
Kini sepasang suami istri pergi ke salah satu pusat perbelanjaan yang mewah di kota
"Ngapain mas kita ke sini...?"
"Ya belanja lah dek.." Addry tertawa
"Iya mas, aku tau. Maksud aku mas mau beli apa kesini...?"
"Oh, bilang dari tadi dong..!"
"Ih mas, enggak pernah dianggap serius omongan orang. Selalu saja becanda..."
"Cuma ke kamu aja dek.." benarnya
"Iya mas kesini mau ada yang di beli.." terangnya karena Fatimah hanya diam saja
"Nanti kamu tau kok dek, sabar ya..!"
Hingga akhirnya, mereka berdua berhenti di salah satu toko muslimah. Seketika hati Fatimah langsung menghangat melihat perlakuan suaminya yang sibuk memilih berbagai macam gamis untuknya dan semua itu sesuai seleranya
"Kamu nggak mau milih sendiri dek..?" Addry bingung biasa separuh wanita pasti akan memilih sendiri keinginan mereka. Tapi istrinya hanya diam mengikutinya dan tak ada protestan sama sekali yang keluar dari mulut sang istri
"Enggak mas, malah yang di pilih oleh semuanya bagus.."
"Mas pintar sekali carinya.." pujinya untuk sang suami
"Ya iya dong, mas tau semua keinginan mu.." ucapnya dengan penuh percaya diri
Fatimah hanya memutar bola matanya dengan malas. Selalu jika ia memuji sang suami. Seketika sifat lebay sang suami muncul
Akhirnya, mereka berdua kini telah duduk cantik menunggu pesanan makanan yang di pesan tadi
"Dek kalau nanti anaknya perempuan mau kamu namai apa..?"
"Hem kalau aku sih yang penting memiliki arti yang bagus untuk mewakili sifatnya nanti mas..!"
"Oh.."
"Ah! Nanti saja mas, bahas nya. Pas menuju kelahiran.."
"Oke dek..."
Kini pesanan mereka telah sampai dan langsung mereka nikmati
🍃
Habis dari sholat Zuhur Dinda berjalan seorang diri untuk kembali keruang kerja. Tapi dia urungkan sebentar, karena mendengar semua para karyawan seperti sedang membicarakan sang atasan mereka
"Eh eh kalian tau nggak kalau ibunya pengacara pak Azmi meninggal dunia..."
Deg!
Serasa jantung Dinda terasa hampir copot mendengarnya
Apakah benar!
Masa iya!
Kenapa pak Azmi nggak bilang!
__ADS_1
berbagai macam pertanyaan yang dilontarkan Dinda di dalam hatinya
"Iya aku juga baru tau.." ucap B
"Aku liat postingan dari pak Dino.." ucap C
"Permisi, boleh saya bertanya.." ucapnya dengan sopan
"Iya mau tanya apa..." ucap mereka, mereka semua tau jika yang didepan ini adalah sekretaris pak Azmi
"Apakah benar ibu dari pak Azmi meninggal.."
"Emangnya mbak nggak tau gitu..?" mereka bingung, masa iya sekretaris pribadi pak Azmi nggak tau
"Enggak .."
"Iya mbak, sekitar sebelum Zuhur tadi..."
Ya Allah, aku berdosa telah beranggapan lain. Nyatanya kini pak Azmi terkena musibah. Maafkan saya pak...
Kini Dinda telah berada di ruang kerjanya. Nanti dia akan singgah ke rumah pak Azmi
🍃
"Mana anak ku..!" ucap wanita yang kini dalam keadaan kacau
Para suster, sibuk ingin menyuntikan obat penenang untuk sang pasien
"Kenapa dok..?" ucap pria itu yang baru saja sampai
"Oh bapak pacarnya pasien ini kan pak..?" ucap sang suster dengan hati-hati
"Iya..."
"Minggir kalian, dimana anakku.."
Pram langsung berlari, dia sudah tau. Jika Bianca telah ngamuk berarti dia sedang kambuh
"Sabar BI..." ucapnya menenangkan dan memeluk tubuh yang kini sangat kurus dari tubuh idealnya dulu
"Mana anakku Pram.." masih menangis, iya memang dulu dia tak mengharapkan anak itu. Dia hanya menganggap anak yang di kandungnya itu hanya sebagai alat untuk mengikat Addry. Tapi seiring berjalannya waktu, perasaan itu menjadi kasih sayang
"Anak kita sudah tenang BI..."
"Dia sudah bahagia..." lanjutnya
"TIDAK..."
