Kesabaran Istri Yang Tersakiti

Kesabaran Istri Yang Tersakiti
BAB 85 "Berpikir Matang-matang"


__ADS_3

...🌻 Happy Reading 🌻...


Sudah dua hari Fatimah pulang dari rumah sakit, kini dia mulai melakukan kegiatan-kegiatan yang menurutnya baik untuk dia pasca operasi. Wanita itu duduk di sebuah kursi taman belakang


Sendiri, ibu satu anak itu hanya membawa benang dan kain. Seperti sedang menyulam sesuatu dan di temani oleh alunan musik islami menambah kesejukan hati seorang Fatimah


Wanita itu sudah memikirkan matang-matang. Bahwa dia akan pulang nanti sore ke rumah suaminya karena sudah dua hari dia tak pulang. Dia akan berdamai dengan masa lalu dan tak akan mengungkitnya


Dia tak tega jika suaminya terlantar di luar sana. Fatimah akan berusaha memperbaiki hubungan ini kembali


Bismillahirrahmanirrahim


Hanya kata itulah yang dia awali untuk semua pekerjaan atau apapun yang ingin dia lakukan


"Bun, aku hari ini mau ke rumah sakit ya !" menghampiri sang Bunda yang sibuk membuat kue puding karena cocok sekali dengan hari yang begitu panas seperti hari ini


"Sendiri ?" tanya Bunda yang sibuk ke sana kemari


"Iya Bun, sekalian aku mau pulang ke rumah Mas Addry !" lantas sang Bunda langsung memberhentikan langkahnya dan menatap wajah anak semata wayangnya


"Coba kamu pikirkan terlebih dahulu Nak. Apakah keputusanmu sudah benar ?" ujar Bunda membuat kening Fatimah berkerut


"Fatimah sudah yakin Bunda karena sebagai seorang istri. Aku harus selalu mendampingi suamiku Bun. Ini sudah dua hari aku di sini !"


"Ya sudah, Bunda hanya bisa merestui apa yang akan kamu lakukan asal semua itu tak akan menyakitimu di kemudian hari !"


"Kok Bunda ngomong kayak gitu sih !" rengek Fatimah, Bunda Lisa tersenyum melihat anaknya seperti takut akan perkataannya

__ADS_1


*


*


*


Jam sudah menunjuk pukul dua siang, Fatimah kini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Rasanya naluri seorang ibu sangat kental membuatnya sepanjang perjalanan tersenyum tak sabar untuk bertemu dengan anaknya yang sudah di beri nama Shakina Barack


"Sudah sampai Neng !" seru sang supir yang sudah di perintahkan oleh Ayahnya untuk mengantar Fatimah pergi ke rumah sakit


"Wah! Cepat sekali Pak Toto. Enggak terasa ya !"


Fatimah langsung membuka pintu mobil dan keluar dari dalam sana


"Terima kasih ya Pak,"


"Kalau begitu Saya pamit pulang ya Neng," pamitnya Pak Toto


"Iya Pak, hati-hati ya !" Pak Toto hanya menganggukkan kepalanya dan langsung tancap gas pergi dari halaman rumah sakit


Kaki Fatimah menuntunnya terlebih dahulu ke ruangan sang Dokter yang khusus merawat bayinya


Tok....,


Tok....,


"Iya masuk !"

__ADS_1


Fatimah masuk dan tersenyum kepada Dokter Sintia yang bertugas menjaga anaknya dan dibalas juga oleh sang Dokter tak kalah ramah dari Fatimah


"Dok, apakah saya boleh bertanya ?"


"Iya boleh, ada apa Bu ?" menjawab dengan pertanyaan kembali


"Bagaimana perkembangan anak saya Dok ?"


Fatimah tersenyum rasanya tak sabar untuk segera berkumpul dengan keluarga kecil yang baru mereka bangun


Melihat anaknya sudah banyak perubahan bahkan sangat banyak menambah keyakinan Fatimah untuk kembali dengan Addry


"Nak, Bunda akan melakukan apa saja yang akan membuat kamu bahagia. Walaupun Bunda harus sakit merasakannya,"


"Kamu adalah harta yang paling beharga buat Bunda. Bagi Bunda tak ada yang lebih penting daripada dirimu anakku,"


"Bunda senang akhirnya anak Bunda sebentar lagi akan sembuh dan dapat berkumpul dengan Bunda dan Ayah,"


"Sehat terus anak Bunda, matahari Bunda dan nadinya Bunda,"


"Kamu adalah anak yang kuat Nak,"


"Bunda yakin itu !"


Sepanjang perjalanan senyum Fatimah selalu merekah dengan menenteng sebuah kantong. Rasanya tak sabar untuk menggendong sang anak dan membawanya pergi untuk jalan-jalan


Ucapan dari Dokter tadi masih terngiang-ngiang di telinganya. Dia merasa sangat bersyukur dengan semuanya apa yang sudah terjadi

__ADS_1


__ADS_2