri
Addry masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan langsung keluar menghampiri sang istri
"Gantengnya suamiku...!" ucapnya saat Addry menghampirinya dengan menggunakan sarung dan baju kokoh serta peci hitam melekat di atas kepalanya
Setelah 15 menit selesai shalat dan mengaji bersama selesai. Addry dan Fatimah kini keluar kamar mereka. Menuju dapur untuk makan malam bersama sang mertua
"Hai Mama.." ucap mereka dengan serempak
"Wah putri Mama..." langsung menarik kursi untuk diduduki sang menantu
"Ma jangan kayak gitu. Merasa nggak sopan Fatinya sama Mama .." merasa segan
"Sudah nak.." tersenyum
"Mama, aku cemburu tau.." cemberut
"Kamu manjanya sama Papa aja.." ucap Mama Mirna menunjuk Papanya Addry yang sedang sibuk melihat drama mereka
"Enak saja..." cueknya
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka berempat langsung tertawa sebelum makan. Makan malam pun berlangsung tak ada canda tawa seperti tadi. Hanya suara dentingan sendok saja yang terdengar