"Akan ku balas. Semua orang yang menyebabkan anakku meninggal.." ucapnya sambil meronta-ronta
"Iya-iya BI, tapi kamu harus sembuh dulu ya..!"
Akhirnya, Bianca langsung terdiam. Disaat itulah seorang suster menyuntikan obat penenang. Tak lama kemudian tubuh Bianca langsung ambruk, untung saja ada Pram dengan sigap masih memeluk tubuhnya
"Jangan begini BI, aku nggak sanggup.." ucap Pram menitikkan air mata. Melihat kondisi sang kekasih yang begitu kacau
🍃
"Hufttt.." helaan napas Fatimah yang baru saja sampai rumah. Semenjak perutnya membesar dia sangat sering kecapean dan suka tidur
__ADS_1
"Capek ya dek?" tanya Addry yang juga baru duduk di dekat sang istri
"He'em, capek banget mas..." sambil meninju-ninju betisnya
"Sini biar mas pijitin.." mengambil Kaka Fatimah dan ingin meletakkannya di pangkuannya
"Enggak usah mas.." tolak Fatimah
"Sudah, adek nikmatin aja pijitan dari mas.."
Hingga akhirnya Fatimah diam menikmati pijitan sang suami. Benar kata suaminya. Pijitan dia sangat enak sekali. Hingga kesadaran Fatimah pun mulai melemah dan keluarlah dengukuran halus dari mulutnya
"Masya Allah Istriku, dikit-dikit tidur.." tertawa lucu melihat tingkah sang istri
🍃
Jam kerja telah usai. Sekarang ini Dinda bingung mau kemana secara dia tak tau dimana tempat rumah sang atasan. Karena lelah kerja dan lelah mencari. Dinda pun memberhentikan motornya di tepi jalan, tepat disana ada warung sembako
"Bu, beli air Aqua nya satu.." sambil memberikan uang 1 lembar berwarna merah
"Itu aja neng...?" tanya ibu warung
"Iya Bu.."
"Ini neng, kembaliannya 95 ribu.." memberikan kembaliannya kepada Dinda
"Makasih ya Bu.."
"Eh, sama-sama neng.."
"Haduh kemana lagi aku jalan. Percuma juga kan ke sana kemari kalau nggak tau tempatnya.." menggerutu sendiri, di tempat motor terparkir tadi
"Itu bukannya Dinda ya..!" ucap Pria yang ada di mobil
"Iya benar, aku nggak salah. Kenapa dia kayak orang kesal gitu..!" bingung, hampiri atau tidak itulah dalam pikirannya. Hingga akhirnya langkah sang pria tadi pun mendekati Dinda
"Hai Din.." sapanya
"Eh, mas Dino.." ucap Dinda kaget. Iya Dinda sudah kenal dengan Dino waktu dia dan Fatimah berada di restoran dan waktu itulah Azmi membawa Dino untuk menghampiri mereka dan Dino mengajak mereka berkenalan. Lagian juga Dinda sering ketemu di kantor. Karena tak jarang Dino main ke sana
"Kamu ngapain disini Din, muka kusut juga..!" ledeknya
"Aku itu kesal mas, habisnya pak Azmi nggak bilang-bilang kalau ia lagi kena musibah.." curahannya
"Emang kalau dia lagi kena musibah itu harus ngomong dulu ke kamu.." sambil duduk di dekat Dinda
Dinda berpikir saat mendengar perkataan Dino.
Iya juga ya, aku juga bukan siapa-siapa pak Azmi. Tapi kan aku sekretarisnya. Harusnya tau gitu. Masih membelah diri
"Tapi mas, aku ini sekretarisnya. Masa iya kalau orang bertanya pak Azmi kemana. Terus aku mau bilang apa.."
"Din, setiap orang itu punya privasi masing-masing. Wajar kalau dia nggak ngomong apa-apa ke kamu.."
Benar juga kata mas Dino. Kenapa aku haru marah-marah seakan-akan aku ini pacar pak Azmi aja. batinnya sambil tersenyum
"Kamu kerasukan ya.." ucap Dino mulai menjauh, dia bergidik ngeri. Perempuan didekatnya ini tadi marah-marah sekarang berubah senyum-senyum sendiri
"Oh nggak mas, mas mau nggak anterin aku kerumahnya Pak Azmi..?" tanyanya
__ADS_1
"Waduh aku bukannya nggak mau Din, Tapi aku lagi buru-buru. Ada hal penting yang harus ku kerjakan.." wajah Dinda kembali cemberut
"Tapi ku kasih alamatnya saja ya.."